Kucing Gubernuran
A. A. NAVIS
Kalau Panitia Pengarah cerdik tentu ia tidak akan meletakkan Banda sebagai pembawa makalah pada ‘session’ sesudah makan siang. Banda suaranya rata bagai bunyi lebah terbang melingkar di ruang sempit, Apalagi topiknya kadaluwarsa dengan uraian serba mengutip macam-macam pidato orang-orang resmi dan berbagai macam undang-undang, lengkap dengan nomor dan tahun diterbitkan. Akibatnya tentu saja banyak peserta yang mengantuk, Lalu, untuk mengatasi kantuk, orang sering ke luar ruangan. Entah untuk membasuh muka, entah kencing atau mencari teman ngobrol. Saya pun mengantuk. Meski telah ke luar dan membasahi muka kuyup-kuyup, namun kantuk segera menyerang lagi sebaik saya duduk di kursi. Karena kantuk yang tak tertahankan itu, saya lagi-lagi menggerutui Panitia Pengarah. Saya pun mengomel pada teman di samping saya dengan mengatakan bahwa birokrat seperti Banda tidak sepatutnya diajak serta dalam seminar itu, meski karena alasan basa-basi karena kantornya ikut membiayai seminar.
Untuk mengatasi kantuk, saya bolak balik buku catatan saya. Saya tertegun pada ucapan-ucapan Prof. Alatas, sarjana ahli ilmu korupsi itu. Dalam catatan saya tertera: — Hubungan tikus dengan pembangunan. Sensus tahun 1963 di Indonesia menyebutkan bahwa 30% hasil padi habis dimakan tikus. Jumlah itu dapat memberi makan penduduk Singapura selama 16 tahun. Kalau pemerintah mau membangun dengan hasil yang maksimal, perlu diprogramkan pula upaya pemberantasan tikus. Dengan membiarkan tikus bersimaharajalela, lambat-laun binatang itu akan mempengaruhi tabiat manusia juga. Karena itu berantaslah tikus, agar manusia tidak berperangi tikus.
Tiba-tiba bahu saya ditepuk teman di samping saya sambil berkata: — Lihat tuh, Pak Mangku. Apa yang dicatatnya begitu asyiknya?—
— Barangkali berkiat untuk melawan kantuk. — kata saya, — Dari pada ngobrol, itu lebih sopan.—
Kemudian perhatian saya terpusat juga pada Pak Mangku. Antara kantuk dan usaha melawannya, saya ingat pada masanya jadi gubernur. Ingat padanya sebagai gubernur, saya pun jadi ingat pula pada beberapa orang yang pernah jadi gubernur. Yang pernah datang dan pergi mendiami bangunan besar yang disebut orang sebagai gubernuran, tempat saya menghadiri seminar ini. Gubernuran itu semenjak dulunya sudah rumah kediaman gubernur juga. Ketika jabatan gubernur di pindahkan ke kota lain, jadilah ia rumah residen.
Dan sejak Indonesia merdeka, jabatan gubernur diadakan lagi, maka gedung itu kembali jadi ramah gubernur. Tapi pada zaman Jepang, ia ditempati oleh panglima militer. Dimulai dari zaman itulah tikus pun mulai berkembang di sana, Telah macam-macam cara untuk membasminya setelah Jepang pergi. Misalnya dengan perangkap, dengan menyebarkan racun tikus dan bahkan dengan memelihara kucing, Tapi kemudian menurut kisahnya dengan memelihara kucinglah usaha pembasmian yang paling efektif.
Upaya pertama pembasmian ialah dengan memasang perangkap. Tapi hasiinya sangat minim. Rupa-rupanya setelah sekali perangkap itu berhasil, tikus yang Jain tidak mau terjebak lagi. Lalu disebarkanlah racun di setiap pelosok, Namun racun menimbulkan masalah baru. Tikus yang termakan racun, menemui ajalnya di sebarang tempat. Bahkan ada yang mati di kamar tidur atau di kamar kerja gubernur. Lambat-laun bau busuk menyebar ke seluruh pelosok gubernur. Mula-mula bau busuk itu memang menyebalkan, namun kemudian semua hidung penghuni menjadi imun. Imunisasi pada indra hidung nampaknya menular kepada semua staf kantor gubernur, terutama pada mereka yang sering datang menghadap. Malahan orang-orang
yang datang sekali-sekali pun hi
HORISON/XX1/239