setiap memandang kerbau-kerbau yang lewat itu. Dan dalam khayalku, andaikata tidak ada ampas makanan yang dikeluarkannya dari duburnya, tentulah ususnya yang akan keluar sewaktu menarik pedati yang sarat di pendakian yang panjang ini.
Aku kira, aku menjadi tidak normal melihat kesengsaraan binatang itu.
Aku tidak bisa menghindar lagi untuk tidak melihatnya lewat di depan warung ayah. Akan tetapi bila aku punya kesibukan lain, dan tak dapat membantu ayah seperti biasanya, serasa ada suatu kekurangan dalam hidupku, oleh karena tidak bisa melihat binatang itu dengan segala penderitaannya. Seperti telah ada kontak batin antara aku dengan mereka. Dan bahkan seperti aku dapat membaca pikirannya, kalau mereka punya, melalui matanya yang memandang padaku.
Sekali senja ketika konvoi itu lewat lagi di depan warung ayah, selagi aku mengerjakan pekerjaan rutinku membantu ayah, aku seperti mendengar kerbau itu berkata-kata. Tak jelas apa yang dikatakannya. Tapi lambat laun memperhatikan mereka lewat, apa yang dikatakannya makin jelas. Yaitu suatu pertanyaan. Pertanyaan yang sama oleh setiap kerbau yang lagi menarik pedati di pendakian yang panjang itu. Pertanyaan yang sama ke arah yang sama, Tapi tak ada pertanyaan itu yang terjawab. Pertanyaan itu selalu terdengar setelah kerbau itu memancarkan beraknya di depanku. — Wahai pedati, masih jauhkah pendakian ini? —
Memang tak ada jawab. Karena tempat bertanya benda mati yang telah ditukangi dan dibentuk menurut polapola yang tetap. Ya, senantiasa tak ada jawaban. Dan akan selamanya pertanyaan itu akan mendapat jawaban.
Selalu pertanyaan yang sama ditujukan kepada alamat yang sama. Dan selalu tak ada jawabannya.
Sesungguhnya aku bisa menjawabnya. Tapi apakah bahasaku mereka pahami? Sudah pasti tidak bisa mereka pahami. Akan tetapi karena pertanyaan itu terus dimajukan kepada pedati setiap habis berak di depanku, menyebabkan aku gemas kepada pedati itu, — Jawablah. — kataku. Tapi pedati tak hendak menjawabnya.
Karena setiap konvoi itu lewat, dan peristiwa yang sama berlanjut terus, serta aku pun selalu menyuruh pedati itu menjawab, malah akhirnya dengan bentakan, aku dengar juga akhirnya suara pedati itu. Tapi ia pun bertanya: — Wahai muatan, kerbau bertanya: masih jauhkah pendakian ini? —
Tentu saja muatan tidak bisa menjawab, sebab mereka bukan pedati dan juga bukan kerbau. Tapi kebisuan itu membuat aku gundah juga pada muatan. Lalu aku berteriak padanya, karena setiap muatan dalam setiap pedati selalu saja membisu, — Jawablah. — kataku membentak juga.
Karena berulang-ulang berlaku, setiap mereka lewat aku membentak muatan itu, setiap kerbau bertanya kepada pedati dan pedati bertanya lagi pada muatan, kudengar juga muatan itu bertanya pada tukang pedati; — Wahai tukang pedati, kerbau bertanya: masih jauhkah pendakian ini? —
Akan tetapi tukang pedati yang duduk berjuntai di langkan itu seperti bertelinga pekak. Ia tak perduli sama sekali. Konvoi pedati itu lewat. Pertanyaan terus lewat. Hari-hari pun lewat. Dan tukang pedati tak pernah menjawab, Kini aku nak pitam. Lalu aku membentak; — Jawablah. —
Aku lakukan berulang-ulang, setiap mereka lewat, setiap pertanyaan beranting di sampaikan. Dan selalu aku membentak pula. Maka akhirnya, karena kerbau nyinyir bertanya kepada pedati, pedati nyinyir melanjutkan kepada muatan, dan muatan nyinyir pula meneruskan kepada tukang pedati dan aku terus menerus membentak menyuruh tukang pedati menjawab, akhirnya aku dengar tukang pedati itu berkata : — Huss, Kau nyinyir amat. Kalau sedang di atas diam-diam sajalah. Kan bukan engkau yang payah? —
Aku marah mendengarkan jawaban itu. Tapi muatan itu begitu tololnya, sama tololnya dengan pedati. Karena apa jawaban tukang pedati itu disampaikan persis. Dan ketika jawaban itu sampai ke kerbau, kerbau memandang dengan sinar mata yang sulit aku baca.
Zaman itu zaman revolusi, zaman perang kemerdekaan, di mana aku terlibat. Maka tidak ada suatu alternatif lain dalam pikiranku, bahwa hanya pemberontakanlah yang akan dapat mengatasi siksaan. Demi melihat kerbau itu begitu tersiksanya, dengan marah aku berteriak: — Kalau kau manusia berontaklah. —
Tapi kerbau itu berjalan terus setelah dipukul-pukul bagian pantatnya dengan cemeti. Namun kemudian baru aku sadar bahwa teriakanku salah alamat, Karena kerbau itu bukan manusia, melainkan kerbau. Mestinya yang kuteriakan: — Kalau kau kerbau, berontaklah, —
Pada hari yang lain, peristiwa yang sama terjadi lagi. Malahan lebih parah lagi keadaannya. Pedati yang begitu berat muatannya, betul-betul tak mampu dihela kerbau itu pada pendakian yang panjang di depan kedai ayahku. Dua orang tukang pedati membantu memutar roda dengan mendorong jari-jarinya. Tukang pedati yang lain, duduk di kayu bum dekat tengkuk kerbau itu untuk memelihara keseimbangan muatan. Sehingga kepala kerbau itu kian tertekur dan mulutnya nyaris menyentuh jalan aspal. Busa dari mulutnya sampai berjatuhan. Dan dengusannya menyentak-nyentak sampai ke jantungku. Sedang
pemiliknya, melecut pantat kerbau
Bersambung ke hal. 443
HORISON/XX/431