Lompat ke isi

Halaman:Kyai Haji Ahmad Dahlan.pdf/19

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

pula bersikap toleran terhadap pemeluk-pemeluk agama Islam, dalam hal ini ialah pemeluk agama Islam.

Dari mana kita mengetahui bahwa pada jaman Majapahit juga sudah ada masyarakat Islam? Apabila kita berjalan-jalan di desa Tralaya yang sekarang, maka kita akan menjumpai makam-makam kuna. Dahulu desa Tralaya itu pusat kerajaan Majapahit. Di situ terdapat banyak makam Islam. Ada batu nisan dengan angka tahun 1369. Jadi masih pada zaman Hayam Wuruk. Nisan itu berbentuk lengkung kala-kamara dan berangka tahun Jawa kuno. Jadi pengaruh Hindu Budha masih kuat juga.

Bahwa pada jaman Majapahit sudah banyak orang-orang yang memeluk agama Islam diperkuat lagi oleh Ma Hua, seorang Cina yang memeluk agama Islam. Ma Hua juga menjabat sebagai 'sekretaris' dari armada Cheng Ho yang berlayar ke Majapahit pada sekitar tahun 1413. Ma Hua berkata, bahwa dalam kerajaan Majapahit terdapat tiga golongan dalam masyarakat ramai. Golongan pribumi dan rakyat pada umumnya yang memeluk agama Hindu Budha. Golongan orang-orang Cina yang kebanyakan sudah memeluk agama Islam. Sedangkan orang-orang yang datang dari barat, yaitu orang Arab, Parsi, Samudera Pasai dan Malaka, adalah pemeluk-pemeluk agama Islam.

Selanjutnya di Gresik juga terdapat Syekh Maulana Malik Ibrahim bertahun 1419. Beliau adalah pelopor penyebaran agama Islam di daerah Jawa. Kemudian langkah Maulana Malik Ibrahim itu dilanjutkan oleh para Wali Illahi, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri dan lainnya yang kesemuanya dinamakan Wali Sanga atau Wali Sembilan. Jadi Wali Sanga itu adalah penyiar-penyiar agama Islam yang mula-mula karenanya terpenting. Mereka menyiarkan Islam sampai ke pelosok-pelosok desa, dan dianggap sebagai orang-orang terdekat kepada Allah s.w.t. serta mempunyai kekuatan gaib dan memiliki ilmu yang tinggi, terutama dalam hubungannya dengan tasawuf. Wali Sanga itu dihormati dengan gelar Susuhunan atau Sunan. Menurut cerita rakyat, kesembilan wali itu sering berkumpul dan mengadakan pertemuan di Masjid Demak.

Para wali itu adalah tokoh-tokoh yang arif bijaksana. Dalam mengajarkan agama Islam mereka menggunakan cara menyesuaikan diri pada keadaan setempat. Dengan tutur bahasa yang baik

9