Lompat ke isi

Halaman:Horison 05 1989.pdf/16

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

busuk itu. Pikirannya itu membenamkannya pada halusinasi tentang kuda.

Di hadapannya berdiri seekor kuda. Kuda itu seperti kudanya. Berbulu merah kehitaman, dan berkilat-kilat di timpa cahaya matahari. Di elus-elusnya kuda itu. Hampir ke seluruh badannya. Karena kesenangan barangkali, kuda itu merentak-rentakkan kakinya. Persis seperti tingkah laku kuda tunggang Ratu Elisabeth. Kemudian kuda itu mendongakkan badannya dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggitinggi sambil meringkik. Persis seperti kuda John Wayne yang perkasa itu. Setelah memperagakan kepandaiannya seperti kuda sirkus dan kuda rodeo, seperti yang sering dilihatnya dalam film, akhirnya kuda itu membaringkan tubuhnya di tanah yang berumput. Rebah dengan diam-diam. Lambat laun wajah kuda itu berobah seperti wajah guru Bahasa Indonesia, Ratna istri Sekda.

Rajo Sutan takjub melihat perobahan itu. Lalu kuda itu berdiri lagi. Mendekati Rajo Sutan. Mulutnya mencapai telinga Rajo Sutan. Dan terdengar suaranya. Lembut.

― Baiklah aku bicara berbisik-bisik saja. Agar tidak didengar oleh siapa-siapa selain engkau, bisik kuda itu ke telinga Rajo Sutan yang masih memegang ujung tali kuda itu seperti yang biasa dilakukannya bila bermain-main dengan piaraannya.

― Apapun yang kau khayalkan tentang kuda, karena kau menyayangi kuda secara fanatik, adalah benar. Kuda memang dimanjakan. Dimandikan, digosok-gosok badannya dengan gundar agar bulunya tetap mengkilat. Diberi makan. Diberi dokter spesialis kalau sakit. Ada kalanya lebih dari istri, anak kandung. Bahkan dari dirinya sendiri, ― bisik kuda yang berwajah guru itu.

― Kuda memang mendebarkan hati penonton dalam pacuan. Kuda memang indah derapnya dalam parade, Seorang pahlawan dipatungkan sedang menunggang kuda, memang perkasa sekali kelihatannya. Sehingga Diponegoro lebih pahlawan dari pahlawan lainnya karena menunggang kuda. Napoleon lebih menakjubkan dalam patungnya di atas kuda daripada keindahan cintanya pada kekasih-kekasihnya. Orang yang tergila-gila pada kuda sampai membuatkan patung kuda itu di atas kuburan, hal yang tidak dilakukan untuk presiden dan pahlawan bangsanya. Akan tetapi kuda yang terbaik hanyalah kuda yang ditunggangi oleh seseorang yang tertarik lebih gagah sepanjang sejarah.

― Kuda memang telah banyak berperan dalam peradaban manusia. Sebagai pembajak, sebagai pembawa beban, Sebagai penarik kereta, sebagai tunggangan dalam perang, sebagai penjelajah benua bagi kaum pionir. Setelah peradaban manusia berkembang, peradaban kuda tetap demikian saja.

― Kuda diberi nama Ratna. Nama batu permata yang mahalnya tak ternilai. Juga diberikan kepada perempuan yang menjadi guru. Nah, apa bedanya kuda dan guru? Kau tak tahu?

― Dulu guru, sebagaimana kuda, diagung-agungkan. Suatu bangsa takkan beradab tanpa guru, bukan? Akan tetapi setelah tehnologi berkembang pesat, sembrani kalah dari pesawat terbang, burung burak jadi kecil dibandingkan pesawat ruang angkasa, kenderaan bermotor telah lebih berperan. Guru pun demikian. Guru telah menjadi tempat omelan murid dan orangtuanya. Yang mengajar orang agar pandai kini bernama dosen atau profesor.

― Dalam kisah sejarah nanti, profesor pun akan ditulis sama dengan guru. Senasib dengan kuda, mulutnya diberi kekang dengan ujung talinya tetap terpegang, supaya tetap terkendali ke mana pun hendak pergi. Kalau akan berlari kencang, larilah sekitar gelanggang.

Lalu kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi sambil meringkik. Dan Rajo Sutan melepaskan ujung tali kudanya, agar bebas berlari ke mana ia mau dan sekencang ia suka.

Tapi kuda itu tidak berlari. Hanya berdiri dengan tenang setelah sebentar ia merentak-rentakkan kakinya seperti menari. Tak lama kemudian ia berkata lagi, Aku ini hanya Ratna, kebanggaan masa lalu. Baik sebagai kuda atau pun sebagai guru. Meski engkau telah menyuruh orang menyanyi pujaan buatku.

Rajo Sutan tersentak. Karena Tuti, gadis masa depan yang memperoleh pelajaran masa lalu, pulang dari sekolah.

Rajo Sutan menggosok-gosok matanya. Yang tergosok ialah kaca mata.

Padang, 6 Januari 1986