ongkos dan pajak, ternyata angka itu masih tersisa. Istri saya senang sekali kami akan punya mobil. Saking senangnya dia memukuli saya bertubi-tubi, dan lalu menggigit telinga saya. Dengan cepat dia bahkan telah merencanakan untuk menjenguk neneknya anak-anak dengan mobil baru itu. Tunggulah nanti, mobil belum dibeli. Kamu mau pamer ya, batin saya.
Beberapa hari kemudian mobil itu sudah bisa saya bawa pulang, komplit dengan plat nomor sementaranya. Semua jok masih terbungkus plastik. Sengaja tidak segera saya buka supaya tanda kebaruannya tidak segera hilang.
Sudah saya duga, Gopel akan segera muncul setelah mendengar deru mobil di rumah saya. Dia muncul masih dengan kɛin sarungnya. Agaknya dia tadi sedang tidur-tiduran. Dari ekspresi wajahnya saya bisa meraba bahwa dia seakan-akan tidak percaya saya bisa membeli mobil itu. Mobil model baru, semua serba pencet.
"Mahal juga ya pajaknya, padahal cuma mobil begini," kata saya menyambut Gopel. Saya sengaja menunjukkan STNK sementaranya, supaya dia tahu di situ ada tertulis nama saya.
"Wah, berapa 'nih harganya?" tanyanya.
"Seperti yang sampean ceritakan. Enam puluh juta lebih sedikit," saya sengaja melebihkan. "Sampean kapan 'nih ganti mobil, jangan cuma rencana melulu?" lanjut saya dengan gagah.
Dia diam saja. Tapi saya
senang. Sore itu dia pulang dengan
wajah yang sangat buruk.
Tiba-tiba timbul pikiran nakal
saya. Misalkan suatu saat saya
bisa pulang dengan helikopter,
tentulah Gopel bisa jadi gila atau
mati mendadak. Saya jadi percaya
pada omongan para tetangga
tentang dia. ***
HORISON/XXV/712