Lompat ke isi

Halaman:Kyai Haji Ahmad Dahlan.pdf/21

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

gelar dan namanya menjadi Sultan Suryahullah. Hingga sekarang masyarakat Banjar tekun dan patuh menjalankan syariat Islam.

Agama Islam juga tersiar di Kalimantan Timur berbeda dengan Kalimantan Selatan, maka di sini penyiar-penyiar agama Islam datang dari Sulawesi Selatan. Mereka giat mengajarkan kalam Illahi. Selanjutnya Raja Aji dari kerajaan Langgar giat sekali menyiarkan agama Islam di daerah pedalaman.

Sementara itu di Sulawesi Selatan sudah pula banyak masyarakat yang beragama Islam. Hal sedemikian tentu mudah dimengerti. Sejak dahulu bandar-bandar di Sulawesi Selatan sudah banyak disinggahi kapal-kapal yang datang dari Malaka, Sumatera dan Jawa. Banyak di antara saudagar-saudagar dan pelaut-pelaut itu yang memeluk agama Islam. Karena itu agama Islam juga cepat tersiar di sana. Pada abad ke tujuh belas raja-raja Gowa dan Tallo di Sulawesi Selatan sudah resmi memeluk agama Islam. Kemudian rakyat juga beramai-ramai mengamalkan agama Islam itu. Dengan demikian masyarakat Sulawesi Selatan menjadi masyarakat Islam yang taat. Sungguh menarik memperhatikan dan mempelajari tersiarnya agama Islam itu di tanah air kita. Jalannya penyiaran itu memakan waktu yang cukup panjang. Penyiaran itu rupanya terjadi sejak abad ke tujuh dan berjalan terus melalui abad-abad berikutnya. Penyiar-penyiar agama Islam itu adalah mubalik-mubalik dari tanah Arab, Parsi dan juga Gujarat. Kemudian juga guru-guru bangsa Indonesia sendiri yang cepat menguasai ajaran agama Islam.

Sudah kita ketahui, bahwa penyiar agama Islam yang mula-mula adalah para pedagang dan pelaut. Mereka itu harus menetap di perkampungan di perantauan untuk menunggu angin. Pada jaman itu kapal-kapal layar itu tidak dapat mengarungi samudera raya, kalau tidak ditolong hembusan angin. Sementara menunggu itu mereka bergaul di dalam masyarakat ramai dan secara perlahan-lahan tetapi pasti, agama Islam itu tersiar ke masyarakat. Mula-mula tentu di dalam lingkungan masyarakat bandar di tepi pantai. Kemudian tersebar ke dalam kraton-kraton ataupun wisma-wisma bupati, lalu tersebar ke pelosok-pelosok. Sudah barang tentu dalam masyarakat itu terdapat guru-guru agama yang khusus. Mereka mendirikan mesjid dan pesantren lengkap dengan murid-muridnya atau para santri. Kemudian

11