18
mereka mendjagoi didalam dunia. Radja bangsa Kuru jang waktu itu memerintah dinegeri Hastina adalah sang Prabu Destarastra, jang tiada beruntung karena matanja telah buta sedari ia dilahirkan, menggantikan kedudukan adenja jaitu Maharadja Pandudewanata, jang telah meninggal dunia dalam usia masih muda.
Destarastra ada mempunjai anak-anak banjaknja seratus orang, semuanja lelaki, hanja seorang sadja perempuan. Jang paling besar adalah pangeran putra Duryodana atau Raden Djakapitana, adenja nama Dursasana, kemudian Djajawikata, Tjitrayuda dan lain-lain lagi seterusnja. Sedang jang perempuan bernama Dewi Dursilawati, seorang putri djelita jang elok perasnja. Maka anak-anaknja Prabu Destarastra itulah jang disebut kaum Korawa.
Di samping itu, sang Prabu Pandudewanata ada meninggalkan djuga anak-anak lelaki lima orang djumblahnja, dan mereka itu dinamakan Pendawa Lima, semuanja gagah perkasa. Anak pertama nama Puntadewa atau Yudistira, jang kedua namanja Bimasena atau Werkudara, ketiga Hardjuna atau Djanaka, jang keampat dan ke lima kembar, namanja Nakula dan Sadewa. Mereka semua tinggal di Hastinapura, terdidik dan dirawat oleh saudara jang paling muda dari Destarastra dan Pandu, jaitu sang paman nama Yama Widura.
Diantara anak-anak kaum Korawa dengan kaum Pendawa, maskipun masih sekulawarga, tiada terdapat ketjotjokan, mereka saling rewel dan terus berkelai sadja sedari ketjil. Persetorian familie itu berdjalan tiada berhentinja, ada sadja jang mendjadi urusan. Pada waktu itu, Korawa dan Pendawa sedang memperebutkan sebuah tjupu kentjana isi minjak tala, warisan dari kakenja, jaitu sang Bagawan Abiasa dipertapa'an Wukir Rahtawu.
Minjak tala itu dibuat rebutan, karena mereka semuanja memang sama-sama mempunjai hak atas barang berharga itu, jalah sematjam minjak sakti djikalau diulaskan kepada orang jang sudah meninggal dunia akan dapat hidup kembali.