Lompat ke isi

Halaman:Kitab himpunan perundang undangan negara.pdf/1571

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM SIPIL, BUKU KETIGA.

P. 1678.[1]) Penghibahan antara masih ada, dilarang.
Tetapinja, ketentuan ini tadi tidak berlaku bagi hadiah-hadiah atau buah-buah-tangan mengenai barang-barang-bergerak dan bertubuh (berwudjud) jang tidak tinggi benar harganja, kalau dibandingkan dengan kemampuan (kekajaan) sipenghibah. (119, 149, 168 db., 1467, 1601, 1687)
P. 1679. Supaja dapat dikatakan sah (ada kedewasaan) untuk menikmati benda jang dihibahkan, wadjiblah oknum jang dihibahi telah ada didunia atau dengan memperhatikan aturan dalam pasal 2 sudah berada didalam perut ibunja pada ketika penghibahan berlaku. (174, 178, 836, 899, 1675)
P. 1680. Penghibahan-penghibahan kepada lembaga-lembaga umum atau jajasan-jajasan keagamaan, tidaklah diaku-sah djika oleh Gubernur-Djenderal atau oleh pembesar jang telah ditundjuknja[2]) belum diizinkan kepada para pengurus badan-badan tersebut untuk menerimanja. (900, 1653 db.)
P. 1681. Ketentuan-ketentuan dalam ajat kedua dan terachir pada pasal 904, begitu pula pasal-pasal 906, 907 , 908, 909 dan 911 berlaku pula bagi penghibahan-penghibahan termaksud disini. (973 db., 1679)

Bagian ketiga.

Tentang tjara menghibahkan.

P. 1682. Tiadalah sesuatu penghibahan apa djuapun, ketjuali penghibahan termaksud dalam pasal 1687, dapat dilakukan tanpa memakai akta-notaris, jang mana surat-asli-sahihnja mesti tinggal tersimpan pada notaris dan bila tidak dilakukan setjara demikian, penghibahan itu tiadalah sah. (1893 db., Rn 39)
P. 1683. Tiadalah sesuatu penghibahan apa djuapun mengikat bagi sipenghibah atau membawa akibat apapun djua djika belum diakui sudah menerima hibah itu oleh oknum jang dihibahi dengan setjara tegas, atau oleh wakil oknum itu kepada siapa telah diberi kuasa olehnja dengan akta otentik untuk menerimakan hibah jang telah atau dikemudian hari bakal diberikan itu.
1463
  1. ↑ Berlaku djuga bagi bangsa Tionghoa, tetapi tidak bagi bangsa-bangsa Timur Asing lainnja (bdng.: Stbl. 1924/556 p. 2 aj. 6 dan 7).
  2. ↑ Dg. Stbl . 1937/573 ditundjuk selaku pembesar untuk urusan pemberian izin termaksud ialah Direktur Djustisi (djadi kini: Menteri Kehakiman).