CATATAN KECIL
SURACHMAN RM
Surachman RM Berijazah sarjanamuda hukum dari Universitas Indonesia, Jakarta, sejak 1958 ia menjadi jaksa di- kota Purwakarta, Karawang, Bandung dan Cimahi. Pernah pula menjadi anggota DPRD-GR Kabupaten Bandung (1967-1969) mewakili golkar Cendekiawan. Memperoleh gelar Sarjana Hu- kum (jurusan internasional) dari Universitas Negeri Pajajaran, Bandung tahun 1968. Dari musim panas 1969 sampai musimpanas 1970 Su- rachman berada di Amerika Serikat, mengikuti seminar "Admi- nistration of Criminal Justice", pada College of Law Syracuse University, Syracuse, New York State, dan mengikuti beberapa matakuliah yang berhubungan dengan itu. Kemudian melaku- kan serangkaian peninjauan pada beberapa badan peradilan dan penegak hukum dibeberapa kota di Negara Bagian New York. Dalam summersessions 1970 mengikuti kuliah International Re- lations pada Maxwell School of Citizenship dan Communications Theory pada School of Journalism, kesemuanya masih di Syracuse University. Kini ia ditempatkan pada Direktorat Pusdiklat Kejaksaan Agung R.L., Jakarta. Dilahirkan di Garut, 13 September 1936, tetapi dibesarkan dikota distrik Cibatu, Jawa Barat, Surachman menulis mula' dalam bahasa ibunya: Sunda. Dalam perkembangan selanjutnja mulailah menulis dalam bahasa Indonesia, terutama puisi. Dua kumpulan sajaknya masih dalam persiapan, yaitu "Lagu Achir Djuli" dan "Dibalik Matahari". Dalam bahasa Sunda telah terbit kumpulan sajaknya: "Surat Kayas" (Balai Pustaka, 1968). Se- dang sebuah lagi "Basisir Langit" dalam proses penerbitan, juga oleh Balai Pustaka. Tulisan dan sajakinya dapat ditemukan pada majalah dan harian dikota Bandung, Jakarta dan Surabaya, antara lain ma- jalah: Gelora Horison, Indonesia, Kisab, Sastra dan Siasat (Ge- langgang).
TON NAKAJIMA
Ton Nakajima meninggal 1942 pada usia tiga puluh tiga ta- hun. Berasal dari Tiongkok dan memiliki pengetahuan luas ten- tung sastra klasik Tiongkok. Pernah juga belajar sastra Inggris, Perancis dan Jerman. Begitu lulus dari fakultas sastra Jepang, Universitas Tokio, ia langsung memegang jabatan di pemerintah- an, Buku "Cahaya, Angin dan Mimpi" dari Nakajima yang ter- kenal terbit 1952.
Cerpen Nakajima memberi kesan kecerdasan yang tinggi dan daya fantasi yang unik yang kadang mengingatkan kita ke- pada Ryunosuke Akutagawa atau Franz Kafka. Ia dikagumi ka- rena pengertiannya akan gaya sastranya: kesan memadat yang jernih dalam bahasa tanpa diragukan merupakan pantulan pe- ngaruh gaya klasik Tiongkok.
"Harimau-Penyair" (Sangetsuki) terbit tahun 1942. Cerpen ini menyatakan dalam bentuk yang orisinil konsepsi lama me- ngenai karma, yaitu hidup seseorang pada suatu masa ditentu- kan oleh tingkah lakunya dalam masa sebelumnya. TH. SUMARTANA Th. Sumartana lahir di Banjarnegara 15 Oktober 1944. Lu- lus Sekolah Tinggi Theologie Jakarta, Desember 1971. Seka- rang bekerja sebagai Redaktur Theologie pada Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia" sejak April 1972.
(Sambungan dari hal. 253) terdengar lagi suara Li Cheng dalam nada jang sinis:
„Tanpa sangsi, kupikir kau sudah menduga bahwa permintaan jang kedua tadi kuadjukan lebih belakang. Dan engkau benar. Itu memang tepat karena aku termasuk orang jang mementingkan perhatian orang terhadap sadjak²-ku lebih dahulu dari pada kepentingan istri dan anak²-ku ketika aku sudah berganti rupa. Disamping itu, bolehkah aku mengandjurkan agar dalam perdjalanan pulang kau menempuh djalan jang lain? Pada saat itu mungkin aku sudah tidak mengenali sahabat lama lagi dan tidak ingin terbit pikiran bahwa djari²-ku akan mengojak tubuhmu sebelum digerogoti. Bila kau ingin mempererat persahabatan kita sekali lagi, pada saat kau tiba dipuntjak bukit jang berikut, berhentilah sedjenak dan menolehlah kebelakang. Saat itu kau akan melihat diriku untuk terachir kalinja dan dengan begitu lenjaplah keinginanmu untuk bertemu lagi."
„Selamat tinggal, kawanku,” kata Yuan Ts'an dengan hormat kearah semak belukar. Dengan gerak jang anggun ia naik kuda dan meninggalkan tempat itu dengan diikuti pengiringnja. Dari balik semak terdengar isakan jang tertahan.
Ketika iring²-an itu tiba dipuntjak bukit, Yuan Ts'an menoleh kebelakang menatap semak belukar jang baru mereka tinggalkan. Tiba seekor harimau melompat dari balik rerumputan. Selama sesaat hewan itu berdiri diatas djalan, lalu menengadahkan kepalanja ke arah rembulan sambil mengeluarkan raungan tiga kali, Selagi gema raungan jang terachir, belum lenjap, harimau itu melompat masuk semak belukar lagi dan hilang dari penglihatan, ***
Terdjemahan: Benjamin W.
Madjalah Kebudajaan Umum BUDAJA DJAJA Redaksi/T.U./Iklan: Gadjah Mada 110A. Telp. 22056, Djakarta P.O. Box. KOMPAS 615 DAK. HORISON / 255