hui- orang yang mau bicara, Ril? —
— Biarkan saja siapa yang mau bicara. —
— Oh, kau mau seenak perutmu saja, Ril. — kata Gandhi mengomel. Kemudian ia tanya Marilyn Monroe: — Bagaimana kau tahu ada pertemuan sekarang, Marilyn? —
— Aku lihat Chairil berdiri di pundak Amir Hamzah berteriak-teriak: Halo halo halo. Gandhi mau adakan pertemuan penting. Topiknya "adu damai di dunia". Kunjungilah beramai-ramai. Penuh action, sensasi, horor, sadis, sex. Khusus untuk 21 tahun ke atas, terkecuali bayi. Aku tertarik, makanya aku datang. Begitu saja. — kata Marilyn.
— Oh, kau memang terlalu, Ril. Padahal topiknya "damai di dunia damai", bukan "adu damai di dunia". Dan undangan yang aku tandatangani ke mana saja? — kata Gandhi sambil melirik ke arah Stalin yang masih terus menggeram.
— Ada teman-temanku yang berhenti menulis setelah namanya terkenal, kini ingin lagi menulis supaya namanya tidak hilang begitu saja. Menulis buku tebal, katanya. Kepadanya aku kasih kertas undangan itu. —
— Sedari kau masih hidup kau sudah brengsek, Ril. — kata Gandhi pula tanpa menghilangkan perasaan marahnya.
— Hopla. Di sini alam barzakh, lho. Tempat penantian dosa dan pahala kita ditimbang. Dan kau harus tahu, yang akan menimbangnya bukan kau, tokh? — kata Chairil yang akan pergi, karena merasa ia tidak diperdulikan orang.
— Coba kau pikir, belum-belum mereka sudah bertengkar. Kalau mereka tidak datang, pertemuan sudah bisa dimulai dengan tertib. Coba kalau mereka diundang dengan surat, orang-orang macam itu tidak akan datang. Tahu? —
— Siapa yang kau maksud dengan orang-orang semacam itu? — Chairil bertanya.
Gandhi menyebut serentetan nama-nama:
— Baiklah aku mulai dari Stalin dulu. Ia dan Mao sedang jadi bandar rolet Rusia yang dimainkan orang-orang Vietnam. Banyak orang bergerombol di situ. Maka aku sorakan pertemuan yang kau adakan ini. Rupanya Stalin tertarik. Dan memang dia perlu hadir, pikirku. Karena dia yang paling gigih menganjurkan perdamaian dunia. Di mana-mana kaum proletarnya ia gerakkan untuk merebut perdamaian, walau dengan teror dan kekerasan sekalipun.
Perdamaian ia ibaratkan seperti merpati putih yang melayang sendirian di langit merah. Lukisan merpati itu dibuat oleh Picasso. Karenanya pula Picasso pun hadir. Kalau Mao Tse Tung, ia lagi kesepian karena kelompok empatnya belum datang. Ke mana Stalin tentu, ke mana dia. —
— Houdini ikut siapa dia? —
— Ia tidak ikut siapa-siapa. Malah negarawan dan politisi lah yang ikut dia. Untuk belajar sulap, agar pengertian bisa berubah artinya menurut sukanya pemain. —
— Marilyn Monroe? — tanya Gandhi seraya melirik kepada Stalin yang masih belum selesai berbicara.
— Alasannya ada dua. Pertama, di negeriku perempuan cantik selalu dilambangkan sebagai lambang celaka. Perusak moral, yang sama jahatnya dengan madat, maling, mabok, dan main. Perempuan cantik selalu dijadikan umpan untuk merongrong disiplin pejabat negara. Perempuan cantik selalu dicurigai sebagai perusak kedamaian rumah tangga babe-babe yang istrinya telah setua nenek-nenek. Kedua, Marilyn memang aduhai cantiknya. —
— Hitler? —
— Dialah yang paling kuat alasannya untuk hadir. Jauh lebih kuat dari para pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang puluhan orang itu jumlahnya. Tanpa adanya Hitler, orang takkan pernah yakin pada pentingnya perdamaian dunia itu. Khusus untuk Hitler aku sengaja menemuinya menyampaikan undangan. —
— Tapi aku tidak melihat Jenderal Tojo. — kata Gandhi pula.
— Dua alasannya. Pertama dia ngambek, karena waktu dia memprakarsai pertemuan, tidak seorang pun yang hadir. Kedua, ia keberatan Jenderal Marshall ikut hadir. —
— Tapi Marshall pemenang Hadiah Nobel Perdamaian. —
— Justru itu yang dia keberatan. Alasannya, masa seorang Jenderal yang memimpin pembantaian ratusan ribu manusia diberi Hadiah Nobel Perdamaian. Amerika kasih duit pada Eropah itu, kan bertujuan politik saja. Supaya Eropah tidak jadi komunis, kan? Begitu alasan Tojo. —
Gandhi melihat lagi pada Stalin. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan segera menyelesaikan bicaranya. Lalu ia edarkan matanya berkeliling. Sungguh luar biasa banyaknya orang yang hadir. Hampir semuanya ia kenal. Beberapa orang memang tidak dikenalnya. Tapi pikirnya, mungkin jadi orang-orang itu kawannya Chairil Anwar. Yaitu orang-orang terkenal di negeri Chairil, tapi menurut dunia belum. Tak apalah, pikir Gandhi selanjutnya, topik "damai di dunia damai" memang aktual sekali.
Ketika ia melihat Stalin masih belum henti-hentinya menggeram, kerisauan timbul dalam hatinya. Karena belum pertemuan dimulai, Stalin sudah omong sepanjang entah berentah. Barangkali, pikir Gandhi pula, bagi Stalin semua kesempatan hanya miliknya seorang, yang resmi atau tidak resmi, yang sah atau tidak sah.
Kemudian kata hatinya untuk melupakan kerisauannya: ah, di alam barzakh tokh waktu begitu lapang. Selama panggilan untuk antri untuk-