GOPEL
AGUS FAHRI HUSEIN
Namanya Gopel. Sebelum saya pindah ke kampung itu, dia sudah bertempat tinggal di situ. Rumahnya bagus, gaya Eropa. Halamannya luas, penuh rumput serba hijau menyegarkan. Rumah itu selalu bersih dan sepi, jarang menerima tamu. Menurut tetangga kiri-kanan, dia sulit bergaul di kampung itu. Orangnya sombong, kata mereka. Tapi sejak saya di situ, sedikit demi sedikit Gopel mulai akrab dengan saya.
Umurnya mungkin sudah tiga puluh lima atau sekitar itu. Wajahnya halus, tak dibiarkan nya satu bulu pun tumbuh di wajahnya. Belum kawin. Tinggal berdua saja dengan pembantunya yang tua. Mana bisa kawin, kata tetangga-tetangga saya, bergaul pun tidak pernah. Perempuan 'kan tidak mau mendahului, kata mereka lagi. Memang, saya pikir, sebaiknya dia kawin, supaya ada yang mengurus rumahnya, ada yang menghiburnya, ada yang ... Saya saja yang jauh lebih muda dari dia sudah punya anak dua. Dan sekarang merencanakan yang ketiga. Untuk apa dia mencari duit banyak-banyak, membangun rumah bagus, kalau tidak punya istri, tidak punya anak? Kebahagiaan apa lagi selain punya anak? Apa dia tidak normal? Saya pikir Gopel normalnormal saja. Tubuhnya bagus, atletis, otot-ototnya nampak, dan wajahnya tidak buruk. Dan dia punyɛ. kekayaan yang cukup untuk kawin. Apa dia lebih suka sendirian? Tetangga-tetangga saya menjawab pertanyaan itu dengan: ya. Gopel tidak pernah kelihatan berdua kecuali dengan pembantunya itu, kata tetangga saya di seberang lorong. Dan belakangan dengan Mas. katanya lagi sambil ibu jari tangannya mengarah kepada saya.
Setelah tinggal di kampung itu beberapa lama, sedikit banyak saya mulai tahu tentang Gopel. Semakin sering pula dia mampir ke rumah saya, masih dengan mobilnya dan pakaian nya yang necis. Dia sering bercerita tentang mobil sedannya itu, dan berencana untuk mengganti mobil itu dengan model yang terbaru, yang kaca spionnya bisa naik-turun dan berputar-putar sendiri hanya dengan memencet tombol kecil di depan kemudi. Saya hanya tersenyum saja mendengar rencananya itu. Ia sekarang mengajar di beberapa universitas sekaligus, pagi sampai sore. Malamnya menyiapkan bahan kuliah atau mengoreksi pekerjaan mahasiswa. Tapi setiap sore dia tetap menyempatkan diri mampir ke rumah saya, ngobrol dengan anak-anak dan istri saya. Kadang-kadang dia mau juga minum teh atau kopi bikinan istri saya.
Suatu hari saya mengganti motor bebek saya yang hampir busuk dengan Vespa. Baru, tetapi saya kredit lewat kantor. Apa boleh buat, memang bisanya begitu. Sorenya Gopel melihat Vespa itu. Dia menatap saya lama-lama.
“Kenapa tidak beli mobil sekalian saja," katanya dengan nada kasihan. "Sekarang 'kan musim hujan. Dan lagi naik motor 'kan bisa merusakkan paru-paru." Saya hanya tersenyum saja: "Ini pun kredit," kata saya "Kredit?" ulangnya. "Lho, pangkat sampean kan tidak rendah. Gaji sampean beberapa bulan 'gitu saja 'kan sudah cukup. Sampean 'kan banyak nyambi."
"Iya, tapi saya punya anak,
HORISON/XXV/710-