Serentak ledak tawa kami, sampai aku
dar dan gagap menanjakan ;
— Lho dik, mau kau bawa kemana aku ha?
— Naar boven, mas, Eh maaf, kumohon kali ini mas To suka batalkan rentjana pri- badi. Sekali ini sadja mas, untuk obat kangen, O.K. ja mas?, djawabnja tanpa menoleh padaku. Dan setan, djarum spee- dometer bergojang antara angke 100 - 120, Sementara kami berdialog enteng, Kudja- wab pertanjaan-pertanjaannja, Bahwa aku di Dijakarta tjuma beberapa hari untuk urusan dinas, Bahwa klub drama amatir jang kudirikan masih tetap hidup. Bahwa gadis-gadis dalam klub jang pernah tergila- gila padanja sudah sama kawin,
Dia banjak tanja ini-itu tentang klub dramaku, karena dulu Djon adalah djuga salah seorang anak-buahku. Kemudian gili- ku melempar tanja:
— Ini mobil pribadi, dik ? — Ja. Tapi bukan milikku pribadi. Milik Bapak-Ibu, madjikanku, Pangkat-resmiku tjuma sopir mas To, — Tapi sopir pribadi penggede kan?
Ketawa lagi. Sifat periang Dijon tidak berobah. Dan sedan memasuki pekarangan sebuah bungalow. Sepi disana. Hawa dingin pegunungan terasa sangat menggigit-gigit. Dibawanja aku kekamar-tamu diruang-da- lam jang diperlengkapi perabotan serba lux dengan TV dan radio salon, Air-conditioner menjapuhawa dingin dengan kehangatan, Dan lebih hangat lagi ketika ia mengeluar- kan tiga botol minuman-keras dari bar.
— Selain pelajan jang sudah mendengkur dibelakang, tak ada orang lain disini ketjuali kita berdua, Relax mas!
Dan aku keheranan ia begitu enak me- neguk bersloki minuman-keras, Aku sendiri tjuma beberapa teguk, tapi sekaleng 555 jang baru dikeluarkan dari latji bufet djadi sasaranku.
— Semua ini mas, inklusif bungalow dan sedan, milik Bapak-Ibu. Madjikan-madji- kanku, Tapi karena sekarang mereka se- dang diluar-negeri, akulah jang dipertjaja- kan untuk semua ini. — Oo ja? — Bapak ikut delegasi diplomatik kene- gara-negara Nefos dibenua Afrika. Dan Ibu sedang berurusan dengan banknja di Djenewa. Ajo dong mas, minum lagi ah. Dan isi botol dituangkan. Dua tiga kali teguk tandaslah slokinja. Kutuangkan lagi Dan dimulutku tersulut 555 batang keli- ma. Djon meneruskan bitjara:
— Kedua madjikanku merupakan pa- éangan aneh. Ketjuali dalam upatjara atau resepsi resmi, keduanja djarang tampil duaan, Bapak lebih suka turne sendiri, apa- lagi kalau keluar-negeri, Tapi Ibu tidak mau kalah, mas. Bapak terbang, Ibu djuga terbang. Dan Ibu punja tjukup banjak dol- lar untuk berweek-end di Paris, Tokyo, Hongkong. Diluar negera selalu mereka berselisih arab, Kali ini Ibu ke Djenewa, Balik mampir Tokyo sebentar terus ke Hongkong untuk berweek-end disana, Dan kalau sudah tba disana, selalu Ibu kirim kawat agar didjemput, Dan tau kau mas, akulah jang terbang mendjemput Ibu ke- sana,
Henti sebentar, meneguk lagi, Senjum dan meneruskan bitjara :
-— Sekarang inipun aku dalam keadaan stand-by menanti kawat Ibu, Exit-permit, visa dan ticket J.A.L. sudah beres semua. Tinggal start. Dan sebagai pendjemput Ibu, Statusku dinaikkan dengan predikat ,,se- kretaris-pribadi". Dan disana aku selalu berfunksi sebagai ganti Bapak, Mas tau toh apa arti suami bagi isteri, Biologis mas, bialogis !
Ledak tawanja, aku djuga. Botol pertama kosong sudah, Sloki diisi lagi.
— Bapak tidak tau, dik? — Hoo tau sih tau, mas. Bapak musti berlagak pilon. Sebab kalau Bapak meng- gugat, kontan keras Ibu djuga menggugat. Dan Ibu tau pasti, Bapak punja piaraan jang bertebaran disana-sini, inklusif seorang amoy 1 Kowloon. Itulah semua kuntji- rahasianja. Itulah semua sebabnja aku sangat dimandja-mandja Ibu, Dan Bapak tidak akan bisa berkutik. Stand 1—1!
Dia bangkit, mringis. Sambil meme- gangi botol ditangan kiri, sloki ditangan kanan Djon menudju kesofa, Duduk dite- pian sofa.
— Tapi mas To harus tau, mereka bu- kanlah satu-satunja pasangan penggede jang begituan. Itu aku tau pasti, mas, Sebab aku- pun terlibat dalam skandal-skandal seksuil mereka,
Dan Dijon terus minum, terus ngomong. Sekali-sekali diseling ledakan tawa, Tapi suaranja tambah serak. Ditjeritakan ‘ten- tang piaraan-piaraan Bapak mulai tingkat babu sampai tingkat elite, tingkat starlet matjam Susi. Tentang berlimpah-limpah limpah duwit jang diludeskan untuk hu- bungan-hubungan seksuil melulu. Dan ma- kin merah wadjah dan mata Dijon, bitja- ranja makin seru makin hot, Dia ketawa
membahak mentjeritakan bagaimana Bapak tidak bisa lepas dari pil-pil obat-kuat ex Djerman jang selalu terdapat dalam kan- tong tjelananja. Tentang alat-alst kontra- septik jang terdapat dalam tas-tas elite, Tjeritanja mengenai hubungan seksuilnja dengan Ibu dan piaraan-piaraan Bapak, me- njebabkan aku terus-terusan melongo,
Ketika botol kedua habis isinja, Djon menggeletak disofa dengan tangan terdjulur kelantai. Gelas sloki menggeletak kosong berlumur sisa-sisa tjairan minuman-keras jang tertumpah dilantai. Dia pulas setelab sedikit muntah. Bangkaj-bangkaj 555 ber- serakan, isi kaleng Judes sudsh. Kutaksiz aku menghabiskan 15 batang, sisanja di bakar Djon dan selebihnja kumasukkao saku hem.
Keesokan harinja sesudah digujur air se gar dan sarapan roti telur mata-sapi se tengah matang, kami meluntjur kebawah. Sebelum melepaskan dipekarangan mess PDK, dia minta kartu-namaku. Lalu dise- lonongkan segenggam lembaran-lembaran puluhan ribu:
— Djangan tolak mas To. oleh-oleh. Dan sebelum sedan dilarikan is sempat berpesan; — Tjeritaku semalam off-the-record tho mas. Kalau ke Djakarta legi, mampir ke bungalow sana ja mas.
Dua minggu kemudian dengan tak ter- duga melajang seputjuk surat dari Djon: ...... Bagaimanapun djuga aku sudah muak dengan kerdjaku sebagai gigolo, tjabo-lelaki, Aku bertekad untuk berusaha keras agar dalam waktu singkat bisa lepas dari kehidupan serba tjabul ini, Aku mau balik ke Semarang. Buka perusshaan taxi disana. Tjari gadis untuk biniku. Tentu sadja bukan jang idealtype matjam Susi. Oo ja mas, Susi manis titip salam untuk- mu pribadi. Kartu-nama mas sekarang di- simpani Susi dalam tasnja. Alasannja, ka- jau kukantongi musti bilang. Eb djangan tjoba bajangkan apa isi tas Susi manis lho mas.......
Dan hari ini sebulan setelah kuterima surat Djon, datanglah sebuah telegram jang tak terduga:
— Kemaren Djon meninggal dengan te- nang di r.s. tjikini djam 11.00 koma akibat ketjelakaan mobil di tjipajung titik polisi bilang Djon pegang stir dalam kesdaan mabuk titik kemaren djuga djam 14.00 dje- nasah dikebumikan dikaret titik maaf ka- bar terlambat titik habis susi.
HORISON / 138