KUSNADI lahir di Magelang, 1 April 1921, Pelukis Impresionis Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap perkembangan Se- ni Rupa Indonesia, Bersama Gusti Solihin dan Nasjah Djamin tahun 1950 mendirikan "’Pelukis Indone- «| sia". Kusnadi adalah dosen perta- ma ASRI Yogyakarta (1950 ~19 66), Ketua Redaksi “Budaya”,
- =JYogya {1952 — 1963); Kepala
Seksi Seni Rupa di Yeas (1956 ~ 1966); Ketua Dinas Se- ni Rupa di Jakarta (1967 — 1977), Berorientasi Seni Rupa di Asia, Eropa, AS, Amerika Latin, Australia dan Kanada, Juri fotografi Foto Kontes Asia—Pasifik 1981, 1983 dan 19
= & & y fa a
85 pada Asian Cultural Centre for Unesco di Tokyo, Jepang.
Banyak menulis kritik seni dalam majalah dan surat kabar sejak 1950 sampai sekarang. Menulis "Seni Rupa Indonesia dan Pembinaannya”™ untuk Direktorat Kesenian,
ALA. Navis dil, lihat Horisen nomor yang lalu.
AHMAD FAHRAWI lahir di Kan dangan, Kalimantan Selatan, pa- da 22 November 1954, Mulai gi- at menulis (puisi) sejak awal 70- an, Tapi ia merasa baru menge- nal 'sastra’ yang sesungguhnya baru pada tahun 80-an. Tulisan- tulisannya (puisi, cerpen, esei) banyak dimuat di mass media Ja-
karta, di samping, tentu saja, di daerah. Sering mendapat penghargaan dalam lomba penulis- an esei dan puisi,
AJAMUDDIN TIFANI menetap di Banjarmasin, Kesibukan- nya mengisi acara di RR] Nusantara [If Banjarmasin.
Sambungan dari hal. 431
NURDIEN H. KISTANTO lahir [~ OS —aa—_—— di Kendal, Jawa Tengah. Mulai menulis laporan seni-budaya, pu- isi, cerpen, dan esei, sejak 1976] di Suara M erdeka Semarang, ke- mudian di berbagai media cetak lainnya. Kumpulan puisi-puisi- nya berjudul Antara M ainM ain & Serius (1980), Citalita Sim- bak bagi Indonesia (1981) dan
Le
Dengan Bertapa yang akan terbit. la j juga menulis dan me- ngeditori bukuP ergbakan Nilai-Nilai Dt indonesia (alumni, 1983). Tahun 1975 mendapat B.A. untuk sastra Inggris dan awal 1980 Drs. untuk apliied linguistics dari Universitas Di- ponegoro,
WAHYU PRASETYA lahir di Malang 1957, Menulis puisi sejak | 1978, Beberapa kali memenang- kan lomba puisi, Tahun 1982 jberpetualang ke pelbagai negara fa Asean, dan tinggal beberapa ta-
hun di Berlin, Artikel-artikei
- yang dia buat sclama petualang-
jannya banyak dimuat di harian yang terbit di Malang, Kini dia mengelola sebuah penginap- an di kota Malang,
BAKDI SUMANTO adalah Ketua Dewan Kesenian Yogya- karta, Dia banyak menulis cerpen dan juga seorang penyair. Pemah bergabung di Bengkel Feater Rendra.
SALIM FAGCHRY Ishir di Kandangan Kalimantan Selatan, 8 Oktober 1935, Mulai menulis puisi sejak 1955. Puisinya ter- bit bersama penyair Kal. Sel. berjudwlP erkenalan Dalam Sa- jek, Kumpulan sajaknya Fang Berlinang scdang dalam per- siapan penerbitannya. itu terus menerus dengan rasa berang.
Pada hal kalau tukang pedati itu mempunyai perasaan kemanusiaan, sedikit saja sudah cukup, ia tak perlu sampai menyiksa demikian rupa. Ia turunkan saja drum minyak kelapa di emperan belakang, segalanya akan beres. Tapi ia lebih suka menyiksa binatang yang bodoh itu, dari pada payah-payah membongkar drum yang berisi minyak kelapa itu.
Dan dengusan yang keluar dari hidung kerbau itu kian menyentak, malah kini tajam menghunjam dalam jantungku. Aku tak bisa berpikir lain lagi. Lalu aku berteriak kuat-kuat dan sepanjang nafasku. — Berontaaaak, —
Peristiwa itu begitu cepat terjadinya. Tak sempat mataku merekam dengan sempurna. Kerbau itu terlepas dari kukungan pada lehernya. Pedati terjongkang ke belakang. Muatannya berserakan. Dan drum yang berisi minyak kelapa di emperan belakang terlepas dari ikatan, menggulir ke arah kerbau yang lain di belakangnya. Dan kerbau itu terkejut dan mendompak seperti kuda. Rotan yang dianyam menyangga lehernya terlepas. Dan kerbau itu pun lari pula menyebar ke arah kerbau yang pertama lari. Dan peristiwa itu berantai terjadinya pada semua pedati yang di pendakian itu. Hingga sepenuh jalan pendakian itu penuh oleh harang yang berserakan, pedati yang berjongkangan. Bahkan seorang isteri muda yang baru menikah, yang bibirnya merah oleh sirih, semerah kukunya yang berinai, menjerit-jerit di kolong pedati yang terjongkang itu,
Namun suaminya yang semalam telah membelainya penuh nafsu di atas pedati sambil berjalan di tarik kerbau itu, telah pergi memburu kerbaunya yang berontak. Mungkin jadi dalam pikiran tukang pedati itu, menangkap kerbau yang berontak lebih menjamin kelangsungan hidup. Sedang isteri muda yang ditimpa bencana, akan lebih mudah dicari penggantinya.
Padang, 14 Januari 1985.
HORISON/XX/443