Lompat ke isi

Halaman:Horison 08 1972.pdf/26

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Harimau-Penjair
TON NAKAJIMA


LI CHENG terkenal sebagai seorang jang tjerdas. Pada usia muda sudah lulus udjian pegawai tinggi dengan hasil memuaskan. Namanja langsung sadja ditjantumkan pada daftar militer. Dan tidak lama kemudian, ia diangkat sebagai Kapten Pengawal di daerah lembah Yangtze.

Ia menerima pengangkatan ini. Sajangnja tidak lama karena ia mulai memberontak terhadap tata tertib ketat jang berlaku. Sikap ini lahir dari sifatnja jang angkuh dan ingin bebas. Lagi pula ia meremehkan kedudukan itu karena dinilai terlalu rendah untuk bakatnja. Mengingat kenaikan pangkat dalam dinas pemerintahan memerlukan waktu, ia mengadjukan permohonan berhenti. Li Cheng memutuskan segenap hubungan dengan kerabat dan bekas teman-nja. Lalu tinggal bersama keluarga di tempat asalnja Koulueh untuk memusatkan perhatian kepada penulisan puisi. Tinimbang menghabiskan waktu dari tahun ke tahun sebagai bawahan dalam dinas, mendengarkan perintah para atasan, bukankah lebih baik, pikirja, aku hidup sebagai manusia bebas jang penuh kebesaran sambil menulis puisi. Siapa tahu namaku terpampang sebagai penjair besar?

Sialnja, tekad sadja tidak tjukup mendjadikan seseorang penjair jang berhasil. Tidak terlalu lama Li Cheng sudah menghabiskan harta bendanja. Sesudah itu dirinja mulai bergelut dengan kenjataan hidup praktis. Pemuda berwadjah tampan dengan wadjah bulat jang lulus dengan prestasi Juar biasa pada udjian pegawai tinggi, sudah tiada. Sebagai gantinja tampak wadjah keras dengan pantjaran sinar mata jang mentjerminkan kegagalan mentjapai tudjuan.

Beberapa tahun kemudian ia sudah tidak tahan lagi terhadap kemiskinan jang lahir dari keinginannja untuk menjair. Muntjul kesadaran bahwa sifat angkuhnja harus ditekan dan menerima suatu djabatan agar ia bersama keluarga mendapat makanan dan sandang. Ia melamar pada Badan Pegawai Negeri dan mendapat pekerdjaan sebagai Asisten Kepala Distrik di propinsi timur. Pada saat itu teman²nja sudah menduduki djabatan lebih tinggi sehingga Li Cheng terpaksa menerima perintah dari orang jang dulu dalam daftar lulus djauh berada dibawahnja. Malah kebanjakan dari mereka pernah disebutnja dungu atau kepala batu. Suasana tertekan ini dan sisa penderitaan selama bertahun hidup sebagai penjair, membuat Li Cheng mendjadi pemurung dan penuh kepahitan. Ini berlarut-larut hingga kadang ia berada dibatas antara normal dan tidak normal.

Setahun sesudah memangku djabatan baru, ia dikirim untuk melakukan perdjalanan ke daerah selatan. Dalam perdjalanan itu ia menginap di sebuah losmen dekat sungai Ju. Dan disitulah setjara tiba ia mendjadi gila. Tengah malam terdengar ia mengeluarkan teriakan dahsjat. Dengan wadjah mengerikan dan mata terbelalak ia melompat dari djendela dan sebelum orang dapat menahannja, ia sudah menjuruk diantara kelam. Keesokan harinja regu pentjari langsung dikerahkan, tetapi meskipun mereka sudah mendjeladjahi seluruh perbukitan, toh djedjak Li Cheng tidak ditemukan. Ia djuga tidak kembali lagi dan keluarganja tidak pernah mengetahui nasibnja jang djelas.

Tahun berikutnja seorang penilik sensor Yuan Ts'an dari lingkungan propinsi itu mengadakan perdjalanan keliling atas perintah pemerintah pusat dan bermalam di Shangyu, dekat sungai Ju.

Keesokan pagi ketika ia ingin melandjutkan perdjalanan, tuan tanah setempat memperingati bahwa seekor harimau memakan manusia terlihat berkeliaran di djalan jang menudju ke selatan.

"Orang jang hendak menudju arah itu diandjurkan agar tidak menempuhnja bila hari masih gelap," kata tuan tanah. "Karena itu, bolehkan aku menasehatkan agar bapak menunggu hingga terang hari?"

"Terima kasih," sahut Yuan Ts'an, "tetapi aku membawa pengawal jang gagah berani." Tanpa bitjara lebih landjut ia langsung naik kuda dan meninggalkan losmen itu dengan diiringi pengawalnja.

Tidak lama kemudian mereka sudah berada ditengah padang rumput jang lebat dibawah penerangan tjahaja bulan. Tiba² seekor harimau melontjat dari sisi djalan. Sambil meraung dengan dahsjat. hewan ilu menerdjang kearah Yuan Ts'an. Pada saat hewan itu terpisah hauja beberapa langkah sadja, setjara mendadak ia berpaling dan kembali masuk ke semak belukar.

Untuk sedjenak keheningan menguasai semuanja. Lalu dari balik semak terdengar suara jang tidak asing lagi: "Masjalah! Hampir sadja!"

Meskipun Yuan Ts'an sangat terkedjut, ia masih mengenali suara itu. "Bukankah itu suara sahabatku Li Cheng?" serunja.

Yuan Ts'an dan Li Cheng menempuh udjian penghabisan bersama dan sedjak itu mendjadi sahabat karib selama beberapa tahun. Hanja seorang seperti Yuan Ts'an jang tjukup sabar dapat mengimbangi sifat Li Cheng jang terkenal keras dan melondjak² itu.

Pertanjaan itu untuk sesaat tidak memperoleh djawaban, hanja suara isak jang aneh. Achirnja terdengar suara jang setengah meratap: "Benar, akulah Li Cheng jang pernah tinggal di Kuolueh. Sahabatmu."

Lupa akan takutnja, Yuan Ts'an turin dari kuda dan menghampiri semak² itu. "Datanglah kemari, kawanku," katanja, "dan kita dapat bertjakap²."

"Wahai," djawab suara itu, "Aku sudah terlandjur salin rupa! Aku malu djika kau melihat bentukku jang sekarang. Aku tahu bahwa tjukup kau sekilas sadja memandangku, maka itu mengisi dirimu dengan ketakutan dan menistakan. Tetapi karena kita sudah bertemu sekarang, aku berharap kau tetap disitu dan kita dapat bertjakap dengan usah saling memandang."

Ketika Yuan Ts'an mengenang kembali pertemuan itu, ia merasakan suatu ke-