memimpin armada laut tempur untuk menghadapi armada Portugis di perairan Selat Malaka pada tahun 1551. Walaupun serangan Adipati Unus ini gagal, namun nama beliau tetap tercatat "sebagai pejuang yang berusaha untuk menentang dan berusaha meniadakan kekuasaan Portugis di tanah air kita. Sebagai umat kita semua diwajibkan untuk berusaha sejauh kemampuan yang ada. Kemudian ketentuan berada pada Allah Yang Maha Kuasa. Kerajaan Demak lalu dipimpin oleh Raden Trenggono, sesudah Adipati Unus wafat.
Pada zaman inilah kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya yang cemerlang pada berbagai kehidupan. Ditinjau dari segi wilayah, maka kekuasaan Demak memang luas, sampai-sampai daerah di Jawa Barat seperti pantai Sunda Kelapa, Banten dan Cirebon masuk ke dalam pengaruh kekuasaan Demak. Tenaga pendorong yang utama dari keberhasilan ini ialah hadirnya tokoh Falahehan atau Fatahillah. Oleh sementara ahli sejarah Fatahillah ini dipandang sebagai Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di Cirebon. Sedangkan versi lain memandang Fatahillah itu sama dengan Syarif Hidayatullah. Lepas dari pandangan itu, sudah jelas Fatahillah itu seorang tokoh sejarah yang penting dan besar peranannya bagi bangsa Indonesia.
Tetapi sesudah Sultan Trenggono wafat, kerajaan Demak menjadi mundur. Terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga Raja. Mereka itu memperebutkan tahta untuk menjadi raja Demak. Maka terjadilah peperangan antara Aria Penangsang (Aria Jipang) melawan Raden Adiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu putera Ki Kebo Kenanga, Bupati Pajang. Rupanya dalam perang ini Aria Penangsang menjadi pihak yang kalah. Perlu diketahui, bahwa dalam peperangan ini Raden Wijaya membawa perubahan politik bagi Demak. Pusat kekuasaan dipindah dari daerah pantai Demak ke Pajang yang terletak di pedalaman, dan mengangkat dirinya menjadi Sultan Pajang. Dibandingkan dengan kerajaan Demak pada zaman nya Sultan Trenggono, maka kerajaan Pajang ini hanya kecil saja, karena Banten, Sunda Kelapa, atau Jayakarta dan Cirebon, ketika terjadi keributan politik di Demak, segera melepaskan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri.
Sehubungan dengan sejarah Yogyakarta, maka tidak boleh dilupakan peranan Kyai Gede Pemanahan. Karena Kyai Gede Pe-