Lompat ke isi

Halaman:Irian Barat dari masa ke masa.pdf/138

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Sementara Delegasi Indonesia giat mengadakan perundingan dengan Delegasi Belanda berdasarkan usul Ellsworth Bunker, maka untuk memperkuat posisi pemerintah kita, dikeluarkanlah Petundjuk Operasi Djataju Nomor. 15/PO/SR/8/ 1962 jang dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 1962 dengan penerdjunan pasukan-pasukan : Elang, Gagak dan Alap-Alap pada sasaran Sorong, Kaimana dan Merauke. Penerdjunan inilah merupakan penerdjunan jang terachir jang telah dilakukan dalam rangka infiltrasi dari pasukan-pasukan geriljawan untuk membebaskan Irian Barat. Operasi ini dilakukan oleh pasukan-pasukan PGT jang terbagi dalam 3 kelompok :

1. Kelompok ,,Elang" dibawah pimpinan Kapten (U) Radik Darsono untuk Sektor Sorong.

2. Kelompok ,,Gagak" dengan pasukan dari JON 454/PARA dibawah pimpinan Major Untung untuk Sektor Kaimana.

3. Kelompok „Alap-Alap" dengan pasukan PGT dibawah pimpinan Letnan (U) Mahutappy.

Penerdjunan dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1962 dengan 9 Pesawat Hercules, dikawal oleh pesawat-pesawat Mustang (P51), B 25/26, Ilyashin 28 dan Mig 17. Disekitar Sorong diterdjunkan 134 orang, disekitar Kaimana 141 orang dan disekitar Merauke 132 orang.

Panglima Mandala Major Djenderal Soeharto, bersama-sama dengan Komodor (U) Leo Wattimena dan Brigdjen Ahmad Wiranatakusumah dengan beberapa Perwira lagi terbang berputar-putar dengan Convair diatas daerah perbatasan. Belanda tidak dapat berbuat apa-apa, karena tidak dapat mengetahui tinggi dan arah pesawat-pesawat kita, berkat kepandaian pilot-pilot kita mengelabui mereka. Belanda sungguh-sungguh geger karenanja dan mata dunia internasional melihat, bahwa Indonesia dalam usaha pembebasan Irian Barat bukan main-main. Serangan-serangan jang semakin gentjar menggegerkan Belanda dan mendebarkan djantung Sekutu-sekutunja. Setelah TRIKORA dilantjarkan selama 8 bulan dan mentjapai klimaksnja dalam Operasi Djajawidjaja, itupun baru permulaannja, achirnja ,Kepala Batu" Belanda mendjadi „Tjair" dan bersedia mentjari penjelesaian dimedja perundingan.

10. Operasi Satuan ALRI.

Selain dari membantu mengangkut pasukan dan mengawalnja, satuansatuan ALRI djuga mempunjai tugas operasi sendiri :

a. Sebagai tugas rutine ALRI melakukan :
1°. Patroli perang (war patrol) diperairan perbatasan dengan

wilajah Irian Barat, untuk mengimbangi kegiatan musuh

dilaut.

65