Lompat ke isi

Halaman:Horison 12 1990.pdf/3

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

majalah sastra HORISON

majalah bulanan SIUPP: Mo. 184/SK/MENPEN/SIUPP/D. 1/ 1986, tanggal 3 Juni 1986,

Pemimpin Umum : Mochtar Lubis Pemimpin Perusahaan : Mochtar Lubis Pemimpin Redaksi : Hamsad Rangkuti Redaksi: H.B. Jassin Taufiq Ismail Sapardi Djoko Damono Sutardji Calzoum Bachri

Penyantun/Penasehat: Mochtar Lubis Jacob Oatama Ali Audah Arief Budiman Aristides Katoppo Goenawan Mohamad Sofjan Alisjahbana Umar Kayam

Penerbit : Yayayasan Indonesia

ISSN : 0125-9016

Alamat Redaksi : Jl.Gereja Theresia 47 Telponn: 335605 Jakarta 10350

Tata Uasaha/Distributor: Gramedia Jl. Gajah Mada 104/P.O. Box 615 Telpon : 6297809 Jakarta 11001

Pencetak: P.T.Temprint

DAFTAR ISI HORISON No. 12 Thn.XXV 1990

Catatan Kebudayaan MASALAH PENYUSUNAN SEJARAH PUISI INDONESIA

/1/ Jika kita menyusun sejarah puisi Indonesia, apakah kita akan mulai dari mantra Melayu atau dari syair mengenai Kampung Gelam yang terbakar? Mantra adalah salah satu bentuk tertua dalam sastra lisan, dan jika kita memasukkannya sebagai awal perkembangan puisi Indonesia berarti pembicaraan tentang jenis-jenis puisi lisan lain seperti pantun dan gurindam menjadi penting. Dalam buku-buku pelajaran kesusastraan, yang umunya mengambil saja data sarjana Barat, puisi lisan tersebut biasanya dianggap mengawali perkembangan puisi kita. Ini berarti bahwa orientasi kita adalah bahasa: bahasa Indonesia dianggap berasal dari bahasa Melayu, dan oleh karenanya sastra Indonesia modern berawal juga dari bahasaa Melayu. Ini pada gilirannya mengajak kita untuk beranggapan bahwa telah perkembangan dari mantra Melayu ke puisi mutakhir kita; “memaksa” kita pula untuk berpandangan bahwa penyair-penyair kita kini seperti Linus Suryadi AG, Subagio Sastrowardoyo, Abdul Hadi WM, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri memiliki tradisi sastra yang sama, yakni sastra Melayu. Dengan Sutardji mungkin tidak ada persoalan; bolehlah kita katakan ia merupakan bagian yang sah dari tradisi perpuisian Melayu. Tetapi jika kita mengikutkan Linus dan Rendra juga dalam tradisi yang sama, persoalan tentu akan timbul. Penyair Indonesia yang berasal dari Jawa pasti tidak pernah menjadi bagian dari tradisi perpuisian Melayu, meskipun mereka mungkin pernah mengetahuinya serba sedikit dari buku-buku pelajaran sastra di sekolah. Jumlah penyair Indonesia modern yang tidak berasal dari tradisi kebudayaan tampaknya dominan; jadi, apakah sejarah puisi Indonesia harus dimulai dari mantra Melayu? Karena kita berorientasi pada bahasa, aspek lain seperti mitologi yang merupakan landasan utama perkembangan sastra — cenderung

Catatan Kebudayaan Sajak SAPARDI DJOKO DAMONO 829

Sajak SAJAK-SAJAK MALAYSIA 844

Epistomologi: Suatu Masalah Siang Terakhir Dalam Kritik Sastra SUBAGIO SASTROWARDOYO 832

Siang Terakhir Bagi Sabar ARIE MP TAMBA 849

Apresiasi Sastra 855

Sastra dan Politik ACHDIAT K. MIHARDJA 837

Kronik 858

Sayang, Cinta ltu Demikian Runyam JOKO KAHHAR 842 T

Kulit Muka : AM

HORISON/XXV/829——