Lompat ke isi

Halaman:Horison 11 1985.pdf/21

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

joghur. Apalagi kalau diberi bertengguli gula aren. Dadih namanya.

Bukan, bukan karena itu yang menyebabkan kerbau pernah punya arti spesial dalam hidupku.

Arti spesial kerbau dalam hidupku, karena ia sering lalu lintas di hadapan mataku. Waktu itu masa perang kemerdekaan. Ayahku membuka warung sebagai pengganti lapangan hidup yang selama ini tidak menolong lagi. Letak warung ayah di tepi jalan raya di pendakian yang panjang. Persis di pinggang pendakian itu.

Setiap pagi dan sore, bila aku tak punya urusan, aku ikut membantu ayah di warung. Membersih-bersih atau membungkus-bungkus jualan. Biasanya aku suka mengerjakannya di teras. Supaya, sambil kerja, mataku bisa meliar-liar melihat orang lalu-lalang di jalan raya. Tentu saja sebagai orang muda, yang paling menarik mataku melihat anak-anak gadis. Apa lagi anak gadis di kotaku banyak yang cantik-cantik. Namun akhirnya yang paling menggoda pikiranku ialah pedati dan kerbau yang lewat.

Pada perang kemerdekaan pedati menjadi alat transpor yang vital. Tentu saja bukan untuk mengangkut orang, apalagi pasukan yang akan berangkat ke front. Melainkan barang-barang perdagangan. Seperti sayur, minyak goreng, sabun, atau daun rumbia dan lain-lain. Umumnya pedati itu milik penduduk pesisir. Maka dari tempat asalnya mereka mengangkut kelapa, minyak goreng, garam, sabun yang sodanya dari abu pelepah kelapa, atap daun rumbia, arang batok. Dari kotaku mereka mengangkut sayuran, kapur tembok, tadir bambu untuk dinding rumah. Jadi, pulang-pergi pedati itu selalu terisi. Semuanya bahan bahan yang telah dipesan langganan di kedua tempat yang dikunjunginya.

Jalan pedati itu lamban sekali. Maklum kerbau yang menariknya. Jarak antara tempat asalnya dengan kotaku ditempuhnya dalam sehari semalam. Mereka berjalan beriringan antara 10 sampai 20 pedati dengan cara berkonvoi-konvoian. Setiap konvoi berasal dari desa yang berbeda di pesisir. Dari pesisir ke kotaku jalannya mendaki. Separoh perjalanan pendakian terjal dan berliku di lereng-lereng bukit. Pendakian panjang dan paling terjal di lembah Anai. Para kusir, yang ditempatku disebut tukang pedati, menggiring pedatinya dengan ekstra berat. Roda-roda pedati dibantu memutarnya oleh rekan-rekannya secara bergantian, Di empat perhentian yang berjarak 3 a 4 jam perjalanan kerbau dilepaskan dari kalarnya untuk makan dan memamah biak. Terutama di waktu matahari terik masa istirahatnya lebih panjang. Di tempat perhentian itu selalu ada lepau. Tapi perhentian yang disukai, yaitu yang halamannya sejuk. Bukan hanya terlindung dari sinar mata hari, juga oleh karena tanahnya lembab. Dan biasanya perhentian itu selalu di dekat ada air mengalir.

Oleh karena perjalanan pulang pergi yang dibutuhkan sampai 3 hari, tukang pedati itu ada kalanya membawa isterinya ikut. Tapi biasanya yang dibawa ialah isteri muda yang baru dinikahinya. Jadinya perjalanan itu semacam perjalanan bulan madu mereka. Jika isteri ikut, langkah pedati yang biasanya digunakan sebagai tempat duduk bawah atau tidur selama perjalanan itu, di hiasi dengan kain seperti gorden yang norak warnanya. Kasur dan bantal pun dibawa. Alas dan sarungnya dari kain berwarna yang disuji dengan bunga-bungaan motivnya. Tepi sarung bantal biasanya diberi renda pula. Maka jadilah langkan pedati itu menyerupai ranjang tidur penganten.

Aku tidak tahu, bagaimana romantisnya kehidupan pasangan penganten baru itu di atas pedatinya. Dan juga aku tidak tahu, bagaimana meriahnya suasana konvoi itu. Namun aku bisa mengkhayalkan macam-macam. Stidaknya peristiwa itu tentulah akan merangsang hati tukang pedati lainnya untuk menikah lagi dengan seorang gadis atau dengan seorang janda muda. Tidak jarang aku lihat pada setiap konvoi yang lewat di depan warung ayah, ada perempuannya seperti itu. Biasanya bibir perempuan itu merah oleh sirih, semerah kukunya yang kena inai, sebagai pertanda penganten barunya. Tontonan seperti itu, bisa menarik kesimpulan dalam khayalku, bahwa tukang pedati termasuk favorit juga di kampung asalnya masing-masing pada masa itu.

Konvoi pedati dari pesisir lewat di depan warung ayah selalu pada waktu yang tetap. Sore, sehari sebelum pasar atau pagi pada hari pasar di kotaku. Kembalinya sore pada hari pasar atau pagi sehari sudah pasar. Hari pasar di kotaku dua kali seminggu, Senin dan Jumat. Jadinya, pedati yang tiba sore kembalinya besok paginya. Yang tiba pagi, kembali sorenya. Dan setiap lewat, bagaimana pun mataku terpaksa menyangkut pada kerenah tukang pedati, kerbaunya dan juga pedati itu sendiri. Type tukang pedati itu khas. Wajahnya ada yang klimis tapi ada juga yang kumisnya panjang. Di kepalanya selalu tertutup topi sebo. Yang terbikin dari kain bulu tebal, seperti topinya pemain ski es. Yang bisa digulung ke atas dan dilepaskan ke bawah sehingga bisa menutup seluruh kepala dengan hanya matanya saja yang terbuka. Wajah mereka seperti bringas kelihatannya. Setidak-tidaknya bila lewat di depan warung ayah. Pakaiannya model baju Cina dan celananya gelembong seperti celana pemain silat. Dan ikat pinggangnya lebar yang bersaku-saku. Dan setiap saku punya tutup yang berkancing jepit. Kakinya beralas dari bahan ban mobil bekas dan diikat dengan karet ban dalam. Muatan pedati itu biasanya sarat. Kadang-kadang melebihi ruang badannya. Sehingga bagian atapnya di jongkangkan se


HORISON/XX/429