Lompat ke isi

Halaman:Horison 07 1986.pdf/81

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Semuanya mengeong-ngeong kasmaran sepanjang malam, sehingga duta besar dan isterinya tidak bisa tidur.

— Enyah kucing itu semua. — teriak istri gubernur setelah tamunya pergi.

Tapi persoalannya tidak semudah teriakan itu. Karena kucingkucing itu telah berjasa mengamankan gubernuran dari tikus-tikus,

Seorang pengusaha yang telah berhasil menebas habis hutan pada sebuah pulau, hingga pulau itu menjadi kuning jika dilihat dari udara, mendengar juga insiden itu. Ia datang membawa seekor kucing dalam sebuah kardus.

— Di sini sudah terlalu banyak kucing.— kata istri gubernur sedikit tengik, berbeda dari biasanya bila kedatangan tamu yang seorang ini.

Tapi kucing ini bukan kucing pribumi, Bu. Kucing pribumi memang suka mengacau. Makan banyak, kerjanya hanya tiduran saja. Potongannya pun jelek. Kucing ini kucing Parsi, Bu. Tapi aku bawa dari Hongkong. Sebelum ke Hongkong, aku sudah punya yang jantan. Aku bawa dari Paris. Tapi ketika aku kembali dari Hongkong kemarin, tahunya kucing dari Paris sudah mati. Digilas mobil, Bu, Jadi aku bawa saja yang ini sekarang. Kapan-kapan aku ke luar negeri lagi, akan aku cari pasangannya. Biar Ibu punya sepasang Kucing multinasional.—

Istri gubernur merasa terpikat sekali melihat kucing yang berbulu tebal dan bermaita jeli itu. Setelah membarut-barut bulunya yang tebal itu selagi di pangkuannya, istri gubernur itu berkata pula. — Bagaimana ia bisa bergaul dengan kucing-kucing di sini?. —

Pengusaha yang tidak mengetahui sejarah kucing gubernuran itu, hanya menjawab dengan singkat; —Buang semua, Bu.—

Akan tetapi istri gubernur tidak tega melenyapkan semua kucing itu dari rumahnya. Gubernur pun tidak tega. Katanya:—Meski saya sanggup membasmi pencoleng-pencoleng di kantor saya, tapi untuk membasmi kucing-kucing yang ada di sini, tidak manusiawi —

— Ah, bereslah itu, Pak Gubernur.—kata pengusaha itu lagi,

Dan ketika gubernur dan istrinya kembali dari luar negeri memenuhi undangan duta besar yang pernah jadi tamunya itu, didapati rumahnya terasa begitu sepi. Ada sesuatu yang dirasanya hilang. Lama ia termangu-mangu memikirkan apa yang telah terjadi sepeninggalnya, Kemudian ketika sepasang kucing Parsi mengeong-ngeong keluar dari kamar tidur anaknya, tahulah ia bahwa puluhan kucing yang telah menjadi makhluk yang tak terpisahkan dari lingkungan gubernuran itu, telah tiada.

Dan gubernur tidak menanyakan kepada siapa pun bagaimana kucing-kucing itu lenyap. Malah dalam hatinya bersyukur, Karena ketika ia di Roma, ia telah melihat kucing begitu banyaknya di Colloseum, bangunan purbakala yang sebagiannya telah runtuh itu. Ada perasaan ngeri ketika ia melihat kucing-kucing itu bercokol di bawah relung-relung yang suram di kala senja.

Konon kucing-kucing gubernuran itu dimasukan ke dalam sebuah truk, lalu dilemparkan di tengah hutan yang jauh. Hutan yang belum ditebas oleh pengusaha itu. Dan kucing-kucing itu, sebagaimana manusia juga, yang selama ini hidup dimanjakan, lalu tiba-tiba terlempar ke hutan belantara, banyak yang menemui ajalnya. Tapi yang kuat, hidup dengan liar sesuai dengan hukum rimba yang berlaku, Dan sekali waktu, yang masih hidup itu menemukan jalan pulang, Didapati mereka gubernur sedang tidur siang di samping istrinya. — Gubernur, apa dosa kami, makanya kami disingkirkan? Apakah karena kami cuma pribumi? Pada hal kami telah berjasa membasmi tikus,—

Gubernur terbangun karena digoyang-goyang istrinya, sebab ia berteriak-teriak dalam mimpinya. Berkali-kali ia membaca Istigfar. Namun sejak itu kondisi fisiknya sangat melorot, bersamaan dengan kelelahan pada mentalnya. Sehingga pemerintah terpaksa menggantinya dengan orang yang lebih muda, Akan tetapi pada waktu itu, tikus-tikus telah mulai lagi bersarang di gubernuran.

Dan ketika saya menggangkat kepala, Pak Mangku masih juga menulis dalam buku catatannya. Tapi jari jemarinya telah begitu sering memijit-mijit pangkal hidungnya. Hanya beberapa orang saja yang masih bertahan duduk di tempatnya. Sedangkan Banda masih terus membaca makalah di mimbar. Dan kantuk saya pun mulai menyerang lagi,

Padang, 5 Oktober 1984


+ af ouNies Pee:

A cA

Menikah : \ Saida Cholifah BA.

Malang

dengan

Drs,M. Arwan Tuti Artha Yogyakarta

Di Lawang, 20 Maret 1986

-

Segenap Keluarga Hors- son mengucapkan sela- mat dan semoga Allah memberkahiNya. Amin.HORISON/XX1/241