Lompat ke isi

Halaman:Horison 08 1972.pdf/29

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Yuan Ts'an memerintahkan salah seorang pengiringnja mengambilkan kwas dan men tjatat semua sadjak di rerumputan itu. Dalam suara jang djernih Li Cheng mem batjakan tiga puluh sadjak aneh bergaja angkuh dan penuh perasaan mendalam. Meskipun begitu, selagi Yuan Ts'an menulis sadjak² itu ia melihat bahwa temannja tidak mungkin mendjadi penjair besar seumur hidupnja. Li Cheng memang seorang penulis jang ahli dan tjerdas, tetapi ia tidak memiliki pantjaran ketjerdasan tinggi jang mampu menghidupkan puisi.

Ketika Li Cheng selesai membatjakan sadjak-nja, ia berhenti sebentar lalu menjambungnja dalam nada keras dan agak memandang rendah ― nada jang tetap diingat oleh Yuan Ts'an sedjak masa peladjar mereka:

"Memang absurd sekali. Malam hari ketika berbaring didalam gua, aku mimpi kumpulan sadjakku sudah di djilid mendjadi satu dengan sampul indah dan tergeletak diatas medja seorang tjendekiawan ibukota. Ia mengambil buku itu dengan penuh hormat dan mulai membatja ...... Pikiran jang dungu! Ketawalah! Tertawakan orang dungu ini jang mimpi mendjadi penjair besar tetapi hanja mendjadi harimau!"

Perasaan Yuan Ts'an djauh dari andjuran itu selagi ia mendengarkan suara temannja jang penuh kepahitan. Ia teringat betapa di masa lampau sikap kompleks dari Li Cheng ini merupakan tjiri²-nja jang chas.

"Benar, diriku hanja sasaran tertawan sadja," sambung Li Cheng dalam nada jang mentjibirkan kalimat itu sendiri. "Dan inilah sebuah sadjak terachir, melalui mana kuingin kau mengingat diriku. Aku menjusunnja pada saat salin rupa itu terdjadi ...... sebuah sadjak mengenai seorang dungu seperti aku,"

Yuan Ts'an menjuruh bawahannja melandjutkan tugasnja. Dan Li Cheng mulai membatja:


Musibah datang berturut
Hingga pikiranku menjerah;
Penjakit menggerogoti untuk
Mendjadikan diriku ke bentuk ini.

Sekarang aku menghuni gua kotor
Ketika kau menunggang kereta kentjana.

Malam tadi aku berdiri dipuntjak bukit
Menatap sinar perak rembulan.
Bukan raung barimau jang
bergema diperbukitan,
Tapi djerit penderitaan.


Sementara itu tjahaja rembulan, embun pada rumput dan angin dingin semilir menundjukkan bahwa pagi sudah mendekat. Yuan Ts'an dan pengikutnja telah sadar dari kedjutaan nasib jang menimpa Li Cheng. Mereka tidak lagi takut terħadap harimau-penjair, tetapi mulai kasihan terhadapnja.

„Wahai Betapa tragis nasib manusia!” gumam mereka. „Dengan kepandaian dan bakatnja ― toh nasib menghendaki achir jang begini.”

Lalu suara Li Cheng terdengar lagi.

„Tadi sudah kukatakan bahwa diriku menolak sebab dari perubahan wudjut int. Dan itulah jang kulakukan ketika semuanja baru terdjaḍi. Dalam tahun terachir, aku berpikir diriku telah sanggup menerima sekeping kebenaran.

„Ketika masih mendjadi menusia aku menutup diri dirumah keluarga dan meninggalkan semua orang. Orang mengira sikapku itu menundjukkan keangkuhan dan aneh, tanpa sadar bahwa alasan terbesar lahir dari kehilangan akan kepertjajaan diri sendiri. Aku berterus terang padamu bahwa disiku ― selaku orang paling tjerdas diseluruh kota ― penuh perasaan bangga. Tetapi kebanggaanku merupakan kebanggaan jang malu² ― kebanggaan seorang penakut.

Meskipun telah memutuskan untuk mendjadi penjair, aku enggan beladjar di bawah guru jang ahli atau dengan sesama seniman. Semua itu karena ketakutan akan kejakinan diri sendiri karena setjara tidak sadar aku tjemas bahwa bila bergaul dengan sesama penjair, ketjemerlanganku sebagai seorang genius hanja merupakan kenangan masa lalu belaka.

„Sedang saat itu aku berharap dan setengah jakin bahwa semua kemampuan itu benar suatu kenjataan dan aku memutuskan untuk tidak bergaul dengan orang jang tak mengedjar tudjuan seni. Dengan begitu aku memutuskan hubungan dengan dunia luar dan hidup mengisolasikan diri didalam lingkungan keluarga sadja. Kian lama ketika kesulitan keuangan mulai muntjul, aku malah tambah memandang orang lain sebagai budak dari uang. Tetapi bersamaan dengan itu muntjul ketakutan bahwa diriku bukanlah seorang genius sedjati. Kebanggaan dan kehilangan kepertjajaan kedua unsur itu berketjamuk mendjadi satu bagaikan bagian dari diriku.

„Bukankah pernah dikatakan bahwa alamiah kita merupakan mahluk liar dan tugas kita sebagai manusia ialah mendjadi seorang pelatih jang menahan, luapan² hewaniah. Dan bahkan melatih untuk melakukan tugas jang bertolak belakang dengan kebuasan. Kebanggaan jang sudah kehilangan kepertjajaanku itu merupakan seekor binatang liar dan meskipun aku tjukup memiliki ketjerdasan serta berbudaja, diriku sudah hampir tidak sanggup mengontrol luapan hewaniah itu. Kebanggaan itulah jang merintantangi aku mendjadi seorang penjair besar. Aku tahu banjak orang jang lebih tidak berbakat tetapi dapat mentjapai hasil seni memuaskan karena dengan rendah hati mereka menelan karja² orang lain dan mengadakan pengetrapan jang terus menerus. Benar, kebanggaan itulah jang menjeret keluargaku ke dalam djurang kemelaratan dan diriku ke lembah penderitaan! Kebanggaan jang sudah terlalu menguasai diriku itulah jang membuat aku terpaksa mengalami ganti rupa ini ― baik dalam bentuk, maupun djiwa.

„Sekarang waktu untuk menjesal telah berlalu. Hari²-ku sebagai manusia telah liwat dan sisa² terachir dari kemanusiaanku djuga mulai menguap. Alangkah sia²! Sajangnja! Seringkali mendjelang malam aku berdiri sendirian diatas batu²-an itu dan meraung ke arah lembah jang lengang. Tiadakah jang mengerti akan penderitaanku? Hewan ketjil jang mendengar raunganku langsung sadja merapatkan tubuh mereka dengan penuh ketakutan. Gunung² dan pepohonan, rembulan dan embun, mendengar djeritanku dan kagum terhadap keganasan raungan seekor harimau. Aku terdjun kebawah melempar diri ke atas tanah dan terus meraung sepandjang malam. Tetapi tidak seorangpun, tak ada, jang mengerti rasa putus asa jang mentjabik² diriku. Dan begitulah djuga keadaannja ketika aku masih mendjadi manusia.......”

Saat itu kelam hampir tersapu bersih sama sekali. Dari kedjauhan terdengar bunji terompet sang pemburu.

„Saat berpisah telah tiba,” udjar Li Cheng. Djam-djam kegaiban telah berlalu dan sebentar lagi aku mendjadi harimau baik dalam bentuk maupun djiwa. Tetapi idjinkan daku mengadjukan satu permintaan lagi, Bila kau kembali ke utara, datanglah kerumah keluargaku di Kuolueh. Djangan katakan apapun tentang pertemuan ini, sebaliknja katakan bahwa dalam perdjalanan ini kau mendengar berita tentang kematianku. Dan bila mereka kekurangan pangan dan perlindungan, kasihanilah mereka. Aku memohon dengan sangat."

Ketika Li Cheng selesai mengutjapkan kalimat itu, dari balik semak terdengar rintihan jang memilukan. Dengan hati tergugah, Yuan Ts'an berdjandji. Lalu

(Bersambung ke hal. 255)