Lompat ke isi

Halaman:Horison 04 1966.pdf/29

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

itu akan berhenti ditengah djalan, ditempat jang tak ada bensin. Pada mulanja tidak terpikir olehnja, bahwa disitu penjakitnja, lalu dia bingung mentjari sebab-sebab berhentinja dari djurusan lain. Waktu jang berharga hilang begitu sadja, dan dia putusasa, mobil ditinggalkan ditengah djalan dan dia melepaskan diri.

Aku sudah merasa puas dengan pendapatku, sehingga karenanja aku membeli bensin hanja satu kaleng sadja dari Qanatir dan kami bawa dalam taksi. Lalu kataku kepada Lulu:

― Dengan ini ada lagi paedah lain, jaitu apabila supir taksi ini kita tinggalkan dan kita naik dimobil kita sendiri, pertjajalah dia, bahwa tidaklah kita akan menjewa taksinja, kalau tidak lantaran keperluan ini. Dan tidak lagi heran atau menanjakan sesuatu atau akan merasa heran terhadap perbuatan kita ini.

Sudah ditakdirkan Tuban djuga rupanja, dugaanku itu benar. Sebelum sampai perdjalanan kami lima kilometer setelah meninggalkan Qanatir dan melalui djalan Qalyub, kami dapati mobil itu sudah di tempat itu. Dan ringkasnja kukatakanlah, bahwa mobil itu kami naiki dengan perasaan riang. Kembali kami ke Qanatir dengan harapan mendjumpai jang lain. Tetapi setelah ternjata disanapun mereka tak ada. kami pesankan sadja kepada pendjaga jang tidur tadi. Lalu kami bawa kemarkas polisi untuk memberitahukan kabar gembira itu dan djuga supaja mereka menghentikan pengedjarannja. Dari mereka djuga kami mengetahui, bahwa kawan-kawan kami djuga menjampaikan berita pentjurian itu, dan bahwa polisi sudah disebarkan untuk mentjarinja kesegala djurusan. Perhubungan telepun dilantjarkan terus ke Qaluyb, Kairo dan daerah-daerah lain supaja mendjaga pentjurinja itu didjalan-djalan. Kami berterimakasih atas perhatian jang tak disangka-sangka itu. Kemudian kataku kepada mereka:

― Jang penting sekarang ialah mentjari isterku.

Orang itu mendjerit : ― Apa?!

― Dia pergi dengan pamiliku dan pamilinja, kataku.

― Selesailah sudah.

― Tidak. Belum selesai. Tuan tidak tabu, bahwa bukankah ini suatu pentjurian baru jang lebih buruk ?

Dia tertawa. Lalu menghelaku seraja memprotes

Mobil ita kami tinggalkan didepan rumah dan kami duduk diberanda menantikan kedatangan mereka berdua. Kira-kira dua djam kemudian datanglah mereka dengan sebuah mobil lain lagi, seperti mobil kami, tak ada bedanja. Lekas-lekaslah aku turun kedjalan dan mereka sedang mengamat-amati keanehan ini.

― Persis ― kataku ―. Engkau sudah mentjuri mobil ini, kawan? Tak kusangka bahwa kerabatku dan pamiliku djuga pentjuri. Tapi apa akan kuperbuat? Kau sudah disembunjikan dari mataku sebelum aku kawin. Sekarang sudah mendjadi kewadjibanku menjembunjikan kau dari mata orang lain sesudah aku kawin.

Maksudnja akan bitjara, tapi kustop dan kuadjak melihat kedua mobil itu.

― Apa jang harus kita kerdjakan sekarang? tanjanja.

― Bersedia dipendjarakan, kataku. Sebenarnja sedjak dulu kala ini sudah mendjadi keharusan. Tapi banjak sekali orang jang mesti dipendjarakan, malah bebas berkeliaran. Sekarang bawalah mobil itu kegarasi ― mobil jang ditjuri ― kemudian laporkan kepada polisi dengan telepon, dan katakan bahwa kau disini menunggu kedatangannja untuk menangkapmu.

Mereka berdua memberitahukan kami, bahwa mereka naik keretaapi dan trem ke Ataba al Chadra dan mereka melihat sebuah mobil didepan kantorpos. Dengan tergesa-gesa didekatinja mobil itu dan setelah dilihatnja kosong, mereka naik dan terus melarikannja tanpa memperhatikan lagi nomor polisinja. Mereka lari terus melalui Djalan Faruk. Kasihan jang punja mobil mengedjarnja terus seraja berteriakteriak minta tolong. Sedang mereka berdua tertawa riang. Sungguh berani kedua pentjuri ini.

― Tidak apa, kataku. Sebentar lagi Ataba al Chadra akan berada disini lengkap dengan polisinja, anak-anaknja, pedagangpedagangnja dan sebagainja. Tetangga dan tetangganja tetanga akan pula men aksikan lakon indah, jang sudah pernah ditontonja atau akan ditontonnja dalam sendjarah mereka atau sedjarah djalan jang indah ini.

Kemudian datanglah anggota polisi dan orang kehilangan mobilnja dalam sebuah taksi. Dan tentu mereka akan turun melihat mobil itu. Aku berdiri disamping mobil itu menunggu penghormatan.

― Nah, ini dia!

Ia menjeka keringat jang mengutjur. Mobil didekatinja dan bermaksud akan membuka pintunja, tapi segera kuadang dia.

― Maaf tuan, ada perlu apa ? tanjaku.

― Ada perlu apa ? bentaknja, Kau bangsat, pentjuri, pendjahat! Kausembunji kan dimana komplotanmu he?! Perempuan jang bersama kau?

Seraja tersenjum aku melihat kepada polisi. Saat serupa ini memerlukan ketenangan dan ketjerdasan.

― Ini mobil saja, sersan, kataku. Orang ini perlu apa ?

Orang itu lalu memberontak.

― Mobilmu? Kau bangsat pentjuri, tidak bermalu!.

― Saja persilakan tuan memperhatikan. nja.


Kemudian dia berputar memeriksannja, dan diperhatikannja pula dari depan, dari belakang, lalu berhenti didepanku dan dengan gemetar ia berkata.

― Dasar pentjuri. Setjepat itu kauganti nomornja? Kaukira akan berhasil kau he?!

Pada wadjah polisi itu tampak keraguraguan, setelah didengarnja nomornja berselisih. Kalau bagi orang jang kaget karena mobil itu sudah kehilangan akal, tak ada alasanlah kalau bagi polisi djuga akan kehilangan akal.

― Soalnja mudah, kataku. Memang masuk diakal saja mengubah nomor djalan setjcpatnja. Tapi jang tak masuk akal tentu kalau saja akan mengubah nomor sasis jang sudah terukir dalam mesin. Silakan, dan kalau tuan sudi tuan ingatkan nomor itu sesudah memeriksa surat-pengemudi, kemudian buka tutup mesin itu dan tuan lihat.

Setelah dibukanja, ternjatalah nomor chasis itu djauh berbeda sekali. Ia merasa ketjewa sekali dan sadar bahwa dia telah memperkosaku, Mulailah dia minta maaf.

― Tapi bagaimana tuan sampai bisa salah begini? tanjaku kemudian. Masuk diakal tuan tidak mengenal mobil sendiri?

― Samasekali tak ada bedanja, baik dari dalam atau dari luar.

Dengan maksud hendak menjudahi perselisihan jang menjebabkan marahnja orang itu, polisi itu lalu berkata:

― Kalau persamaan antara kedua mobil sampai demikian rupa, orang itu tidak salah.

― Dapatkah tuan memaafkan saja andaikata sajapun keliru seperti dia dan terus sadja mentjatjimaki orang dan menuduhnja mentjuri?

― Tentu sadja. Benar dia terburu napsu menuduh orang sebelum diselidiki. Tapi dia dapat dimaafkan dalam kesalahan mentjari mobilnja itu.

― Kalau saja tundjukkan dimana mobil tuan itu, akan berterimakasihkah tuan kepada saja? Atau akan melandjutkan tuduhan tuan bahwa saja mentjuri?...

Sekali lagi dia minta maaf dan menekankan, bahwa dia akan berterimakasih sekali kepadaku. Dan sudah tak perlu lagi diperpandjang.

Lalu kutjeritakanlah kepadanja dan kepada polisi kisah kedjadian itu dari mula sampai achir. Kukatakan kepada mereka, bahwa kami sudah melaporkan kebiro, bahwa kami telah mendapat sebuah mobil lagi jang disangka pamili kami tadi itu adalah mobil kami sendiri, Sudah tentu se bentar lagi polisi akan datang menerimanja. Dengan demikian, selesailah sudah peristiwa itu.

Tatkala aku masuk setelah selesai dengan urusan tadi, kataku kepada isteriku :


(Bersambung ke hal, 127)
HORISON/125