Lompat ke isi

Halaman:Irian Barat dari masa ke masa.pdf/76

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

dipulau-pulau sebelah timurnja hingga Banda. Diantara keempat keradjaan ini jang terpenting adalah Ternate dan Tidore (Lihat Buku Prof. Dr. Burger ,,Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia I" halaman 39).

Keradjaan Malaka dapat mempertahankan kedjajaannja, baik sebagai pusat perniagaan, maupun sebagai pusat Islam. Akan tetapi pada tahun 1511 bangsa Portugis berhasil merebut bandar Malaka. Pedagang-pedagang Islam jang bermusuhan dengan bangsa Portugis meninggalkan bandar itu dan pindah kepelabuhan-pelabuhan Indonesia. Disini mereka menghidupkan kegiatan perdagangan, bebas dari antjaman Portugis (menurut perkiraan mereka). Palembang, Banten, Djepara, Makasar, Ternate dan Tidore bertambah ramai perdagangannja setelah bertambahnja pedagang-pedagang Islam pendatang.

Setelah Modjopahit runtuh, ditempat-tempat itu timbul keradjaankeradjaan Islam. Keradjaan-keradjaan ini meneruskan perdagangan didaerahnja masing-masing dan sekitarnja. Di Indonesia Timur, Ternate dan Tidorelah jang memegang peranan terpenting. Perdagangan mereka meliputi pulau-pulau disekitarnja, sampai kepesisir Irian Barat. Bahkan dapat diketahui bahwa sedjak tahun 1570 sebagian terbesar Irian Barat didaerah pesisir setjara administratip masuk kedalam daerah kekuasaan Sultan Tidore.

Orang-orang Irian Barat tentu tidak tinggal diam dalam urusan dagang ini. Mereka mempertukarkan hasil-hasil daerah mereka seperti rempahrempah, hasil hutan, bahkan djuga budak belian. Mengenai hubungan dagang diantara orang-orang Irian Barat dan pulau Indonesia di bagian Timur, dapat kita batja dalam buku. G. Kesselbrenner ,Irian Barat Wilajah Jang Tak Terpisahkan Dari Indonesia" (halaman 29). Sedjak 1570 sebagian terbesar dari Irian Barat setjara administratip masuk dalam susunan Kesultanan Tidore .

Para penghulu Ceram Goram mengadakan persetudjuan-persetudjuan dagang dengan kepala-kepala suku bangsa di Semenandjung Onin di Irian Barat mengenai barang dagangan seperti rempah-rempah dan ambar. Para achli sedjarah berpendapat, bahwa dalam permulaan abad ke XVII orang-orang Irian Barat sering mengundjungi berbagai-bagai pulau Indonesia Timur seperti : Ceram, Buru, Tidore dan lain-lain. Njatalah bahwa diantara Irian Barat dan Kepulauan Maluku terdjadi hubungan dagang jang erat sekali semendjak dahulu kala. Tidore mula-mula meluaskan kekuasaannja ke Ceram Timur dan kepulau Gebe, kemudian menguasai Salawati dan Waigeo serta menduduki Misool.

Dengan menguasai pulau-pulau Radja Ampat dan Ceram Timur, Tidore dapat meluaskan pengaruhnja sampai ke Irian Barat (Abad ke 17).

Dr. Van Leur, seorang sardjana Belanda jang terkenal menulis dalam bukunja : "Indonesian Trade and Society", halaman 144 sbb. :

15