Lompat ke isi

Halaman:Horison 07 1986.pdf/80

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

dungnya imun. Karena tidak seorang pun yang menutup hidungnya di gubernuran itu.

Ketika gubernur berganti, gubernur baru serta merta membaui kebusukan yang menyebar itu. Tindakan pertama yang dilancarkannya ialah membasmi kebusukan itu secara tuntas. Macam-macam caranya. Seluruh bangunan dicuci dan dibilas dengan karbol. Peralatan diganti dengan yang baru, Dan sewaktu-waktu perfume spray disemprotkan, Lebih-lebih bila tamu dari pusat datang. Sehingga kebusukan bisa tersamarkan,

— Bagaimana pun usaha saudara menutup-nutupinya, namun yang busuk itu tetap terbau juga, Saudara gubernur.— kata menteri ketika hendak kembali ke Jakarta setelah sehari menginap di gubernuran.

Gubernur lalu memanggil staf nya untuk membicarakan bau busuk yang tak kunjung hilang itu. Tapi tak seorang pun dapat menemukan caranya. Karena dalam pikiran mereka, jika pun masih ada bau, taklah mungkin itu disebabkan bangkai tikus. Gubernuran telah lama dibersihkan. Kalau pun masih ada satu dua bangkai tikus yang tertinggal dulunya, pastilah sudah mengering dan tidak bau lagi. Namun, soalnya menteri telah berkata.

Maka diundanglah Prof. Alatas untuk membantu memecahkan masalah, Dan meski pun profesor itu ahli di bidang korupsi, tapi ketika baru saja ia sampai di gubernuran, ia sudah tahu apa yang sedang melanda gubernuran itu.

— Di gubernuran itu terlalu banyak tikus, Pak Gubernur. Baiknya diberantas dengan cara alamiah. Peliharalah kucing.— kata profesor itu seraya membarut-barut jenggotnya yang hitam lebat itu.— Memakai perangkap tidak efektif. Sekali perangkap itu berhasil, maka tikus lain akan menghindar, meski dikasih umpan yang luar biasa daya tariknya, IQ tikus bukan main tingginya, Pak Gubernur,—

Maka di peliharalah lima ekor kucing dengan komposisi satu jantan dan empat betina. Tak seorangpun yang tahu apa alasan komposisi itu yang dipakai. Profesor itu tak pernah menganjurkannya, Mungkin ahli psikologi yang dapat menjawabnya.

Tapi kucing mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi, Meski tingkat kesuburan tikus lebih tinggi. Namun kehadiran kucing, yang kian lama kian banyak itu, betulbetul menyebabkan semua tikus lari kucar-kacir. Mereka berpindah ke gedung-gedung sekitarnya. Gubernuran kini betul-betul bersih dari tikus. Bau pesingnya pun, yang selama ini menggoda hidung para tamu, sudah lenyap, Perfume spray tak lagi perlu disemprotkan pada waktu-waktu bertamu.

Memelihara kucing akan memerlukan biaya yang khusus. Bukan hanya untuk makannya saja, tapi juga untuk menggaji tenaga yang spesial, di samping seorang dokter hewan yang akan mengontrol kesehatannya. Sebab kucing yang tak terawat akan menyebarkan kutu-kutu, Tapi yang terutama kucing bisa ketularan rabies, Nyawa gubernur dan nyawa-nyawa staf yang berjabatan tinggi itu bisa terancam. Pemerintah bisa runyam juga karenanya, bukan? Memang biayanya menjadi tinggi. Tapi beruntung saja tidak sampai memerlukan pengesahan DPRD, asal dapat dicarikan dari anggaran lain-lain yang syah. Lagi pula terasa tidak lucu apabila anggaran belanja untuk memelihara kucing sampai dibicarakan pada anggota DPRD, yang umumnya sangat kritis itu.

Kehadiran kucing betul-betul efektif. Meski tidak seekor pun tikus yang pernah ditangkap kucing-kucing yang banyak itu, karena telah keburu lari ke rumah-rumah tetangga atau bersembunyi ke tempat yang aman, namun pada hakekatnya kucing-kucing itu tidak pernah bertugas. Dalam pengertian membasmi tikus. Oleh karena perawatan yang baik dan nilai gizi makanannya yang tinggi, populasinya menjadi berlipat dari bulan ke bulan. Dan badannya gemuk-gemuk, Langkahnya menjadi dambin. Dan setiap kursi tamu menjadi tempat bergelung enak-enakan, Tidur pun juga di kursi. Dan kalau ada tamu, sulit mengusirnya pergi. Perlu digendong dulu untuk menyingkirkannya.

Saatnya sudah tiba untuk dirasionalisasi sampail pada jumlah yang pas untuk’ mencegah rembesan tikus dari luar. Akan tetapi gubernur sudah terbiasa dengan kucing yang banyak, Sedang tingkah laku anak-anaknya yang kecil-kecil itu menjadi hiburan yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak gubernur sendiri. Mereka, kucing-kucing itu, telah menjadi makhluk yang tak terpisahkan dari lingkungan gubernur.

Kucing termasuk binatang yang paling rendah IQ—nya. Malah lebih rendah dari tukus. Dan kemanjaan yang telah diberikan gubernur kepadanya, ada kalanya mereka seperti bersikap kurang ajar pada para tamu-tamu gubernur sendiri, Selain tidak mau beranjak dari kursi yang bakal diduduki tamu, malah ada kalanya juga mereka tega mengencingi celana tamu atau melompat ke pangkuan ibu-ibu yang, tengah mendengar wejangan. Namun demikian tak seorang pun yang jera datang ke gubernuran.

Tapi ketika gubernur kedatangan duta besar dari negara sahabat, tingkah laku kucing itu menimbulkan kegemparan. Isteri gubernur bagai terkena histeria, Mukanya merah dikala tamunya masih ada, tapi menjadi pitam ketika tamunya pergi. Soalnya terjadi insiden kecil karena ulah kucing itu.