dilakukan dan disetujui menurut sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan takhyul ialah kepercayaan terhadap yang serba khayal, seperti bayangan, fantasi, gagasan khayal yang menguasai seluruh jiwa seorang manusia atau kelompok. Takhyul menyebabkan manusia selalu hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran, serta menyebabkan berbagai jenis penyakit atau gangguan jiwa. Takhyul sendiri mengakui, bahwa segala bayangan, khayalan itu merupakan suatu kebenaran. Dan akhirnya manusia akan menyerahkan diri karena rasa takut dan khawatir. Dan syirik mengandung arti mempersekutukan Tuhan Yang Maha Esa. Baik takhyul, maupun kufarat dan syirik, menunjukkan tanda-tanda kelemahan.
Pada jaman itu kelihatan bahwa di mana-mana cahaya Islam itu pudar. Itu disebabkan karena sikap dan perbuatan umat Islam sendiri yang jauh dari tuntunan yang sebenarnya. Rupanya sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak termasuk ajaran agama Islam bercampur di dalamnya; hal-hal yang kadang-kadang malah bertentangan sehingga merupakan suatu yang keruh. Dan umat Islam sendiri waktu itu seperti tidak lagi memiliki daya vitalitas. Masyarakat pemeluk Islam hanya menjadikan agama itu sebagai kepercayaan hidup yang diwariskan dari nenek moyangnya secara turun temurun. Tetapi agama Islam tidak menjadi keyakinan hidup masyarakat yang mendorongnya kepada beramal. Bahkan makin lama terasa makin jauh menyimpang tata cara hidup bermasyarakat dari tuntutan agama Islam. Ajaran Islam yang murni tidak lagi menjiwai masyarakat dalam segi kehidupan mereka. Sebaliknya masyarakat Islam sendiri telah tenggelam dalam alam konservatisme, formalisme dan tradisionalisme belaka tanpa menyadari bahwa hal-hal serupa itu menyebabkan kelemahan dan kemunduran.
Kitab suci Al Qur'an tidak lagi menjadi pedoman ataupun sinar penuntun dalam kehidupan bermasyarakat Islam di Indonesia. Ajaran Islam tidak membebaskan pada jiwa masyarakat. Hal itu dikarenakan umat Islam mampu menafsirkan agama Islam dengan pikiran kuno dan kolot, tidak lagi serasi dengan kemajuan jaman. Akibatnya ajaran Islam menjadi dogma yang mati.
22