Sumber agama Islam memang sama seperti yang termaktub dalam kitab suci Al Quranul Karim. Allah itu Maha Esa. Tidak berputera dan tidak diputerakan. Tak ada yang menyamai. Allah itu sajalah yang menjadi tujuan. Allah Maha Besar. Allah Maha Kuasa. Lain-lainnya adalah makhluk semua. Yang memberi manfaat hanya Allah. Sungguh-sungguh Allah itu Esa.
Demikian pula, masyarakat juga menunaikan zakat bagi yang mampu dan beradu. Juga qurban seperti yang diajarkan agama, dipenuhi dengan seksama. Masyarakat juga mencari ilmu dan menyadari, bahwa menyia-nyiakan anak yatim itu berdosa. Meskipun demikian, dalam masyarakat seperti tidak kelihatan hukum dan ajaran-ajaran agama itu. Ditambah lagi masyarakat Islam waktu itu sebelum belum mantap perihal ketauhidannya yang suci menurut tuntutan Allah dan Sunah Rasulullah s.a.w. Pengertian umat waktu itu perihal taukhid kelihatan belum sempurna.
Di samping bertuhan kepada Allah, masih banyak di antara mereka yang memuja-muja kepada makam-makam yang dianggap keramat, tidak untuk menziarahi guna berdoa agar para arwah memperoleh kehidupan yang tenang di alam barzakh, melainkan mendatangi makam untuk minta berbagai keuntungan duniawi. Alam dinamisme dan animisme masih sangat kuat di kalangan masyarakat, seperti memperlakukan kitab suci Al Qur'an sebagai ajimat, sebagai penangkal bala seperti pencurian, penyakit dan gangguan keamanan. Padahal kitab suci Al Qur'an perlu dibaca dan dimengerti sebagai petunjuk dalam amalan manusia supaya selamat hidupnya di dunia dan akherat. Sesuai dengan alam dan fikiran animisme itu masyarakat sering mengadakan sela-matan atau pun pertemuan di antara handai taulan dan para tetangga, dengan menghidangkan berbagai sesajian lengkap dengan nasi, ayam, dan sebagainya untuk dipersembahkan kepada para arwah dan juga arwah Kanjeng Nabi Muhammad Rasul.
Ditinjau dari segi kemasyarakatan dan budaya, niscaya selamataan mempunyai nilai sosial seperti keakraban di antara anggota masyarakat itu sendiri, namun karena penyajian sesajen dsb. itu justru untuk suatu tujuan yang berdasarkan alam pikiran animis, maka terasa menyimpang dari ajaran agama Islam yang murni. Kemudian di dalam masyarakat sendiri terutama di kalangan cerdik pandai hidup suatu pandangan yang negatif ter-
17