A. CHANIAGO HR. Puisi puisi Uraiku dari Mentawai - PENGANTAR mereka percaya akan adanya "sesuatu". Yang bernama "sesuatu" itu ada pada setiap manusia. Ada pada setiap alam, la ada di gunung, pohon, lembah, teluk, ombak, dan lain-lain. "Sesuatu" itu dinamakan "amania" atau "ulau mania". Untuk kata ini orang Mentawai punya nama yang "modern", yakni “uquinia”, dipinjam dari para Rohani- wan Katolik Roma. Kepulauan Mentawai terletak di tengah deburan om- bak Sumatera Barat, di lepas pantai barat pulau Sumatera. Terdiri dari beberapa pulau, di antaranya yang besar pu- lau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Secara administratif masuk ke dalam lingkungan Kabupaten Pa- dang/Pariaman, Propinsi Sumatera Barat. Sedangkan pembangunannya diurus langsung oleh Kantor Gubernur/ SUTIDDOMEI SIKEREI Kepala Daerah Propinsi Sumatera Barat melalui Proyek Otorita Mentawai. Penduduknya lebih kurang 30.000 orang, sebagai suku bangsa yang mendukung kebudayaan Mentawai de- ngan latar belakang kepercayaan animisme dan dinamisme bernama "Sabulungan". Sekarang, penduduk suku bangsa Mentawai, telah menganut tiga agama besar: Kristen Protestan, Katolik Roma dan Islam; walaupun kepercaya. an “Sabulungan” tak mudah untuk pupus dari dada orang Mentawai. Orang Mentawai, salah satu suku dari anak-rumpun Melayu Tua, hidup secara patrilineal. Mereka tidak me- ngenal bahaya yang berarti dari alam, sebab alam meru. pakan sahabat akrab bagi setiap orang Mentawai. Mereka tidak mengenal binatang-binatang buas, kecuali dari "kabar" yang disampaikan oleh dongeng dongeng orang "Sareu" (Minangkabau) yang sayup-sayup mengiang di telinga mereka. Untuk nama-nama binatang buas dan senjata-senjata tajam atau tentang benda-benda yang ta- dinya asing bagi mereka, orang Mentawai meminjam dari perbendaharaan kata "Sisareu". Mereka berdendang ten. tang alam demikian mesranya; termasuk di dalamnya dendang-dendang tentang pohon-pohon, binatang-bina- tang, bukit dan lembah, ombak, pantai, tēluk dan bunga bunga. Tidak adanya perasaan takut pada alam, mengakibat- kan setiap orang Mentawai tidak punya problem yang ber- arti dalam perbenturannya dengan alam. Mereka baru punya problem yang penting, ketika berhadapan dengan diri mereka sendiri. Misalnya kepada yang bernama sakit, kecewa, kesal atau pada yang bernama mati. Dalam re- nungan mereka, tentulah ada yang menyebabkan seseorang itu kesal, kecewa, sakit, mati dan lain sebagainya. Maka Setiap manusia dalam hidup berkelompok ada seorang pemimpinnya. Maka setiap "amania" juga ada pemimpin- nya. Itulah dia yang bernama Ulau Mania Kamanna, Itu- lah "tokoh" Yang Maha Esa dalam alam pikiran dan ke- percayaan Sabulungan. เม Setiap orang mendapat "peristiwa" dari amania. Itu tentulah aca sebab musababnya. Manusia ingin mengeta- huinya. Munusia melakukan hubungan dengan amania. Tak semt arang manusia bisa berhubungan. Hanya manu- sia yang mempunyai ilmu pengetahuan untuk manusia yang dikehendaki oleh amania. Manusia yang demikian disebut Sikerei. Ia adalah dukun, guru dan cen- dekiawan yang memimpin manusia dalam hubungan. hubungan dengan.amania. Berlainan dengan kepala "uma" yang mewarisi jabatan kepala clan (kepala um:) secara turun-temurun, maka Sikerei dijabat oleh orang yang ber- hasil mendapatkan ilmu pengetahuan untuk berhubungan dengan amania. Kepercayaan tersebut bernama "Sabulung- an" dengan tokoh "Sikerei" yang mempunyai peranan be- sar dalam lingkaran kehidupan orang Mentawai. Apabila seseorang mendapat sakit, maka Sikerei itu- lah yang menjadi dukun. Sikerei mengobati pasiennya de- ngan mengucapkan jampi-jampi, dan terkadang melakukan tarian. Jampi-jampi ini berupa puisi yang mirip mantera (bentuk puisi yang kita kenal dalam kesusasteraan Melayu Lama) atau manto (mantau dalam kesusasteraan-lisan Minangkabau). Adakalanya strukturnya lepas dari jenis mantera walaupun isinya tetap berkedudukan seperti man- tera, Jenis itu dinamakan Sutiddomei Sikerei. Tiga buah puisi Sutiddomei Sikerei, masing-masing Szok an lek sa- rauman, elek bajak; Silok an lek sahauman, elek ins, Gan Topinia Kubek Akek, digabungkan menjadi satu hingga menjadi seuntai sajak, sebagai berikut : HORISON/XII/243
Halaman:Horison 08 1978.pdf/19
Tampilan