heboh karena ketjurian makanan jang saharusnja dipersembahkan untuk Tiek wan itu — — hehehehe! Nah, kau makanlah!”
Tetapi Ho Ho telah menggelengkan kepalanja dengan tjepat.
„Aku tidak mau memakan makanan dari hasil tjurian!” kata Ho Ho. „Tjaranja kau mengambil makanan untuk mendjukkan kau bukan manusia baik-baik mana ada aturan dengan seenaknja meng ambil milik orang lain?”
Mendengar perkataan Ho Ho, Peng Bin Koay hiap jadi melengak.
„Apa?” tanjanja seperti tidak mendengar perkataan Ho Ho, mukanja djuga djadi berubah muram.
„Aku tidak mau memakan barang tjurianmu itu!” sahut Ho Ho „Makanlah oleh kau sadja!”
Muka Peng Biu Koay-hiap djadi tambah berubah tidak enak, namun achirnja dia tertawa gelak gelak.
„Ha ha ha ha — — ingin mendjadi seorang Ho han (gagah) kau pura-pura jang tidak mau memakan hasil tjurian?! Hmmm — — aku sudah bisa melakukan pekerjaan ini selama belasan tahun! Setiap aku lapar, maka aku akan mengambil makanan milik orang jang mana sadja hitung hitung aku meminijamnja, kalau aku bisa memperoleh redjeki, aku akan mengembalikan dan menggantikanmja!”
L.M.Arwah-2.
55