gaiban. Tetapi saat itu semuanja tampak biasa. Tepat seperti bila bermimpi, kita tidak mungkin menolak hal-hal jang paling aneh sekalipun. Ia memerintahkan pengawalnja untuk menanti, lalu merapat kan dirinja kepada semak² untuk mulai berbitjara dengan temannja.
Mula² ia mentjeritakan berita² dari ibu kota, gossip terachir mengenai bekas teman² sekolah mereka dan suasana dari pekerdjaannja sekarang. Suara dari balik semak itu mengutjapkan selamat atas pangkat jang ditjapainja. Sesudah itu kesunjian jang mentjengkam menguasai keduanja. Achirnja Yuan Ts'an memaksa diri menga djukan pertanjaan: "Apakah jang terdjadi atas dirimu?"
Dari balik semak² jang tinggi itu suara Li Cheng mentjeritakan kisah ini:
“Setahun lalu aku dikirim ke selatan untuk sesuatu tugas. Di tengah perdjalanan aku menginap di dekat sungai Ju. Aku tjepat masuk kamar dan langsung tertidur. Tetapi sebentar kemudian aku terbangun oleh suatu suara aneh jang memanggil namaku. Aku membuka djendela dan memandang keluar. Dari arah kelam sebuah suara jang tidak djelas memanggilku dan sesuatu mendorong diriku untuk memenuhi panggilan itu.
“Tanpa ragu aku lontjat dari djendela dan berlari diantara kegelapan, Lari terus bagaikan sedang kerasukan tanpa tudjuan jang djelas. Tanpa kutahu lagi diriku sudah berada di djalan setapak jang menudju hutan. Dan jang mengedjutkan, aku melihat diriku berlari diatas keempat anggota tubuh. Aku merasa diriku sanggup berlari lebih tjepat dalam posisi ini. Selagi berlari, terasa kekuatan gaib mengisi tubuhku jang membuatku sanggup melontjat setjara ringan di antara batu²-an dan batang pohon. Lalu terlihat bulu tebal mulai tumbuh diantara djari²-ku, tangan dan bahuku, sebenarnja sudah meliputi seluruh tubuh. Pada saat itu aku sudah terlupa akan suara tadi, tetapi diriku masih tetap meladju ― berlari demi lari itu sendiri, agaknja.
"Ketika matahari mulai memantjarkan sinarnja, aku berhenti di tepi anak sungai dan memandang kearah air jang djernih. Langsung sadja aku melihat bahwa diriku sudah berubah djadi seekor harimau sempurna. Begitu kedjutan pertama hilang, aku dapat menarik napas lega karena semua ini hanjalah mimpi belaka. Memang aku sering mimpi jang buruk, dimana aku sadar bahwa diriku sedang mimpi. Tetapi berdjam² kemudian aku terpaksa menerima kenjataan bahwa semua ini bukanlah mimpi. Saat itulah untuk pertama kalinja aku benar² diliputi ketakutan maha dahsjat. Jang paling kutakutkan ialah perasaan bahwa semua norma² hidup normal sudah hantjur dan sedjak saat itu apapun dapat terdjadi, termasuk jang paling menegrikan.
“Aku berbaring diantara rerumputan dan mulai merenungkan semuanja setjara seksama. Mengapa semua ini terdjadi? Aku menanjakan diri sendiri, tetapi tiada djawaban jang keluar. Sambil merenung di sisi batu, sadarlah aku bahwa semua orang tidak pernah mengetahui pasti mengapa sesuatu menimpa dirinja. Bukankah semua manusia dikontrol seluruh hidupnja oleh kekuatan² jang hanja sedikit ― atau sama sekali, tidak mereka ketahui? Bidjaksana muntjul bila kita me lakukan penjerahan total dan tidak berdjuang melawan nasib sendiri seperti jang kulakukan. Sekarang semuanja sudah terlambat. Hidupku sebagai manusia merupakan sebuah djaring² perdjuangan dan pemberontakan²; pendjernihan tiba ketika semuanja sudah tidak berguna lagi. Aku memandang tubuhku dan berharap lebih baik aku mati sadja.
“Pada saat itu seekor kelintji liwat hanja beberapa meter dari tempat dimana aku mendekam. Dalam waktu sesaat sadja semua unsur kemanusiaan meninggalkan diriku. Ketika kesadaranku pulih, mulutku basah oleh darah segar dan bulu² halus bertebaran tidak djauh. Itulah pengalamanku jang pertama hidup sebagai harimau. Kengerian dan kekasaran jang ku lakukan sedjak itu sudah tidak terhitung.
“Hanja selama beberapa djam dalam sehari kesadaran sebagai manusia muntjul dalam diriku. Pada saat itu aku dapat berbitjara seperti jang sekarang kulakukan denganmu babkan dapat memikirkan hal² jang paling rumit sekalipun. Benar, aku djuga dapat membatjakan bagian² indah dari buku² klasik.
Djuga mampu mengingat peristiwa² mengerikan jang kulakukan selama djadi harimau; di telingaku bergema djeritan para kurban dan seluruh diriku diliputi rasa malu, takut serta menistakan naluri hewaniah diriku.
“Minggu berikutnja djangka waktu kesadaran itu kian pendek sadja. Djika sebelumnja aku terus berpikir bagaimana diriku mungkin berubah djadi harimau, sekarang diriku diliputi pertanjaan lain: bagaimana aku pernah mendjadi manusia? Ini merupakan pertanda jang mengerikan, bukan? Tidak lama lagi semua kenangan masa lampau tersapu bersih dan djiwa manusia jang masih kumiliki untuk tempo² pendek, akan menguap ― tepat seperti istana kuno jang tertutup oleh tanah dan pasir. Pada saat itu aku tidak lebih dari seekor binatang buas belaka, musuh di rimba ini jang bila bertemu denganmu, Yuan Ts'an, sanggup mengojak² dirimu tanpa perasaan djengah sedikitpun......"
Suara itu menghilang untuk sesaat dan Yuan Ts'an hanja mendengar tarikan napas jang berat. Lalu suara itu muntjul lagi tapi terasa dilakukan dengan susah pajah sekali:
“Achir² ini suatu pikiran terus membajangi diriku ― memang tidak orisinil, tetapi sebelumnja tidak pernah kumengerti. Bukankah kita semua ― baik manusia maupun binatang ― pada suatu ketika membentuk udjud lain? Ketika masih muda kita hanja dapat mengingat sedikit sekali kenangan masa sebelumnja, tetapi begitu kita terbiasa dengan bentuk baru itu, kita terdjerumus ke dalam illusi bahwa kita selamanja seperti itu.
“Baiklah, meskipun itu benar, pemikiran² abstrak seperti itu tidak lama lagi akan tersapu dari benakku. Meskipun tanpa ragu aku merasa akan lebih berbahagia bila unsur kemanusiaanku lenjap, toh pikiran kearah itulah jang sangat kutjemaskan, Gambaran akan mendjadi binatang buas jang tidak lagi memiliki kenangan akan bentuk diri sebelumnja, merupakan peristiwa jang tidak mungkin dilukiskan datam kata². Wahai, itulah nasib jang me rungguku, tak mungkin dielakkan lagi...”
Sekali lagi suara itu lenjap. Keheningan menguasai semak belukar dimana mereka berada. Yuan Ts'an dan pengawalnja berdiri dengan napas tertahan, terpukau oleh keheningan jang bening. Lalu, suara itu terdengar sekali lagi:
"Sebelum meninggalkan kebesaran manusia setjara total, aku ingin agar kau meluluskan permintaan ini."
"Katakan," sahut Yuan Ts'an. "Permintaanmu akan dipenuhi."
"Permintaanku hanja ini. Ambisi dari hidupku ialah mendjadi seorang penjair besar, tetapi sebelum terwudjud aku sudah mendjadi begini. Dari banjak sadjak jang kususun, mungkin tidak ada lagi jang masih bertahan. Tanpa ragu kupikir semuanja sudah lenjap bagaikan asap ditiup angin, Sisa dari semua itu tinggal beberapa buah jang masih kuingat. Tulislah sadjak ini dan usahakan agar nasibnja tidak seperti jang menulisnja.
"Djangan kau mengira, kawanku, bahwa dengan kekuatan sadjak² ini aku akan mendjadi penjair besar! Jang mendjadi pikiran ialah diriku tak mungkin meninggalkan dunia ini tanpa tahu bahwa sekurang²nja sedjumlah sadjak jang menuntut pengurbanan dari karier, kekajaan dan achir tanpa djuga ingatanku, turut lenjap tanpa bekas."