Lompat ke isi

Halaman:Horison 03 1987.pdf/24

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

ngan berjuta-juta Negro. —

Si kumis tebal membelintang berdiri lagi seraya berkata: — Revolusi dunia tidak memandang warna kulit, kamrad Gandhi. Jadi tidak ada alasan menolak seseorang karena kulitnya hitam. —

Si kumis pendek yang masih berdiri dengan lengannya terus mengacung ke depan, mendahului Gandhi yang akan berbicara: — Marx tidak membawa-bawa Negro dalam revolusi dunia, Herr Gandhi. Ia bicara tentang revolusi klas buruh bule melawan klas majikan bule. Negro tidak punya klas buruh. Kalau ada orang bicara tentang Negro harus ikut revolusi, itu artinya dia seorang revisionis dari ajaran Marx. Pada hal pada zamannya ia berkuasa dulu, ia menindas setiap orang dengan tuduhan sebagai kaum revisionis. Pantas saja, kuburnya dibongkar orang kemudian, karena pikirannya tidak konsisten. —

Si kumis tebal membelintang bukan seorang orator. Ia berbicara lamban dengan suara menggeram seperti buldog yang lagi tidur-tiduran melihat seekor tikus kecil mencuri sisa makanannya. Dia bicara tentang tingkah laku orang-orang kecil mencari popularitas setelah seorang pemimpin besar pergi. Orang kecil tidak akan mampu membawa gagasan besar, apalagi membangun satu tindakan besar, dua hal yang penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin besar.

Maka satu-satunya tindakan yang berarti bagi orang kecil yang menggantikan pemimpin besar itu ialah dengan menghancurkan kuburnya dan menghapus namanya dalam buku-buku sejarah. Sehingga dengan perbuatan itu, orang-orang kecil yang berkuasa itu akan kelihatan besar. — Perbuatan itu sama dengan munafik. Suatu kejahatan moral yang tak layak diampuni.

Akan tetapi jika seorang besar meninggal, lalu digantikan oleh orang besar yang sungguh-sungguh besar, peristiwanya sama dengan estafet kepemimpinan. Kewajiban kepemimpinan pengganti ialah membuat sesuatu yang lebih baik, lebih besar, yang betul-betul spektakular. Maka pengganti orang besar itu, pada dasarnya adalah tokoh yang lebih besar.

Tapi kalau penggantinya orang kecil, kebesaran orang besar yang digantikannya itu dihancurkannya. Akibatnya pamor kaum proletar merosot cepat sekali di seluruh dunia. Untung masih ada Mao Tse Tung. —

Seorang yang berwajah klimis, berambut hitam kasar serta bermata sipit menyeletuk di kejauhan: — Tapi menggantiku pun menggerogoti gagasanku setelah aku mati. —

Dan dia itu, si kumis pendek itu, yang ngaku-ngaku bangsa yang superior itu, malah menyiksa bangsanya sendiri. Sehingga bangsa dan negaranya terbelah dua. Bangsanya tidak peduli di mana kuburnya, malah bangsanya itu merasa malu telah melahirkan seorang seperti dia itu, kamrad Gandhi. —

Dengan berteriak-teriak seperti waktu mudanya ketika ia mengerahkan bangsanya memberontak melawan kekuasaan tirani di Afrika Selatan, Gandhi berkata sebelum si kumis pendek bicara lagi: — Nah, saudara-saudara. Sekretaris kita telah datang. Pertemuan sudah bisa dimulai. —

Seketika suara desisan keluar dari seluruh mulut menyuruh setiap orang agar tenang. Tapi seorang laki-laki yang berambut tipis dan bermata bulat berkata pada teman di dekatnya: — Harry, suasana ini bisa kulukis dengan gaya kubisme. Tapi kalau kutukar letak kumis Stalin pada bibir Hitler, dan kumis Hitler pada bibir Stalin, lukisan itu menjadi karikatur. Aku tak suka karikatur. Tapi kau, sebagai pemain sunglap terbesar tentu bisa melakukannya, kiraku. —

— Sudahlah, Pablo, kau kan tahu, yang kusunglap kan diriku sendiri. Bukan orang lain. Sama dengan kau, yang kau lukis kan pikiranmu. Bukan pikiran orang lain. — kata Houdini kepada temannya yang tak lain dari Picasso.

Chairil Anwar yang sejak datang telah duduk di sebelah kiri Gandhi, lalu beralih ke sebelah kanan selagi si berkumis tebal membelintang berbicara.

— Mengapa pindah? — tanya seorang perempuan berambut pirang, bermata mengantuk dan bermulut kecil yang nyaris membuka.

— Dua alasannya. — kata Chairil sambil menggeser duduknya agar merapat dengan perempuan itu. Pertama, di negeriku yang duduk di sebelah kanan dipandang lebih mulia. Bukan karena alasan etiket, melainkan karena alasan protokoler. — Tahu kau apa bedanya itu? —

Perempuan itu menggeleng.

— Yang satu adat dan yang lainnya aturan. Dan kedua, biar aku bisa duduk dekat cewek cantik seperti kau, Tuti. —

— Namaku bukan Tuti. Tapi Marilyn Monroe. — kata perempuan itu.

— Dari mana saja kau, Ril? — tanya Gandhi sekali lagi, setelah bertanya sambil melihat ke kiri. Akan tetapi karena Chairil tidak ada, ia menoleh ke kanan di mana dilihatnya Chairil sedang asyik berbicara pada Marilyn Monroe.

— Lama aku di tempat Maria Callas. Asyik melihat dia lagi main melawan Kennedy bersaudara. — jawab Chairil Anwar.

Sambil menggoyang-goyang tangan Chairil, Marilyn bertanya: — Main apa mereka, Ril? —

— Petak umpet. —

— Ah, masih seperti dulu saja mereka. Suka memetak bumi, lalu melompat-lompat di dalamnya. — kata Marilyn memberengut.

Gandhi menoleh lagi pada Chairil setelah ia melihat Stalin belum akan berhenti berbicara: — Daftar undangan mana, Ril? —

— Tak ada. —

— Lho, bagaimana bisa diketa-