Sikap politik pemerintah Kompeni Belanda memang agak berlainan. Mereka lebih mementingkan persoalan ekonomi, namun demikian mereka tetap memandang masyarakat kita yang menganut agama Islam dengan sikap hati-hati, dan curiga. Sikap ini disebabkan karena perlawanan-perlawanan yang intens terhadap penjajahan Belanda, kebanyakan terdapat justru pada masyarakat yang memegang teguh agama Islam, seperti Peperangan Paderi di Sumatera Barat, Peperangan Diponegoro di Jawa dan Peperangan Aceh di ujung Pulau Sumatera. Kesemuanya terjadi pada abad ke-19. Dalam peperangan-peperangan itu, perselisihan tidak semata-mata terletak pada bidang ekonomi, tetapi pada bidang keagamaan yang menyebabkan corak perselisihan itu menjadi lebih mendalam.
Ditunjau dari segi politik, ekonomi, sosiokultural, maka pada abad ke sembilanbelas itu seakan-akan masyarakat Indonesia diserbu oleh kekuatan Barat yang dahsyat. Kerajaan-kerajaan kita berhadapan secara langsung dengan negeri Belanda, baik secara diplomasi di meja perundingan, maupun secara peperangan di medan pertempuran. Pada abad-abad sebelumnya kerajaan-kerajaan Indonesia hanya menghadapi Kompeni sebagai perusahaan dagang.
Akhirnya kerajaan-kerajaan Indonesia itu, mulai dari Aceh, Tapanuli, Jambi, Minangkabau, Palembang, Lampung, hingga Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dll. terpaksa mengakui kekuasaan Belanda. Tetapi meskipun pada abad kesembilan belas itu kerajaan-kerajaan kita sudah ditaklukkan, tetapi itu tidak berarti menyerah atau takluk sama sekali. Perlawanan masyarakat tidak berhenti. Terutama di desa-desa, selama abad ke sembilanbelas dan permulaan abad duapuluh selalu terjadi huru-hara di beberapa tempat. Huru-hara itu berupa pemberontakan, kerusuhan, kegaduhan dan berandalan.
Sepintas lalu, tampaknya huru-hara itu tindakan pidana atau kriminalitas semata-mata. Tetapi sebenarnya kesemuanya itu mempunyai dasar yang lebih dalam. Huru-hara itu merupakan reaksi terhadap masuknya kekuasaan dunia Barat ke dalam masyarakat pedesaan kita. Di Indonesia, kekuasaan Barat itu diwakili oleh negeri Belanda. Apabila kita teliti lebih mendalam, maka
14