Lompat ke isi

Halaman:Horison 11 1985.pdf/22

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

perti kap mobil yang dibuka ketika kerusakan mesin, Tapi biasanya muatan seperti itu terdiri dari atap daun rumbia. Dan pada umumnya setiap pedati dari pesisir itu membawa atap rumbia sebagai beban tambahan, Ditambatkan di langkan belakangnya. Ada kalanya juga, di langkan belakang ditambatkan sedrum minyak kelapa, maka tukang pedati itu akan duduk di bum pedati, yaitu pada kayu panjang yang jadi cantelan ke kuduk kerbau, Maksudnya duduk di situ, ialah untuk menjaga keseimbangan berat, pada jalan yang mendaki.

Setiap datang dari pesisir, setiap pedati akan berhenti beberapa saat di depan warung ayah. Bukan untuk beristirahat atau tukang pedati itu mau membeli sesuatu di warung ayah, Tidak, tidak itu alasannya, Melainkan kerbau itu berhenti karena buang kotoran, berak. Sebaliknya bila mereka pulang ke pesisir, mereka lewat saja dengan tenang-tenang. Tapi sambil jalan kerbau itu terkencing-kencing. Berak dan kencing selalu saja di depan warung ayah, ketika aku sedang membantu membersih-bersih atau membungkus-bungkus jualan. Jadinya, kerbau-kerbau itu selalu melakukannya di depan hidungku. Dan karenanya hidungkulah yang paling sering diterpa baunya.

Sungguh aku begitu dongkol, karena kenapa mereka selalu melakukannya di depan warung ayah. Apakah tidak ada tempat lain yang sepi. Apakah itu maunya tukang pedati? Kalau maunya, tentang apa mereka tidak menyukai kami, sehingga binatangnya harus Mmembuang kotoran di situ? Pada hal kami tidak pernah mengganggu mereka yang lewat.

Beruntunglah kotaku kota penghujan, sehingga kotoran dan bau yang ditinggalkan kerbau-kerbau itu dibersihkan secara alamiah saja. Tapi kalau tidak pada musim penghujan? Setidaknya kotoran kerbau itu sering menimbulkan kecelakaan yang menyakitkan bagi yang terkena, tapi menimbulkan tawa bagi yang melihatnya. Peristiwa kecelakaan itu terjadinya sering malam. Sejak jaman pendudukan Jepang, jalan-jalan di kotaku sudah terbiasa bergelap-gelap di Malam hari, karena listrik tidak dinyalakan di tiang-tiangnya, baik karena kekurangan strum atau karena bolanya tidak dapat diganti kalau sudah putus atau dicuri orang. Maklumlah dalam zaman perang. Bentuk kecelakaan itu lazimnya tai-tai kerbau itu ibarat yanjau darat di tengah jalan, sehingga sering bertabrakan dengan kaki orang yang lewat. Dan selalu saja ada teriakan, kalau kecelakaan itu terjadi. Tentu saja gaya teriakan itu macam-macam. Bayangkan kalau kecelakaan itu menimpa perjaka yang mau bertandang ke rumah pacarnya, atau sepasang anak muda yang baru akan keluar malam.

Aku dongkol, bukan karena kecelakaan itu. Melainkan kenapa justru di depan warung ayah kerbau-kerbau itu memilih kakusnya.

Sekali aku ikut: membantu tukang gerobak memunggah barangbarang yang baru dibeli ibu, Segoni beras aku gotong berdua dengan tukang gerobak itu. Bukan main beratnya, sehingga aku seperti orang menghejankan berak. Dan nafasku ngos-ngosan. Bahkan masih ngos-ngosan beberapa lamanya setelah beras itu ditaruh di teras warung. Dalam terkapar duduk di bangku untuk meredakan ngosngosan nafasku, aku ingat pada ngos-ngosan kerbau yang lewat di depan warung. Aku pikir, berat beras yang kugotong berdua tentulah sama kualitasnya dengan berat muatan pedati itu. Bahkan mungkin lebih berat lagi. Kalau aku hanya sampai menghejan berak tapi tak pernah keluar, namun kerbaukerbau itu sampai mengeluarkan berak. Maka pastilah muatan yang sangat berat itu akan berganda di jalan pendakian. Secara berangsur, sehabis ngos-ngosan nafasku, dongkolku pada kerbau-kerbau yang berak di depan warung pun lenyap. Malah sebaliknya kini, aku jatuh hiba ketika aku membayangkan betapa panjangnya pendakian dan berapa banyaknya yang sudah dilaluinya.

Setiap konvoi pedati itu datang dan pergi, terberak-berak dan terkencing-kencing di depan warung ayah, aku kian merasakan penderitaan binatang itu. Kepalanya tak terangkat, hingga moncongnya hampir menyentuh aspal jalan yang telah banyak terkelupas itu. Nafasnya mendengus-dengus menanjaki pendakian yang panjang. Dan ketika berhenti tepat di depan warung, aku melihat matanya memerah seperti urat-urat darahnya mau memecah. Dan matanya liar, seperti mencari-cari cara bisa melepaskan kelasa kayu yang menekan pundaknya. Jika kerbau itu lama tertegak setelah beraknya terpencar, tukang pedati itu segera menarik tali ijuk yang keras di dekat hidung binatang itu. Mungkin karena rasa sakit di hidung itu ia meneruskan perjalanannya lagi menarik pedati yang sarat beban itu.

— Mengapa ia tidak membiarkan kerbau itu berhenti sejenak lagi, supaya tenaganya pulih untuk melewati pendakian yang masih panjang? — tanya hatiku. Atau kadang-kadang hatiku menyoal, kenapa tukang pedati itu tidak mengurangkan barang sedikit berat bebannya? — Karena serakah. — teriak hatiku yang gemas.

Bila aku melihat seorang perempuan muda duduk berjuntai di langkan pedati, di bawah tirai kain yang norak wamanya, dan merekah senyum bibirnya yang merah karena sirih, sambil melirik aku dengan matanya yang jeli, tidak lagi membangkitkan rasa senang di hatiku. Aku lebih tertarik pada mata kerbau yang merah urat-urat darahnya, liar pandangannya, hidungnya yang mendengus-dengus karena nafasnya yang ngos-ngosan, serta pada buih kental yang mengalir dari mulutnya. Hatiku hiba


HORISON/XX/430