KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM SIPIL, BUKU PERTAMA.
P. 105. Suami adalah kepala orang sekelamin (selaki-bini). (124, 140)
Selaku itu sisuami harus memberi pembelaan dalam segala perkara, atau hadir dimuka hakim untuk siisteri, dengan tiada mengurangi pengetjualian- pengetjualian jang tertera dibawah ini. (110 db.)
Dia harus mengurus segala harta-benda kepunjaan pribadi isterinja, ketjuali djika sekiranja telah didjandjikan sebaliknja. (140, 194, 215, 244; lih. p. 6 UBTP tertera pada h. 675 Kit. III)
Dia wadjib menguruskan harta-benda itu selaku seorang bapak rumah jang berbudi, dan bertanggung-djawab atas segala kealpaan dalam urusan itu. (95)
Tiadalah boleh dia memindah-tangankan atau membebani segala barang-tetap kepunjaan isterinja, tanpa pembantuan isterinja itu.
P. 106. Isteri wadjib menurut kata suaminja. (140)
Dia wadjib tinggal bersama dengan suaminja, dan menurutinja dimana-mana tempat jang pada anggapannja perlu untuk didiami. (21, 140, 211 db., 242)
P. 107. Suami wadjib menerima isterinja didalam rumah jang didiaminja. (21)
Dia wadjib melindungi isterinja, dan menjediakan baginja segala apa jang perlu menurut kedudukan dan kemampuannja. (193, 213, 225 db., 237)
P. 108. Meskipun siisteri menikah diluar pergabungan harta-benda, atau terpisah dari harta-benda, namun dia, tanpa bantuan suaminja dalam akta, atau tanpa izin-tertulis dari suaminja, tiadalah boleh memberi apa djuapun, memindah-tangankan harta-bendanja, menggadai, memperoleh sesuatu barang, baik dengan pertjuma maupun dengan sesuatu ikatan djandji.
Djikalau sisuami memberi kuasa kepada isteri untuk membuat sesuatu akta atau perdjandjian, maka siisteri dari sebab hal itu, tanpa izin jang tegas dari suaminja, tiadalah berhak menerima sesuatu pembajaran ataupun melunaskan sesuatu buat itu . (109, 112 db., 115 db, 118, 125, 194, 896, 1006, 1046, 1171, 1330 db., 1446, 1454, 1601f, 1676, 1678, 1684, 1702, 1722, 1798)
1103