Lompat ke isi

Halaman:Ki Dorna alias Kombayana.pdf/12

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

10

merasa martabatnja telah tersinggung. Sebenarnja ia tahu dan ingat kepada sang Kombayana, maka upama kata datangnja tiada dalam waktu demikian, tiada didalam perdjamuan agung, tentunja Kombayana akan diterima dengan tjara lain. Tapi sekarang telah ketelandjur, apa pula Prabu Drupada telah minum arak setengah mabok, maka ia telah mendjawab dengan suara jang keras dan bengis:

"Seperti tadi aku telah kata, aku tiada pernah kenal kepadamu, maka pergilah, djangan membikin kotor dan ribut disini".

"O Sutjitra, perkata'anmu membikin hatiku mendjadi sakit. Saja lihat djiwa jang berbajang didalam manik matamu adalah mengenali diriku, kendati mulutmu bitjara lain. Memang didalam dunia banjak kedjadian, sewaktu didalam mabok orang bisa mendjadi lupa, ja mabok dari rupa-rupa djalan, mabok arak, mabok harta, mabok pangkat, mabok deradjat. Tapi satu masa djikalau maboknja itu sudah mendjadi hilang, ia akan tersedar dan insjaf maka ia harus dima'afkan, karena sebenarnja ia ta' tahu apa jang ia telah berbuat".

Prabu Drupada mendjadi gusar, ia bangun berdiri dari kursinja, seraja berkata:

"Hai orang pelantjongan, kau bitjara sebagai seorang jang pintar, tapi prilakumu tiada tahu malu. Burung gagak tidak bisa bersobat dengan burung kuntul, oleh karena lain bangsanja. Pengemis tiada bisa bersobat dengan orang hartawan, oleh karena lain deradjatnja. Persobatan jang pantas dilihat haruslah jang sama tingkatannja, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Apa gunanja kau mengaku kenal kepadaku, djikalau aku tiada kenal kepadamu? Maka disini aku kasih nasehat kepadamu, sebelumnja kau tjoba mengenali orang lain, lebih dulu tjobalah kenali dirimu sendiri, kau ini siapa, keada'anmu bagaimana, apatah pantas mendjadi sobatnja"?

"O djadi demikianlah pendiranmu, sang prabu," kata Kombayana dengan sorot mata mengandung kegusaran. "Baiklah,