Sama sekali ada ampat toekang popio jang dioendang oleh Tio Beng boeat bertempoer pada It Kie Tho, doea d antaranja jang mempoenjai perhoeboengan penting sama ini riwajat, jang satoe bernama Lee Siang Hiap dan satoenja lagi bernama Thio Po Hoei. Ini doea orang, sekali poen tida bisa dibandingken sama Tio Beng, tapi ilmoe kapandean silatnja ada lebih tinggi dari The Peng San dan Oei Ban Seng, itoe doea penggawenja Tio Beng. Ini doea orang boekan sadja ilmoe silatnja tinggi, tapi hatinja baek dan djoedjoer. sadari lama iaorang bersobat baek sama Tio Beng, dan iaorang sanget mengindahken pada Tio Beng, jang djoedjoer dan berhati moerah.
Tapi pada waktoe Tio Beng dan kawan-kawannja sampe di satoe rimba sabelah loearnja Pok-bong-tjoen, di atas sala-satoe poehoen, tertampak satoe lembar kertas merah, diatas mana ada tertoelis sedikit perkatahan jang berboenji begini: „Tio Beng kena tertipoe ! Akoe sekarang berada di iboe kota provincie di mana akoe aken melakoeken berbagi bagi perampokan. Kaloe kaoe sesoenggoenja mengakoe sebagi satoe pendjaga ka'amanan dan satroe golongan lioklim, lekas dateng ka Boetjiang, dimana kita bisa mengadoe kepandean. Itoe waktoe aken ketaoean siapa jang lebih pande dan gaga.
„It Kie Tho".
Setelah Tio Beng abis membatja itoe toelisan, hatinja djadi sanget mendongkol, begitoe poen iapoenja kawan kawan.
„Koerang adjar! itoe begal soeda permaenken pada'koe sebagi djoega satoe anak anak," berseroeh Tio Beng dengen goesar. „Tida perdoeli ia berada di oedjoeng langit, tida oeroeng akoe aken soesoel dan kasi hadjaran keras padanja."