Halaman:Lawah-Lawah Merah (1875).pdf/8

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca


jang baroe 15 tahon oemoernja, dengan lagi besar matanja, dimana kaliatan salamanja seperti orang kaget-kaget dan pemaloean, lagi dengan tertawa mesem sapoetar moeloetnja.

Sedang dia lagi memandang itoe barang-barang dengan kahejranan maka datang orang kasi ingat padanja jang pesta itoe soedah abis dan komedian dari pada itoe dia dapat dengar itoe soeara ketok pintoe tiga kali pada membri taoe kadatangan lakinja, bagitoepoen djatolah dia diatas tampat tidoernja oleh kalemahan badannja dari sebab katakoetan, dari dalam mana dia besok paginja baroe di kasi bangoen oleh satoe soeara jang hejbat dari dalam kebon.
Dengan terkedjoet djoega dia soedah bangoen dari tampat tidoernja itoe dan pasang koeping akan mendengar itoe bertriakan orang jang soesah, jang berikoet-ikoet satoe dengan lain maka disitoe dia soedah dengar orang ada seboet namanja.
Dengan sigra itoe soeara datang lebi dekat ka kamarnja, dan dia dapat dengar ada orang djalan di loeroeng (gang) dari roema itoe serta sama sekali pintoe kamarnja terboeka dan satoe prampoean memanggil padanja dengan moeka jang bingoeng, katanja:
Hej anak! Apatah angkaoe soedah berboeat pada anakkoe jang tjilaka bagini?
Itoe prampoean jang memanggil ada iboe dari Lin.
Samoea hamba-hamba didalam itoe roema soedah mengikoetkan padanja sampe di pintoe kamar penganten karna dia takoet masoek disitoe.
Liou Siou lantas maoe minta toeloengan dari lakinja.
Tetapi tampat tidoer itoe soedah kosong.
Anakkoe! bitjara itoe iboe dengan menangis. —— Anakkoe!
Itoe prampoean moeda tiada mengarti satoe apa dari itoe tangisan tetapi serta dia dapat kaget maka dia lantas plok dengan minta ampoen kapada njonja Lin itoe jang lagi menangis.
Njonja Lin tiada lihat lagi prampoean itoe, matanja jang soeda djadi liar memandangkan diatas tampat tidoer itoe sadja, moeloetnja rasa terkantjing dan tangannja mamegang selimoet dan bantal soetra poeti itoe jang koesoet dan separo ada tergantoeng ka oebin atas mana di liat njata tanda talapakan tangan besar jang penoe dengan darah, sahingga peti barang-barang permata itoe soeda antjoer dan kosong ada diatas tana.
Segala hamba-hamba itoe tinggal berdiri tertjengang seperti takoet tjampoer bitjara didalam itoe tangisan Liou Siou dan mertoeanja prampoean
Sama sekali prampoean moeda itoe berasa satoe tangan jang memegang dengan kakrasan padanja maka dia angkat matanja meliat bapa dari lakinja, soedagar itoe jang di seboet Lin djoega.
Dia itoe menanja dengan soeara goemetar dari sebab maranja dan doeka tjita: Apa angkaoe soeda berboeat pada anakkoe?
Maka Liou Siou banting kaki sambil berkata: saija tiada taoe apa-apa —— saija kira jang dia ada tidoer di sabelakoe. Apatah angkaoe maoe dari padakoe?
Soedagar itoe berkata: Apa akoe maoe, bangsat! Apa? angkaoe brani tanja itoe. Angkaoe haroes misti taoe!
Maka dia angkat mantoenja prampoean itoe (liat ini gambar) dan pikoel seperti bagimana di boeat pada satoe anak ketjil.
Komediannja berdjalanlah ladjoe, pada satenga djalan dari kebon lewat loeroeng itoe, datanglah dengan pikoelannja itoe pada satoe oetan jang raoat di sabela satoe djalanan ketjil dan disitoe dia taro itoe prampoean moeda sambil berkata:
Liat disini, orang tjilaka, apa angkaoe poenja pembantoe dan angkaoe sama-sama soeda berboeat pada anakkoe, jang sabidji-bidji adanja, padanja jang ada angkaoe poenja toean dan laki.
Lin jang masi moeda itoe ada terloendjoer disitoe dengan mandi darah dan loeka troes kadalam hati.

Pada satoe tanda di pinggir oetan itoe boleh di liat