Lompat ke isi

Halaman:Ki Dorna alias Kombayana.pdf/13

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

11

nanti pada suatu hari saja akan datang lagi kemari dalam keadaan dan deradjat jang sama tingginja dengan kau".

Habis berkata Kombayana lalu memberi hormat dan terus pergi meninggalkan ruwangan itu dengan tindakan jang gagah, diawasi oleh orang-orang jang berada disitu dengan diam, sehingga djauh barulah kesunjian itu terpetjah dan perdjamuan dilandjutkan pula dengan gembira.

Dalam keada'an itu mereka tiada mengetahui, ketika ada seorang jang dengan diam-diam telah berlalu dari situ. la itu bukan lain dari Kiana Patih Gandamana, seorang gagah perkasa sakti mandraguna, jang dalam seumur hidupnja belum pernah dikalahkan, hingga namanja kesohor dan ditakuti orang semuka bumi.

Harya Gandamana merasa gusar sekali kepada Bambang Kombayana jang berani memanggil nama ketjilnja sang prabu. Ia anggap orang itu sangat kurangadjar, maka dengan diam-diam ia membuntuti, sesampainja dialun-alun, Kombayana dipegang lehernja terus dilempar keatas, djatuhnja ditanah keras sekali, hingga pandita muda itu telah mendjadi pangsan beberapa lamanja. Perlahan-lahan Kombayana mendusin tapi tubuhnja dirasakan amat sakitnja, maka dengan separo merintih ia menanja:

"Ki Patih, kenapa kau mempersakiti aku"? Dengan mata melotot dan suara bengis Gandamana mendjawab:

"Hai pengemis, kenapa kau pura-pura bodo, masih menanja dosa. Apatah memang kau sudah mendjadi gila hingga tiada mengerti bahwa perbuatanmu tadi dihadapannja sang Prabu Drupada ada sangat tengik dan pantas mendapat hukuman"?

"Apa jang tadi saja utjapkan semua adalah benar", kata Kombayana. "Djikalau orang berbuat benar mesti dipersakiti, habis apatah jang orang harus berbuat, ki Patih"?