ngan kebersihan lahiriah. Di sementara kalangan kadang-kadang kelihatan bahwa antara kedua pengertian itu tidak terdapat keserasian. Orang-orang menganggap bahwa apapun yang berhu- bungan dengan kehidupan keagamaan adalah suci. Antara lain hal-hal seperti sholat, wudlu, pakaian, suasana mesjid atau langgar, kolam untuk mengambil air wudlu dsb. adalah semestinya sudah suci. Tetapi seringkali orang melihat kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan pengertian suci itu sendiri. Seperti misalnya, orang pergi ke mesjid dengan kurang memperhatikan kebersihan atau kerapian pakaiannya. Suasana tempat ibadah yang tidak terpelihara. Kolam air wudlu yang jauh dari persyaratan kesehatan modern. Hal-hal serupa itu terjadi pada masyarakat pada tahun sekitar 1900-an. Masyarakat sudah seperti terbiasa dengan kea- daan serupa itu, sehingga tenggelam dan bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya. Mungkin di dalam hati orang seseorang ada terbetik ingin memperbaiki keadaan itu, tetapi daya perorangan itu akan tenggelam menghadapi lautan masyarakat yang luas dan dahsyat itu. Seolah-olah akal sehat, yang justru dituntut oleh agama Islam, tidak pernah kelihatan dalam masya- rakat yang diliputi suasana jumud itu. Masih banyak praktek kehidupan dalam masyarakat Islam yang tidak atau menjauhi akal sehat itu.
Juga sikap terhadap Al Qur'an. Kebanyakan orang masih beranggapan, bahwa kitab suci itu harus diperlakukan sebagai ajimat dengan pengertian yang animistis maupun dinamisitis. Kitab suci disimpan di tempat yang terhormat, seperti di atas lemari, tetapi tanpa dibaca. Pada hal kitab suci Al Qur'an itu di- turunkan kepada umat untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi hidupnya di dunia dan akhirat supaya selamat. Kitab suci Al Qur'an itu memang sangat mudah sederhana, dan jelas. Ka- rena memang diturunkan untuk diikuti dan dijadikan pedoman umat Islam. Kalau ada ayat-ayat yang sukar di dalamnya maka itu hanya sebahagian kecil. Apabila orang tidak mampu mem- baca ayat-ayat suci Al Qur'an itu, hendaknya membaca dan mengartikan tafsirannya dalam bahasa yang dimengerti.
Demikian pula sikap terhadap Nabi Muhammad s.a.w. Nabi Muhammad adalah seorang yang dikaruniai wahyu oleh Allah Subhanahúwataala. Beliau dikaruniai tuntunan dan ajaran yang
20