Lompat ke isi

Halaman:Kyai Haji Ahmad Dahlan.pdf/28

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

hadap agama Islam.

Hingga masa sekitar tahun 1900, masyarakat Indonesia sudah dijajah oleh Belanda selama 300 tahun. Pada waktu itu pemerintah telah berhasil memasukkan rasa kebelanda-belandaan di sementara lapisan masyarakat. Demikian pula rasa serba kebendaan dan serba kehartaan sudah merasuk ke dalam sementara kalangan kaum terpelajar. Segi negatif dari pendidikan Barat ini tentu disayangkan. Bahkan sampai pula menimbulkan penilaian yang tidak tepat terhadap agama Islam. Seolah-olah agama itu identik dengan serba kemunduran. Bahwa agama Islam tidak menjamin ke arah kemajuan, sebaliknya mewakili suatu masyarakat bangsa yang masih serba kekurangan, serba tertutup, serba kekerdilan dan kebodohan. Suatu barang tentu hal-hal demikian merupakan segi-segi yang ekstrim.

Masih banyak pula unsur-unsur pendidikan Belanda yang mempunyai nilai universal yang baik dan menunjang kemajuan. Tetapi, bahwa segi-segi yang negatif itu memang ada, adalah suatu kenyataan. Sebaliknya tidak semua kaum terpelajar kita terpancing oleh suara-suara yang mengecilkan hati. Banyak pula bahkan sebagian besar tidak dapat menerima pendapat-pendapat demikian. Kalau toh dalam masyarakat bangsa kita, terdapat suasana yang serba muram, seperti kekeburan, kemunduran, kelemahan, kekotoran, kemiskinan, kebodohan dsb. tentu penyebab-penyebabnya adalah kompleks. Di antaranya tentu sistem pemerintahan penjajahan itu sendiri. Dan bukannya karena agama Islam. Dalam hal ini baik juga dikemukakan apa yang menjadi pemikiran Kyai Haji Mas Mansyur, salah seorang tokoh Muhammadiyah. Beliau berkata: "...bahwa di tanah air kita Indonesia ini sebagian banyak dari kaum terpelajar kita yang lari dari agama Islam lantaran mereka merasa ragu-ragu disebabkan oleh keadaan pemeluknya yang pada masa ini sedang berada di lapisan yang paling rendah, rendah dan sungguh rendah martabat kedudukannya kalau dibandingkan dengan umat yang lain, ya sekali lagi rendah martabatnya. Tetapi di samping kerendahan bangsa kita dewasa ini ada hal lain boleh dikatakan, karena kita sendiri, bukan karena Islam. Bukan karena Muhammad, dan bukan karena Qur'an dan Hadistnya. Islam tetap tinggi, tetapi umatnya belum tentu sebagai dia. Biar umatnya terpandang, hina-dina, namun dia (Islam) tetap

18