— 43 —
Boe poenja ilmoe silat tida terlaloe tinggi djika dibandingken sama Tio Beng, sedeng Tio Beng jang paling dimaloein sekarang soeda diloekain poendak kirinja sama iapoenja tipoe hwee-ma-to, hingga tida aken djadi begitoe lihay lagi seperti doeloean. Tapi tida lama kamoedian Lioe Kie Giam jang soeda bisa ringkoes pada Goei Soei Hong poen dateng membantoein, hingga It Kie Tho djadi ripoeh djoega moesti meladenin pada tiga orang jang semoewanja ada mempoenjai ilmoe silat boekannja boleh dibandingken dengen achli silat jang kabanjakan.
It Kie Tho pikir ia tida nanti bisa beroleh kadoedoekan di atas angin, djika moesti bertempoer teroes sama itoe tiga orang, maka ia pikir maoe melolosken diri. Djoestroe ia lagi berpikir begitoe, mendadak kadengeran soewara banjak orang jang mendatengin dengen berseroeh dan berlari-lari dari satoe gang temboesannja itoe hotel. Tida lama kamoedian kaliatan dalem marika poenja tangan ada memegang obor-obor jang menjiarken sinar terang, hingga dengen lantas It Kie Tho bisa kenalin bahoewa itoe orang-orang jang mendatengin boekan laen dari opas-opas politie. Satoe bangsat selamanja merasa tida enak kaloe berhadepan sama politie, tambahan memang ia soeda berniat maoe merat, maka dengen tida bersangsi lagi lantas sadja ia balikin badannja dan teroes oeloer kakinja.
Tatkala kadoea soedara Lioe maoe mengedjar, dengen tjepat Tio Beng berseroeh: „Hati-hati, moesti awas sama iapoenja tipoe hwee-ma-to; kadoea hiantee. Baroesan lantaran sedikit tjerobo, akoe soeda mendjadi korbannja iapoenja tipoe itoe.“
Kadoea soedara Lioe lantas sadja merandek sabagitoe lekas mendenger itoe seroehan, dan It Kie Tho lantas goenaken ini koetika baek boeat pandjangin