yang luar biasa yang mirip dengan kekayaan para tokoh yang hanya ada dalam dunia dongeng.
Jadi pesan yang hendak disampaikan Arifin C. Noer adalah bahwa lotere menimbulkan fantasi (harapan-harapan kosong) dalam benak masyarakat. Dengan lotere orang lantas berharap menjadi kaya raya tanpa harus bekerja. Sehingga lotere menjadikan Abu terus menerus hidup dalam alam fantasi. Orang-orang di sekitarnya justru menjebloskan secara tanpa sadar ke dalam dunia fantasi yang indah tapi hanya 'cermin tipu daya' itu.
5. Penutup
Peristiwa fantasi yang terjadi dalam Kapai-Kapai adaah fantasi yang tidak disadari. Oleh karena tokoh Abu hidup dalam kemiskinan, maka ia menemukan kekayaan yang akan mengangkatnya dari lembah itu melalui lotere.
Fantasi semacam ini biasanya memang sering dialami anak-anak. Tapi pada kasus tertentu orang dewasa pun dapat saja mengalaminya. Oleh karena itu dapat disebut penyimpangan. Penyimpangan yang bersifat akut seperti yang dialami Abu, pada dasarnya juga dapat dialami oleh orang banyak atau sekelompok orang (masyarakat).
Akhirnya sebagai 'penutup' dari bagian penutup, dapatlah dikatakan di sini bahwa Kapai-Kapai yang ditulis Arifin C. Noer pada tahun 1968 adalah merupakan refleksi terhadap keadaan masyarakat pada saat itu. Bukankah pada saat itu masyarakat sedang dilanda kupon berhadiah sebangsa SDSB yang disebut nalo (nasional lotere).
Daftar Bacaan
Bertens, Kees, Pendahuluan: Riwayat Hidup dan Ajaran
Sigmund 1979 Freud. dalam, Sigmund Freud. Memperkenalkan
Psikoanalisa. Gramedia: Jakarta.
Luxemburg, Jan van, et al. Pengantar Ilmu Sastra (Düindonesiakan
1984 oleh Dick Hartono). Gramedia: Jakarta.
Noer, Arifin C. Kapai-Kapai. Pustaka Jaya Jakarta. 1979
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yayasan Penerbit
Fakultas Psikologi UGM: Yogyakarta.
Wawancara dengan Haji Soeman. H. S. .......................... (Sambungan dari hal 689) denda dengan turun gaji.
Kalau sekarang, malah ada guru yang minta rokok pada murid, Lailahaillallah.... (Berdecak dan menggelengkan kepala). Sebab, sebelumnya sudah biasa pula murid memberi rokok kepada guru. Yang dikuatirkan nanti, kalau murid pula yang minta rokok kepada guru.
Pendidikan zaman dulu mungkin ada yang menyebutnya kuno. Dulu murid pantang betul merokok. Kalau berjalan, murid tak boleh melewati guru. Kalau mau mendahului, murid harus permisi dulu. Kalau sekarang, guru pun mau dilanggar. Jadi, kurang disiplinlah.
T: Tentang bahasa?
J: Saya pernah mendengar dari seorang dosen bahwa ada ahli bahasa dari Belanda yang mengatakan, bahasa Melayu itu jauh lebih 'cantik' (bagus - FMA) dari bahasa Indonesia kita sekarang. Saya berpendapat juga begitu. Lebih menarik. Hal ini mungkin akibat bahasa Indonesia terlalu dicampurkan dengan bahasa asing. Misalnya, panggilan Om, tante. Kalau dalam bahasa Melayu ada perinciannya seperti Mak Cik, Mak Ngah, Mak Tuo. Kelebihan bahasa Melayu lagi, tak ada kata-kata naik ke atas. Cukup dengan kata naik saja, sebab setiap perbuatan naik itu pastilah ke atas, sedang turun ke bawah.
Seharusnya, ada tarik menarik antara keduanya. Yang baik dalam bahasa Melayu itu diambil, sedang yang buruk dibuang.
T: Mungkin terakhir, masih ada hal-hal lain yang perlu Bapak sampaikan?
J: Nah, saya jadi ingat dengan buku saya yang berjudul Mencari Pencuri Anak Perawan. Selama ini, banyak sekali orang-orang yang menuduh, bahwa sayalah si pencuri anak perawan yang dicaricari itu. Padahal, itu sama sekali tidak benar. Malah, sayalah yang ikut mencari pencuri itu. Kalau saya orangnya, untuk apa lagi dicari? Oleh sebab itu, saya ingin membersihkan diri saya dari segala tuduhan itu. Bahkan sebenarnya, sayalah yang dicuri ... oleh istri saya. (Tertawa geli).
HORISON/XXV/695