nya boleh dikata sudah dipupuk sejak masih kanak-kanak itu.
“Paman Ciok, maksudmu apa hendak mengatakan bahwa telah terjadi apa-apa dengan adik Peng ?” Kim Houw menanya.
“Hm, kau bocah ini kembali hendak berlagak tolol. Perbuatan yang kau lakukan sendiri, apakah masih tidak tahu? Dalam usia begini muda, sungguh pintar kau main gila !” kata Ciok Goan Hong melototkan matanya.
Jawaban itu membuat Kim Houw melongo.
San Hua Sian Lie hatinya makin gelisah, air matanya mengalir semakin deras.
“Ciok toako, apa sebetulnya yang telah terjadi? Coba ceritakan padaku.” pikirnya.
Ciok Goan Hong pura-pura berpikir lama, baru menjawab: “Aku tahu bocah ini tidak berani cerita terus terang padamu, kau tahu apa sebabnya ia lari masuk kedalam Istana Kumala Putih ini? Bocah ini seharusnya dicincang, baru dapat melampiaskan sakit hatiku !”
16