MANIFESTO POLITIK R.I.
Sebab oleh tertjapainja momentum mental dengan kembali kita kepada Undang-undang Proklamasi dan Djiwa Proklamasi itu, maka menghebatlah Semangat Nasional mendjadi Kemauan Nasional jang maha-sjakti, dan menghebat lagilah Kemauan Nasional itu melahirkan Perbuatan-perbuatan Nasional jang membangun, dan menghantjur-leburkan segala rintangan dan segala kesulitan jang menghalangi djalan. Inlogi jang saja dengungkan tiga puluh tahun jang lalu, trilogi nationale geest menghebat mendjadi nationale wil, nationale wil menghebat mendjadi nationale daad, trilogi itu kini mendjelma mendjadi kenjataan oleh tertjapainja momentum mental sedjak keluarnja Dekrit Presiden 5 Djuli 1959.
„Sekali lagi saja katakan”, demikianlah penutupan pidato saja dimuka Sidang Konstituante 22 April jang lalu,„—dan ini saja katakan untuk zelf-educatie kita sendiri—, kesulitan-kesulitan kita tidak akan lenjap dalam tempo satu malam. Kesulitan-kesulitan kita hanja akan dapat kita atasi dengan keuletan seperti keuletannja orang jang mendaki gunung. Tetapi: Berbahagialah sesuatu bangsa, jang berani menghadapi keniataan demikian itu! Berani menerima bahwa kesulitan-kesulitannja tidak akan lenjap dalam tempo satu malam, dan berani pula menjingkilkan lengan-badjunja untuk memetjahkan kesulitan-kesulitan itu dengan segenap tenaganja sendiri dan segenap ketjerdasannja sendiri. Sebab bangsa jang demikian itu, —bangsa jang berani menghadapi kesulitan kesulitan dan mampu memetjahkan kesulitan-kesulitan—, bangsa jang demikian itu akan mendjadi bangsa jang gemblèngan. Bangsa jang Besar, bangsa jang Hanjakrawarti-hambaudenda. Bangsa jang demikian itulah hendaknja Bangsa Indonesia!”
Ja, Bangsa jang demikian itulah hendaknja Bangsa Indonesia!
Maka gelorakanlah Semangat Nasionalmu ! Gelorakanlah rangsang Kemauan Nasionalmu! Gelorakanlah rangsang Perbuatan-Perbuatan Nasionalmu! Dan, engkau, hai Bangsa Indonesia, betul-betul nanti mendjadi satu Bangsa jang Gemblèngan!
77