Lompat ke isi

Halaman:Horison 04 1966.pdf/9

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

tuk menjanji, Iringan dengan gitar dilaku- kannja sendiri dan lagu jang dinjanjikan- nja adalah gubahannja sendiri, Orang me- rasa heran bila mendengar dia dalam ke sempatan demikian. Suaranja jang begitu lemah bila ia bitjara, mendjadi amat keras_ seluruh ruangan, bila ia’ menjanji. Tak hanja seluruh kekuatan fisik jang dikerahkannja dalam saat2 itu, tapi djuga segenap tenaga batinnja. Kesunggu- han hatinja memuntjak dalam rasa terha- runja terhadap perasannja sendiri dan ke- tegangan batin dipertahankannja sampai saat terachir, Tapi akhirnja, tepat pada waktu lagunja selesai dinjanjikan, maka iapon djatuh pingsan, terpukul oleh emosi- ja sendiri. Gitarnja térseret oleh kedjatu- hannja, terbanting kelantai hingga patah.

Alat musik itu tergolong djenis jang ma- bal harganja, milik orkes terkenal diibu- kota, dan panitia harus mengongkosi ganti Kerugian. Ketika ia mendengar ketjaman penitia, berkatalah Asran (kali ini utjapan- nja agak pandjang):

~Duabelas pelukis disuruh kerdja mem- bikin dokumentasi berseni tentang pesta olah-raga ini, tapi tak ada jang diberi ho- norarium. Lain kali bapak mesti memba- jar manusia dan bukan membajar gitar”.

»Tapi gitar ini amat mahal!” kata wakil panitia itu.

,,Dan saja amat murah pak!” kata Asran, menutup pembitjaraan.

Asran telah menutup pula suatu babak dalam kehidupan pribadinja. Ia merasa gagal dalam membentuk keluarganja. Ka- rena itu dan karena tergugat pula oleh Ketjaman ibunja jang ber-tubi2 tentang per- kawinanja, maka ia telah mentjeraikan isterinja. Dan bekas isterinja itu kini ma- sih tinggal dirumah jang sama bersama bekas suami jang sama, dan anaknjapun tetap menggunakan panggilan ,,bapak” pada bapek mereka jang asli,

Dengan menjual beberapa sketsanja lagi Asran mendaast pesangon jang lumajan untuk pergi ke Bandung. Ia kundjungi se- orang pedagang dan minta supaja boleh menginap dirumahnja. Tuan rumah tak ber- maksud menolak, tapi ia suka bersenda- gurau dengan tjaranja tersendiri jang kurang sedap.

,,Kau mesti berpakaian iebih patut dulu, sebelum menginap dirumah orang, As. Mengapa kau tak suka pakaian jang ber- sih?”

,,Djiwa saja bersih”, djawab jang ditegur itu.

,,Tapi itu tak kelibaten. Orang hanja me- lihat apa jang dapat dilihat™.

,Saja dapat melihat apa jang tak dapat dilihat orang lain”, djawab pelukis’ itu.

Kau mau menginap disini? Boleh, Te- ngok, pekarangen saja luas. Kau boleh tidur disitu, Tapi djangan dekat rumah. sana, kepinggir".

Asran tak berkata apa2. Ia bangkit dan masuk pekurangan, Tupi ia terus melintas kedjalanan dan pergi, Ter-suruk2, dengan batin lesu, ia sampai kerumah seorang jang dikenalnja jang masih menuntut pelo- djaran di Akademi,

,,Ha! Kebetulan kau datang, As!"

Mahasiswa itu me-nepuk2 bahunja de- ngan gembira,

,,Sudah makan?" tanjanja,

Tanpa menunggu djawaban ia menga- djak tamunja keserambi belakang jang luas lagi indah. Ia mendudukkannja didepan medja-makan, Lalu mengambil sendiri hi- dangan jang lezat, tanpa memanggil pela- jannja. Diseberang medja ia mengambil tempat, sambil ber-tjakap2 dengan ramah- nja. Waktu dilihatnja tamunja sudah ke- njang, mulai ia mengeluarkan isi hatinja jang sampai kini ditahannja.

,,As", katanja, ,,kau mesti pakai pakaian jang bersih.

,,ltu kudengar dua kali hari ini’, sahut lawan tjakapnja.

,,Kuberi nanti. Kalau kau tak suka pa- kaian itu, boleh kaubuang kemudian. Kalau suka, bawa sadja, Tapi sebelumnja aku minta bantuanmu. Aku tjinta seorang ga- dis. Sekarang aku mau tulis surat. Antar- kanlah surat itu kepadanja. Kupikir tak ada orang jang lebih tepat dari pada kau, As. Kuharap kau mau tolong seorang ka- wan".

,,Boleh” djawab Asran.

,,Dalam surat itu kuminta dia datang kesuatu tempat. Kalau dia mau, lekas be- ritahu padaku, As”,

,,Baik", kata Asran,

Malam itu ada Romeo menanti Julianja dengan harap2 tjemas. Ta mundar-mandir dalam kamarnja, melihat arlodji berkali2, Tapi penghubungnja tak kundjung datang. Achirnja ia berdjalan hilir-mudik didepan rumahnja. Sementara itu sudah berlalu satu djam, kemudian dua djam lebih. Djarum arlodji menundjuk angka sepuluh. Dilihat- nja ada orang dari djauh. Disongsongnja ia. Sukurlah, itu betul2 Asran. Ia menggapai tangan dan bahunja dengan gairah. Tapi jang dipegangnja itu berdiam diri sadja. Mereka berdjalan kembali kerumah.

,,Bagaimana, As?” gagapnja, -

Namun jang disapa itu masih bungkam. Ia lebih gagah kini dalam pakaiannja jang bagus.

,,As! Mau, dia?" desaknja dengan rusuh. Sasaran tegurannja mulai buka mulut jang tadinja terkatup erat2:

Dia datang ketempat itu ......"

Dia datang? Dia datang? Tapi mengapa kau tidak kesini?”

Nampak Asran dengan susah-pajah lagi menggerakkan bibirnja. Dan jang keluar dari mulutnja ternjata kata2 jang penuh kegelisahian dan djuga penjesalan. ’

,,Habis, kau sih! Kau sih! Kenapa kau- suruh aku?”

,,Apa soalnja?"

,,Kau kan tahu bahwa aku gampang dja tuh tjinta!"

,,Habis?"

,,Jah... Kau kan tahu aku suka dja tuh tjinta ?”

,,Djadi?"

,,Djadi kutemani dia!”

,,Selama ber-djam2 ini? Tapi suratku sudah kausampaikan?”

Asran merogoh kantongnja.

,,lni suratmu”, udjarnja.

______

Asran merasa kegerahan. Ia gelisah. Ia merasa kehilangan sesuatu. Lalu ia pergi ke Bali. Dibuatnja banjak sketsa dan lukisan tentang tamasja disana, tentang manusia pulau Dewata, tentang kampung dan babi piaraan penduduk dusun. Hasil2nja laku pesat di Hotel Bali, tempat mengisap para wisatawan. Tak pernah ia dapat mengum- pulkan uang swbanjak itu. Terbajang pada- nja kapal hadji besar dengan ibunja me numpang diatasnja. Ke Tanah Sutji ia akan mengantar ibunja jang tambah tua itu Rasanja sudah tua sekali sekarang. Tapi rekan2nja banjak dipulau Nirwana itu. Dan kalau mereka minta ditraktir, ia tak dapat menolak. Kantongnja kembang-kem- pis. Tak apalah karjanja masih laku. Ia mandi keringat dibawah badjunja jang lu- suh, namun ia djuga mandi tjat. la merasa mandja, dapat melukis dengan tjat minjak sebanjak ia kehendaki,

Seorang wisatawan Belanda melihat se- buah lukisannja diruang-duduk hotel jang mentereng itu. Kepada petugas disitu ia mengatakan ingin membelinja, Dapatkah diusahakan menemui pelukisnja? Dapat, kata petugas itu. Ia kenal orangnja. Tapi Asran malas datang. Dan ketika ia ketemu dengan peminatnja, itu hanja kebetulan belaka. Ia ber-siul2 serta menjenandungkan sebuah lagu, lagu gubahannja sendiri, sam- bil berdjalan riang. Segarlah hawa pagi dipulau kesajangan jang mungil ini, me- riahlah dunia ini!

Belanda itu menegurnja: ,,Saja suka lukisan ini. Berapa harganja ?”

Asran masih ber-siul2. Barangkali ia bah- kan tak melihat muka orang asing dide- pannja itu. Ia hanja berhenti sedetik untuk berkata: ,,Tidak dijual". Lantas berlalu dan terus ber-siul2.

Dua bulan kemudian pelukis kita ini tiba kembali di Djakarta. Badjunja lusuh lagi dengan kantjing2 tak lengkap dan tie- lananja sobek. Ia menganggur dan iseng pula, waktu ia datang kerumah seorang rekan jang lebih tua. Setelah mengobrol, lalu makan dan minum kopi bersama,

tuanrumah memberinja tjelana. Tiga hari kemudian Asran muntjul kembali dengan membawa oleh2: sepuluh pisang-goreng be- sar2 jang masih hangat. ,

,,Kau tak usah pajah2 membeli ini, As. Ada rezeki rupa2nja?”


HORISON / 105