mulia. Kehinaan umatnya bukan menunjukkan atas kehinaannya. Tegasnya, kehinaan dan kebenaran serta kemuliaan pemeluk sesuatu agama itu, bukan menjadi ukuran atas kehinaan agama yang dipeluknya. Tetapi ukuran kebenaran dan kerendahan suatu agama itu, ialah tersimpan di mata air agama itu sendiri."
Kata-kata Kyai Haji Mas Mansyur ini diucapkan pada bulan Juli 1940. Meskipun demikian dapat menjadi cermin bagaimana situasi kehidupan sosial para pemeluk agama Islam pada kurun waktu belahan pertama dari abad ke duapuluh itu.
Dan bagaimana pemandangan masyarakat terhadap agama Islam itu sendiri, sampai-sampai terdapat anak-anak muda yang merasa malu beragama Islam, karena dipandangnya agama Islam itu sebagai perlambang kemunduran, ataupun suatu sikap yang beranggapan bahwa walaupun seseorang tetap beragama Islam, tetapi pelaksanaan atau menjalankan syuriat barulah dikerjakan apabila sudah tua atau sudah pensiun. Kemudian dalam masyarakat kelihatan pula sesama pemeluk agama Islam tidak terdapat persatuan. Tidak ada ikatan, tiap-tiap pesantren atau tiap kelompok umat Islam berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan satu sama lain. Memang tidak dapat dikatakan mementingkan diri sendiri, tetapi masing-masing berjalan, bekerja dan hidup sendiri-sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Padahal agama Islam menganjurkan agar umat hidup bermasyarakat dan bantu-membantu.
Keadaan yang tidak memuaskan di lingkungan umat Islam itu juga menimpa pemimpin-pemimpin atau kyai-kyai. Memang benar, para kyai itu tinggi ilmu akhlaknya, tetapi mereka kurang turun ke lapangan. Para murid atau santri yang mendatangi kyai untuk belajar mengaji. Dan jarang kelihatan kyai yang mau berdakwah ke sana ke mari dengan mendatangi murid-murid dan masyarakat untuk membimbing umat. Akibatnya masyarakat kurang memperoleh syiar atau penerangan mengenai agama Islam.
Di samping itu metode atau cara penyampaian ajaran agama memang belum memuaskan pula. Di sana sini terdapat hal-hal yang perlu perbaikan atau penyesuaian dengan kehendak jaman. Perbaikan ini juga perlu pada sikap-sikap tertentu pada masyarakat. Misalnya mengenai pengertian suci dan hubungannya de
19