Lompat ke isi

Halaman:Horison 12 1990.pdf/4

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

dilupakan. Sastrawan Indonesia masa kini adalah mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia, yang bersumber pada bahasa Melayu; namun jelas mereka mendukung mitologi yang berbeda-beda. Dan karena mitologi mau tidak mau harus dikaitkan dengan ideologi, tentu tidak bisa begitu saja dianggap bahwa puisi Indonesia merupakan perkembangan dari puisi Melayu. Hang Tuah mungkin masih hidup dalam jiwa orang melayu, Cindur Mato mungkin masih mendasani cara berpikir orang Minang, dan Gatotkaca barangkali masih menjadi tokoh idaman banyak orang Jawa; tokoh-tokoh itu merupakan gantungan ideologi yang berkembang dalam puisi kita kini. Mereka itu sekarang tentunya sudah pandai berbahasa Indonesia, namun jelas bahwa tidak semuanya berasal dari tradisi Melayu. Jika demikian halnya, apakah sejarah puisi Indonesia harus dimulai dari berbagai puisi non-Melayu, sebab bukankah pembicaraan mengenai perkembangannya tidak hanya berkisar pada masalah stilistik tetapi juga tematik?

Orientasi pada bahasa telah melahirkan ber- bagai konsep seperti jawanisasi dan penolakan terhadap Pengakuan Pariyem sebagai karya sastra Indonesia. Konsep tersebut pada dasarnya beranggapan bahwa sastra Indonesia tentunya harus berlandaskan mitologi Melayu; masuknya mitologi Jawa ke dalamnya dianggap sebagai semacam “penyimpangan” yang — meskipun tidak harus dianggap sebagai cacat — pantas dikhawatirkan. Jika ternyata sekarang ini perkembangan puisi Indonesia banyak ditentukan oleh penyair yang berasal dari Jawa, tentu tidak terelakkan lagi adanya banyak “penyimpangan” dari mitologi Melayu, yang pada gilirannya tentu juga mengubah bahasa yang dipergunakan untuk mengungkapkannya.

/2/

“Syair Kampung Gelam Terbakar” adalah se- buah syair karya Abdullah Munsyi, sastrawan Melayu yang hidup pada abad yang lalu. la, bersama-sama dengan Raja Ali Haji dan lain-lain, menjadi bagian penting dalam sejarah puisi Indonesia. Pemasukan karya kedua sastrawan itu berarti bahwa kita tidak memasalahkan aksara yang dipergunakan para sastrawan; tidak kita bedakan antara aksara latin dan jawi. Sikap ini menguntungkan sebab sejarah puisi kita menjadi panjang dan kaya. Satu-satunya masalah barangkali adalah kebutuhan akan usaha transliterasi; untunglah bahwa sekarang ini semakin banyak kegiatan di perguruan tinggi ke arah itu.

Menyandarkan perkembangan puisi Indonesia pada sastra lisan seperti mantra dan pantun tentu

HORISON/XXV/830——

penting, tetapi belum cukup. Puisi dalam bahasa melayu yang ditulis dalam aksara jawi ternyata mencakup berbagai mitologi; ini tentu akan memperkaya pandangan kita — penyair dan pembaca — mengenai perkembangan puisi kita secara menyeluruh. Dalam naskah-naskah berbahasa Melayu itu, yang tersebar tidak hanya di Sumatra tetapi juga di pulau-pulau lain di Indonesia, tercermin beragam ideologi. Konsekuensi dari beragamnya ideologi yang melandasi mitologi itu adalah cara pengungkapan yang kaya ragamnya. Dalam naskah-naskah itu tidak jarang kita menemukan perlambangan dan penyusunan majas yang “baru” dan “modern”, yang sangat mungkin bisa membuat tersipu penyair Indonesia masa kini. Sering dikatakan bahwa naskah-naskah semacam itu penuh dengan klise, namun tradisi kesusastraan suatu bangsa memerlukan klise-klise semacam itu untuk dijadikan landasan perkembangannya. Klise-klise itu tampak baru bagi sebagian besar kita karena memang tidak pernah mengnalnya; ini bisa mengakibatkan penyair masa kini kita berada di dalam jangkauan para penyair (yang umumnya anonim) terdahulu itu dalam soal cara pengungkapan. Namun, pemasukan sastra tulis huruf jawi ber- bahasa Melayu itu tentunya harus dilengkapi juga dengan yang berhuruf latin dalam bahasa yang sama. Abdullah Munsyi-dan Raja Ali Haji sebaiknya didampingi oleh Tan Teng Kie, penyair peranakan Cina yang pada akhir abad yang lalu menulis beberapa syair. Cara pengungkapan dalam ideologi yang ada dalam syair-syairnya — dan syair-syair yang ditulis oleh penyair-penyair peranakan Cina lain sebelum dan sesudahnya telah memperkaya tradisi penulisan puisi kita, Mungkin kita masih berpegang erat-erat pada pandangan bahwa bahasa Indonesia kita ini bersumber pada bahasa Melayu Riau, namun setidaknya harus diakui kenyataan bahwa bahsa melayu sudah sejak lama berkembang di banyak tempat di nusantara. Orientasi kita pada bahasasudah seharusnya menuntun kita pada penerimaanakan kenyataan itu. Dalam perkembangan sastrakita, wajarlah jika Tan Teng Kie yang keturunan Cina dan tinggal di Betawi mempunayi hak yang sama dengan Abdullah Munsyi, yang juga bukan keturunan pribumi dan tinggal di Singapura.

/3/

Sejarah pada hakikatnya adalah urutan peris- tiwa yang berkait-kaitan dalam sebab-akibat; sejarah puisi Indonesia pun seharusnya demikian, Kurangnya perhatian pada perkembangan puisi “lama” yang sebenarnya belum begitu lama — menye-