punya istri," sahut saya.
"O," dia seperti disadarkan. "Yah," katanya kemudian sambil mengangkat kedua bahunya.
Sore itu dia pulang dengan wajah gembira yang aneh. Dia tidak mengatakan apa-apa ketika pulang. Tapi setelah saya pikir-pikir, percakapan kami tadi aneh. Buat apa dia mencampuri urusan Vespa saya? Baru setelah dia pergi saya teringat kembali pada nada bicaranya. Sepertinya dia hendak mengatakan: Kok cuma Vespa!"
Ah, sudahlah. Barangkali itu cuma pertanyaan saya saja. Buktinya sore berikutnya dia tidak lagi menyinggung soal Vespa saya itu. Tapi dia tetap menceritakan rencananya untuk mengganti mobil dengan model yang serba pencet itu.
"Kapan ganti, kok rencana terus?" tanya saya setelah jenuh dengan ceritanya itu.
"O, sebentar lagi, Akhir semester ini," jawabnya.
"Berapa sih harganya?" tanya saya lagi.
"Kurang lebih enam puluh juta."
"Mahal."
"Memang mahal."
Saya terkejut. Apa saya tidak salah dengar? Dia berkata dengan bangga seakan-akan mobil pencetan itu sudah menjadi miliknya.
"Kapan beli mobil 'nih?” tanyanya balik kepada saya.
Saya terkejut lagi. Tapi buru-buru saya menjawab pertanyaan itu dengan: "Vespa itu saja belum lunas."
Sore itu saya melihat lagi dia pulang dengan wajah gembira yang aneh. Saya kembali menganalisa percakapan kami tadi. Kapan beli mobil, tanyanya. Saya tak habis heran, bukankah dia ingin mengatakan pada saya "Kok Vespa terus" saya jadi ti
dak suka dengan wajah gembiranya yang aneh itu. Suatu ketika anak-anak minta diantar ke pantai. Supaya tidak terlalu repot, saya meminjam mobil teman. Vespa saya tinggal di rumah teman itu, supaya dapat digunakan kalau dia sewaktu-waktu memerlukan. Melihat saya pulang bawa mobil Gopel buru-buru datang ke rumah. tidak boleh bertengkar hanya karena masalah sepele seperti itu. Dan lagi, sebagai tetangga baru saya harus tahu diri. Tapi diam-diam saya medendam padanya. Wajah gembiranya yang aneh itu sungguh tidak mengenakkan perasaan. "Kapan punya mobil sendiri?" tanyanya lagi. Subhanallah! Saya merasa seperti ditampar telinga saya "Wah, baru ya?" katanya, atau mendengar pertanyaan yang tepatnya: teriaknya. Saya teringat pada wajah gembiranya yang aneh yang tidak saya sukai itu, maka saya cepat-cepat berbohong. “Seperti sampean lihat, tidak baru betul," seakan-akan mobil itu punya saya. "Mau ke mana?" "Ke pantai, anak-anak minta," tidak sengaja saya menginjak kaki istri saya. Dia menjerit-jerit dan lalu memukuli saya dengan segala kekenesannya. Saya melihat ke arah Gopel, takut kalau-kalau adegan itu menyinggung
perasaannya.
Tapi saya lihat dia
tidak terpengaruh sama sekali
dengan adegan romantis tadi. Dia
sedang asyik meneliti mobil
pinjaman saya itu.
"Selamat deh,” katanya, lalu
ngeloyor pergi.
Saya merasa masgul. Selamat
apa?
sungguh tidak sopan itu. Mudah-mudahan
istri saya di belakang
tidak turut mendengarnya. Saya
tetap berusaha sabar, sebab setan
takut pada orang yang sabar.
Esoknya dia melihat saya sudah memakai Vespa kembali. "Mobil yang kemarin ke mana?" tanyanya. "Cuma pinjam kok," jawab karnya dengan mobil. Ada saya kalem. "O, cuma pinjam to,” katanya lega. Lalu ia pandangi saya seperti menghadapi pengemis yang jongkok di ambang pintu. Hampir saja saya tak tahan mendengar nada bicaranya. Tapi untunglah saya berhasil mengusir jauh-jauh setan yang bersembunyi di hati saya. Saya
"Kapan-kapan saja," jawab saya kalem.
Beberapa minggu kemudian buku saya terbit. Saya memperoleh royalti agak lumayan. Saya menyerahkan uang itu pada istri saya, dan merundingkan untuk apa sebaiknya uang itu digunakan. “Saya pingin punya lemari es," katanya."
Saya setuju. Besoknya lemari es itu sudah ada di rumah. Ketika Gopel datang, dia disuguhi teh manis dingin oleh istri saya.
"Lho, sudah punya lemari es ya?" komentarnya.
Saya mangkel sekali mendengar perkataan itu. Tapi biarlah. Saya sudah berniat untuk sabar.
Ketika Vespa itu sudah lunas
angsurannya, saya ingin menukarnya
dengan mobil. Ada
seorang teman Tionghoa yang
punya agen mobil, menawarkan
discount istimewa pada saya.
Saya pulang dulu, merundingkan
hal itu dengan istri saya. Saya
membuka buku tabanas dan
melihat angka-angkanya di situ.
Saya berpikir cepat. Setelah
harga mobil dipotong discount
istimewa lalu ditambah ongkos
HORISON/XXV/711-