I. PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Itu berarti, bahwa bangsa Indonesia, sejak zaman dahulu selalu merasa bahwa dirinya itu ada yang menciptakan. Ada yang mengadakan, maka dirinya itu ada. Kita merasa diri kita sebagai makhluk. Bukan hanya manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Kesemuanya diciptakan oleh Yang Maha Agung, yaitu Tuhan. Apa saja, baik yang diketahui manusia maupun yang tidak diketahui. Dan jumlah yang tidak diketahui manusia itu amat banyak. Kesemuanya itu adalah makhluk, yaitu hasil ciptaan Tuhan.
Sejak dahulu manusia Indonesia selalu ingin untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Pada zaman pra sejarah tentu cara kehidupan religius itu tidak sama dengan zaman dewasa ini. Pada waktu itu alam pikiran masih belum mencapai taraf perkembangan seperti sekarang.
Cara-cara kehidupan religius pada zaman dahulu itu niscaya ada yang dapat kita mengerti. Sebaliknya banyak pula yang tidak dapat kita terima dengan akal dan perasaan atau hati nurani kita, yaitu bangsa Indonesia yang hidup pada abad ke-20 ini. Salah satu ciri dari pengungkapan kehidupan religius bangsa kita ialah pemuliaan roh nenek moyang. Pemuliaan roh nenek moyang timbul dari suatu pemikiran atau sikap mental yang luhur. Generasi yang hidup pada suatu waktu, menyadari bahwa mereka itu sebelumnya dilahirkan oleh ayah, ibu, nenek-kakek dan seterusnya, yang diistilahkan dengan nenek moyang. Mereka itu menghargai peraturan, cara hidup dan pemikiran yang sudah diwariskan oleh para nenek moyang. Hal demikian menjamin kehidupan masyarakat yang mantap. Mereka meneruskan cara-cara lama itu dan berkembanglah menjadi suatu adat istiadat yang menjadi pegangan hidup. Timbullah keamanan dalam masyarakat dan ketenteraman dalam batin anggota masyarakat itu.
Pemuliaan roh nenek moyang juga didasarkan pada kecintaan. Generasi yang hidup masih mempunyai ikatan batin dengan para leluhur. Demikian besar cinta dan hormat mereka pada para nenek moyang sehingga timbul suatu mitologi ataupun suatu pengetahuan yang tersusun mengenai riwayat hidup maupun segi-segi kebudayaan lainnya, dari para nenek moyang, yang seringkali
4