minuman kudjedjalkan ketempatnja jang sudah tersedia buat seorang musafir dengan persediaan dan perlengkapannja.
Hari sudah djam dua sore tatkala kami sampai di Qanatir setengan djam kemudian. Kamu angkuti bawaan kami dan mobil kami tinggalkan didjaga oleh laki-laki jang ada ditempat itu, jang memang sudah punja mata pentjarian dengan mendjaga kendaraan. Kami melihat ketempat jang menghadap keair dan dibawah pepohonan rindang. Lalu kami menggelar permadani dan beberapa suratkabar pagi dan sore kami gelar pula. Barulah kemudian piring-piring dan mangkuk diletakkan.
Dan mulailah kami makan.
Menurut pandangan mata kami jang lapar, makanan itu tidak banjak. Kami makan berebut-rebutan, dan terasalah ledjatnja. Kemudian kami menaruh bantal diatas permadani, dan masing-masing berbaring, ada pula jang tertidur.
Setelah hampir matahari tenggelam, kami menumpang diterusan Asmun. Kemudian kami harus kembali, supaja dapat mengikuti Sjech Raf'at jang akan membatja Quran. Kami merasa dirugikan kalau tak dapat mengikutinja.
Sesudah itu, kembalilah lagi kami ketempat mobil kami tadi. Tapi mobil itu sudah tak ada lagi ditempatnja.
Tertegun aku ketika kulihat tempat itu sudah kosong. Aku tegak seperti patung. Isteriku datang dan menanjakan seraja menggojang-gojangkan bahuku. Kataku kekepadanja, setelah agak sadar aku sedikit:
― Ja...? Gojangkan terus bahuku kuat-kuat, aku perlu disadarkan, sebab aku tidak bermimpi dan ini bukan igauan kosong.
― Kemana kau pergi?
― Tjarilah aku. Tadi itu disini. Kutinggalkan ditempat ini. Sedang bumi ini tidak menundjukkan tanda-tanda, bahwa sudah belah dan menelannja. Aku tidak melihat mobil itu bersajap sehingga tidak mungkin terbang. Satu-satunja djalan jang akan mengantarkan kita kepada kenjataan, ialah harus dimulai dengan melemparkan djauh-djauh segala kemungkinan jang tak masuk akal, seperti kaulihat usahaku sekarang.
Tiba-tiba Lulu ― kerabat kami djuga ― berkata lantang: ― Sudah dibawa kabur pentjuri.
― Demi Allah, pandai kau ini nak. Tapi bagaimana dalam tempo dan ketjepatan luarbiasa itu kita tidak sadar?
― Habis, kalau tidak begitu apa artinja keistimewaannja manusia-manusia djenial itu ? kata Lulu.
― Benar. Tjerdik djuga kau, gadisku.
Tiba-tiba isteriku memutuskan dengan mengatakan:
― Memang ini waktunja kita omong omongkosong? Tidak kalian pikirkan bagaimana supaja kita bisa mendapatkannja lagi?
Ah ― kataku ― ini djuga satu hal jang djenial, tapi djenial bentuk lain, bentuk ilmiah jang tak perlu teori. Djenial jang dapat disamakan dengan napoleonisme. Dan aku tidak melihat suatu kekurangan padanja. Hendaklah kita jakin, bahwa mobil kita pasti akan kembali, insja Allah. Tinggal lagi pendapat jang ketiga.
― Ja tuanku, silahkan, kata isteriku mengedjek.
― Hai perempuan! djangan mengedjek ― kataku lagi sungguh-sungguh ― Ja, kita masih kekurangan tjara sheriokomsy.
Mereka bareng mendjerit: Hah!?
― Nauzubillah! Mengapa kalian mendjerit begitu? Ja, sherlokomsy, orang-orang tolol kalian. Kalau kalian memperhatikan djalannja otak kamu jang kosong, sesuai dengan perhatian kamu untuk menentangku, menjombongkan diri kepadaku, tidak mau mengingat budi dan djasaku, tahulah kalian, bahwa sherlokomsy itu sama de ngan Sherlock Holmes.
Sambil meletakkan tangannja dimulutku isteriku berkata:
― Baik diam sedjalah.
Kutjium tangannja dan akupun diam menaati perintahnja.
Kemudian berkata Salim saudara si Lulu:
― Sebaiknja kalau kita berpentjar.
― Logis ― kataku ― supaja pentjuri-pentjuri itu tidak ketakutan melihat kita. Sebaiknja kita djangan menundjukkan sesuatu jang akan mengedjutkan pentjuri itu, supaja kesenangannja tidak hilang.
― Saudara, tidak mau berhenti djuga berolok? kata Salim.
― Insja Allah berhenti. Silakan. Tapi idjinkanlah saja bertanja: tidakkah saudara bermaksud mengirimkan anak-anak tersendiri, sedang ibunja dan saudarania perempuan sendiri pula, dan kau sendiri pergi kemana sadja. Adapun saja, saja pulang kerumah membebaskan diri dari segala matjam ini. Kalau beginilah tudjuanma, aku setudju. Wassalamu'alaikum. Djangan susah-susah mengirimkan alamatmu.
Setelah keributan jang ditimbulkan oleh kata-kata jang tak ada salahnja itu agak reda, berkatalah Salim:
― Kau membawa anak-anak dan ini berdua ― menundjuk kepada isteriku dan saudaranja ― lalu naik taksi, tapi mampir dulu kekantor polisi. Tjuma djangan kaupertjajakan kepadanja sadja, kau sendiri harus pergi mentjari. Dan akupun mentjari pula kedjurusan lain.
― Aku mau dengan kau sadja ― kata isteriku kepada Salim. Tak sanggup aku diperolokkan terus-menerus dalam keadaan serupa ini. Dia tak dapat membedakan antara kesungguhan dan main-main. Baginja segala waktu dipergunakan untuk tertawaan. Melampaui batas dia.
― Terimakasih ― kataku ― Tjuma aku bisa mendidik perangaimu jang beku ini.
― Atas nama Tuhan, tolong diam ― tukas isteriku. Tolong, to-lo-o-o-o-ng...!
― Sekarang djuga. Sekarang, hai perempuan. Segala sesuatu ada waktunja. Memangnja sekarang ini waktu berharap? Sekarang waktu bekerdja. Mengerti tidak? Huh, dengar dulu. Pergilah kau kekantor polisi dan bebaskan aku dari segala matjam keruwetan jang tak menjenangkan hati ini. Tidak pertjaja aku semua itu akan ada gunanja. Dan sekalian bawalah isteri angkuh jang tak kenal buai ini. Sesudah itu boleh kau berbuat sesuka hatimu. Sampai bertemu lagi dirumah jang makmur nanti, insja Allah.
― Jaaaah, sudah kukatakan kepada kalian ― seru isteriku ― apa jang akan dikerdjakannja? Dia akan langsung pulang dan tak mau memaksa diri susah-susah mentjari mobilnja. Lihat sadja nanti.
― Dan biarpun aku begitu tukasku ― kaukira aku polisi atau reserse. Mau bikin apa kalau mobil sudah hilang? Aku harus lari-lari didjalan seperti orang gila ? Atau duduk diaspal menangis? Dan lagi aku punja dua anak ketjil-ketjil jang mau tidur. Bukan begitu, Mido? ― singkatan nama Abdulhamid ― dan seorang gadis jang tinggi dan bebal ini, tak berkepala diotaknja ― maksudku tidak berotak dikepalanja.
Keduanja tidak mendjawab dan meninggalkan aku. Lulu tertawa, lalu kataku:
― Begini lebih baik. Apa gunanja ber sedih dan berdukatjita? Keduanja tolol. Maaf. Mari kemari. Kita tanjai dulu tukang djaga jang tadi disini, kapan penghabisan sekali dia melihatnja. Timbul suatu pikiran, kuharap sadja memberi akibat baik dan menjenangkan.
Kemudian kami mentjari pendjaga itu. Kami djumpai dia sedang tidur dibawah pohon. Sesudah kami bangunkan, dia mengatakan, bahwa mobil itu baru sadja masih ada ditempatnja. Lalu datang seorang laki-laki dan seorang gadis membawahnja. Silelaki itu berkata ketika bertanja kepada jang lain ― kami ― bahwa dia akan pergi membeli sesuatu dan akan kembali. Kutanja arah jang akan mereka tudju. Dia menundjuk ke Qanatir dan Kairo.
Kusuruh dia mentjari taksi lekas-lekas. Dan kepada Lulu aku berkata:
― Kalau Tuhan membenarkan dugaanku,
harapan pentjuri dan gadisnja itu akan
ketjewa, sebab bensin dalam mobil itu
tidak tjukup, sekalipun buat sepuluh kilometer
sadja, Kuharap sadja dia akan salah
terka atau akan mengira, bahwa barangsiapa
jang datang ke Qanatir dengan mobil
sudah ditjukupi dengan bensin pergipulang.
Achirnja dia pertjaja begitu sadja
dengan harapan akan berhenti di Qanatir
untuk mengisi bensin lagi. Tiba-tiba mobil
HORISON/124