PERISTIWA-PERISTIWA FANTASI
DALAM KAPAI-KAPAI
KARYA ARIFIN C. NOER
WIERANTA
1. Pendahuluan
Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer (Pustaka Jaya, Jakarta, 1979. Cetakan kedua. Cetakan pertama: 1970) adalah sebuah karya sastra yang cukup populer dalam khazanah sastra Indonesia modern. Sebagai sebuah karya panggung, Kapai-Kapai pernah dipentaskan beberapa kali, baik di ibukota maupun di daerah. Pementasan itu dilaksanakan oleh Arifin C. Noer sendiri dengan kelompok Teater Kecil(-nya) atau oleh kelompok-kelompok lain yang tertarik terhadap Kapai-Kapai. Bahkan Kapai-Kapai telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling (Swami Anand Haridas) dan dipentaskan di Australia, Belgia, Malaysia dan Amerika Serikat.
Tentu saja fenomena itu menarik perhatian, mengingat Kapai-Kapai merupakan karya sastrawan dari negara yang dimasukkan dalam kelompok negara dunia ketiga. Ternyata dalam hal seni, tidak ada kotak-kotak dunia ketiga, kedua atau kesatu. Bahkan kalau kita simak cerita Putu Wijaya yang habis melawat ke Amerika Serikat, karya-karya panggung Indonesia merupakan karya yang tak kalah dahsyatnya dengan karya panggung luar negeri. Alasannya, karya-karya seni Indonesia juga memiliki pesona estetika yang bersifat universal, sehingga masyarakat Timur dan Barat tetap dapat menangkap rasa seni yang ditawarkan.
Begitu pula dengan Kapai-Kapai pasti bukan disebabkan ditulis oleh seorang Arifin C. Noer, ia menarik masyarakat dari dunia pertama. Pasti ada sesuatu-nya, mungkin pesona estetika, pesan yang dibawanya atau bahkan Kapai-Kapai mampu merefleksikan persoalan manusia yang paling men- dasar, sehingga siapa pun dapat menangkap amanat yang dibawakannya.
Dalam tulisan ini penulis mencoba menyoroti Kapai-Kapai dari perspektif psikologi. Adapun alasan yang dapat diketengahkan antara lain karena Kapai-Kapai demikian simbolik me- nyatakan pesan-pesan yang dikandungnya. Fan- tasi yang diciptakan lewat ungkapan-ungkapan simbolik demikian menggigit, sehingga Kapai- Kapai bagaikan telah dibentuk dengan fantasi yag pekat, mendayu-dayu dan sublim. Dongeng dan kenyataan bercampur menjadi satu membentuk sosik karya sastra yang sanggup mengungkapkan segi-segi kejiwaan tokoh-tokohnya.
2. Situasi Wacana Kapai-Kapai.
Kapai-Kapai merupakan karya panggung. Keadaan ini perlu mendapat penjelasan lebih dahulu mengingat wacana drama bila dibandingkan dengan wacana narasi memperlihatkan perbedaan- perbedaan yang tidak kecil. Bahkan perbedaan itu cukup mendasar, mengingat karya drama memer- lukan unsur lain seperti unsur sutradara, panggung, musik, tokoh-tokoh pembantu dan sebagainya.
Wacana narasi adalah wacana yang tidak ber- sifat dialog, isinya merupakan kisah sejarah, se- buah deretan peristiwa (Luxemburg, 1984: 119). Wacana ini dibangun melalui deskripsi pengarang dan dialog para pelaku narasi. Berbeda dengan wacana drama yang bersifat dialog-dialog, yang isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984: 158).HORISON/XXV/692-