7.
Jika lagi kehabisan, ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. Kadang-kadang mereka saling antar mengantar sayuran atau makanan kecil. Kadang menompang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya mesin jahit. Dan andaikata, ada pompa air yang rusak, atau listrik yang korsleting, tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.
8.
Sesekali, ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Biasanya, soal anak-anak yang berantem. Anehnya, sementara ibu-ibu itu masih bersungutsungut, anak-anak mereka sudah berbaikan kembali.
9.
Kurasa gang kami tak pernah sepi. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel, teriakan anak-anak bermain, teriakan penjaja sayuran dan makanan. Dan lepas tengah hari, di saat warga sedang terkantukkantuk disengat panas Jakarta, terdengar mengalun suara anakanak mengeja Juz Amma dari madrasah : "Aanakum, Ainakum, linakum, Aunakum, Uunakum, Baanakum, Bainakaum, Biinakum, Baunakum, Buunakum, Taanakum, Tainakum, Tiinakum, Taunakum, Tuunakum, Tsaanakum, Tsainakum, Tsiinakum, Tsaunakum, Tsuunakum............
Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas, mengasyikan, mengantar kantuk, melayang jauh dihantar angin siang.
10.
Apa saja yang dimasak tetangga, tak bisa dirahasiakan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana, ke sepanjang gang. Yang paling cepat ketahuan, kalau ibumu menggoreng ikan asin. Yang ini, sungguh menitikkan air liur.
11.
Lepas Isya dan makan malam, boleh dikata selalu ada permainan domino, lebih terkenal: gaple, di luar pekarangan rumah. Pada malam minggu, bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Atau juga, begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tak tahulah.
12.
Berbeda sedikit dengan harihari biasa, sekali sebulan pada petang Jumat, orang-tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Kami yang muda-muda, sebagai basa-basi, ikut hadir. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka.
Di tengah pengajian sedang berlangsung, ayah-ayah kami pada mengantuk. Heran, kalau main gaple semalam suntuk, mata itu bisa melotot terus sampai pagi, ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Menurut Ustadz Malik, setengah melucu, setengah menyindir: "Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian, tanda setan sedang mengencinginya!"
Tiba-tiba , semua membuka matanya lebar-lebar, sedikit kaget dan lantas tertawa. Menertawakan siapa?
13.
Jika yang tua-tua senang gaple, kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul, menyanyi dan main gitar, persis pengamen jalanan. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Kami menyebutnya 'markas'.
Semua jenis lagu kami senang, mulai dari dangdut, pop sampai keroncong. Tapi yang mendapat tempat di hati kami, agaknya dangdut dan pop itulah. Sekalisekali ada juga yang mencoba seriosa, atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya, tapi tak kena: sumbang, dan yang lain segera menyorakinya. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus.
14.
Sekali-sekali, anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami, tak sampai larut. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Atau disusul adiknya disuruh pulang.
15.
Bagiku, semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah, Martin, Najib, Tony Handoko dan beberapa anak tertentu.
Usia kami tak jauh beda, hampir sebaya. Dulu ketika masih kecil, kami sering berantem. Sekarang tidak, kami saling menjaga, saling menenggang. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain.
16.
Hamzah gitaris andalan kami, sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. "Inggris, ni yee?!" ejek anak-anak.
"Maklum, deh," tambal, yang lain.
Tapi Hamzah tidak marah. Tak acuh saja.
Dan sekarang, bacaannya
bukan komik lagi, bukan cerita
silat lagi. Pokoknya, berat, deh!
Bayangin, kalau dia lagi sendi
HORISON/XXXIV/697